Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Palu Arit vs Bendera Tauhid: Standar Ganda Ancaman Ideologi terhadap Pancasila di Indonesia

Nalarmerdeka.com – Dalam ruang publik kita, simbol bukan sekadar gambar; ia adalah pemicu adrenalin. Lihatlah bagaimana reaksi aparat dan massa ketika selembar kaus bergambar Palu Arit ditemukan. Penangkapan kilat, interogasi, hingga label "bahaya laten" langsung menyala.

Namun, pemandangan berbeda terjadi ketika bendera bertuliskan kalimat suci yang dalam konteks tertentu dibawa oleh gerakan transnasional berkibar di jalanan. Ada jeda, ada ragu, dan seringkali ada "pemakluman" atas nama ekspresi keagamaan.

Padahal, jika kita menanggalkan bungkusnya, keduanya membawa misi yang identik: Mengganti kesepakatan bersama yang bernama Indonesia.

Bungkus yang Berbeda, Isi yang Serupa

Kita perlu jujur pada sejarah. Palu Arit adalah identitas komunisme dan Marxisme-Leninisme. Indonesia punya luka menganga pada 1948 dan 1965 sebuah trauma kolektif yang membuat negara mengambil posisi saklek: ideologi ini terlarang, titik. Pasal 188 KUHP Baru menjadi stempel hukum bahwa hantu kiri tidak boleh bangkit lagi.

Di sisi lain, bendera bertuliskan kalimat tauhid terutama yang diadopsi oleh gerakan khilafah memiliki rekam jejak yang tak kalah politis. Ia pernah menjadi panji gerakan yang secara terang-terangan ingin menghapus sistem negara-bangsa (nation-state) dan menggantinya dengan kekhalifahan global.

Kita mencatat pembubaran ormas pengusungnya pada 2017 dan rentetan aksi teror yang menggunakan narasi serupa sebagai bahan bakar. Pertanyaannya, mengapa standar kita berbeda?

Bukan Soal Kain, Tapi Proyek Kekuasaan

Masalahnya bukan terletak pada kainnya. Bukan pada estetika gambarnya, dan tentu saja bukan pada kalimat sucinya. Kalimat tauhid adalah puncak spiritualitas umat Islam, namun ketika ia ditarik ke jalanan untuk merobohkan tiang-tiang konstitusi, ia telah bertransformasi menjadi proyek politik.

Keduanya berbahaya bukan karena goresan tintanya, melainkan karena eksklusivisme ideologis yang dibawanya. Keduanya sama-sama menawarkan sistem alternatif yang menolak pluralisme Pancasila. Bedanya, yang satu dibenci karena memori kelam masa lalu, sementara yang lain seringkali mendapat "suaka" karena berlindung di balik jubah agama.

Pancasila: Final atau Hanya Alat?

Jika kita sepakat bahwa Pancasila adalah titik temu yang final, maka seharusnya semua ideologi yang berniat menggantinya diperlakukan dengan standar yang sama. Kita tidak bisa hanya waspada pada "bahaya kiri" sambil menutup mata pada "bahaya kanan" yang merongrong dari dalam masjid dan kampus-kampus.

Menolak ideologi transnasional yang menumpang pada simbol agama bukan berarti menistakan agama tersebut. Justru, itu adalah upaya menjaga kesucian agama agar tidak dijadikan kendaraan bagi syahwat politik kekuasaan.

Konsistensi Bernegara

Ketakutan kita terhadap Palu Arit adalah hasil indoktrinasi sejarah yang berhasil. Namun, keberanian kita untuk bersikap kritis terhadap simbol politik berbaju agama adalah ujian kedewasaan dalam bernegara.

Negara tidak boleh tebang pilih. Jika sebuah simbol digunakan untuk memobilisasi massa guna meruntuhkan NKRI, maka tak peduli apa warnanya atau apa tulisannya, ia adalah ancaman.

Pancasila hanya akan benar-benar sakti jika ia ditegakkan dengan keadilan yang buta warna, bukan dengan standar ganda yang hanya tajam ke kiri tapi tumpul ke kanan.

Penulis: Maulidin 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Palu Arit vs Bendera Tauhid: Standar Ganda Ancaman Ideologi terhadap Pancasila di Indonesia
  • Palu Arit vs Bendera Tauhid: Standar Ganda Ancaman Ideologi terhadap Pancasila di Indonesia
  • Palu Arit vs Bendera Tauhid: Standar Ganda Ancaman Ideologi terhadap Pancasila di Indonesia
  • Palu Arit vs Bendera Tauhid: Standar Ganda Ancaman Ideologi terhadap Pancasila di Indonesia
  • Palu Arit vs Bendera Tauhid: Standar Ganda Ancaman Ideologi terhadap Pancasila di Indonesia
  • Palu Arit vs Bendera Tauhid: Standar Ganda Ancaman Ideologi terhadap Pancasila di Indonesia
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad