Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Stoikisme di Era Modern: Filsafat Ketangguhan atau Cara Halus Menerima Penderitaan?

Patung Marcus Aurelius, filsuf stoik dan kaisar Romawi, yang ajarannya tentang ketenangan batin kembali populer di era modern. / Foto: Chatgpt / Nalarmerdeka 

Nalarmerdeka.com – Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh ketidakpastian, dan sering kali terasa tidak adil, banyak orang mencari pegangan untuk bertahan. Sebagian menemukannya dalam stoikisme—sebuah filsafat kuno yang kini kembali populer, dikutip di media sosial, buku motivasi, hingga ruang-ruang diskusi anak muda.

Stoikisme menjanjikan ketenangan. Ia menawarkan kemampuan untuk tetap tegak, bahkan ketika dunia runtuh di hadapan kita. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah stoikisme benar-benar membebaskan manusia, atau justru diam-diam mengajarkan kita untuk menerima penderitaan tanpa perlawanan?

Stoikisme lahir di dunia yang juga tidak stabil. Filsafat ini dirintis oleh Zeno dari Citium pada abad ke-3 sebelum masehi, di Athena, ketika dunia Yunani sedang mengalami krisis politik dan identitas. Dalam situasi itu, stoikisme tidak menjanjikan perubahan dunia luar, tetapi perubahan dunia batin. Premisnya sederhana: ada hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan keduanya.

Ajaran ini kemudian dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Epictetus, seorang mantan budak yang mengajarkan bahwa kebebasan sejati tidak ditentukan oleh kondisi eksternal, melainkan oleh sikap batin. Bahkan seorang budak, menurutnya, bisa lebih merdeka daripada seorang tuan, jika ia mampu menguasai dirinya sendiri.

Berabad-abad kemudian, ajaran yang sama dipegang oleh Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi. Dalam catatan pribadinya, ia menulis bukan tentang bagaimana menguasai dunia, tetapi bagaimana menguasai dirinya sendiri. Ia mengingatkan dirinya untuk tidak marah, tidak mengeluh, dan menerima kenyataan sebagaimana adanya.

Di sinilah stoikisme menjadi menarik—dan sekaligus problematis. Di satu sisi, stoikisme memberi kekuatan. Ia membantu manusia menghadapi kehilangan, kegagalan, dan ketidakpastian. Dalam dunia modern, ketika banyak orang mengalami kecemasan, tekanan ekonomi, dan krisis identitas, stoikisme terasa seperti pelindung batin. Ia mengajarkan bahwa kita tidak harus hancur hanya karena dunia di luar kita berantakan.

Namun di sisi lain, stoikisme modern sering kali mengalami penyempitan makna. Ia berubah dari filsafat kebijaksanaan menjadi alat bertahan hidup. Banyak orang menggunakannya bukan untuk memahami hidup, tetapi untuk menahan sakit. Stoikisme, yang awalnya mengajarkan kebebasan batin, kini kadang digunakan untuk membenarkan kepasrahan sosial. Ketika seseorang diperlakukan tidak adil, ia diminta untuk “tetap tenang”. Ketika seseorang lelah oleh sistem yang eksploitatif, ia diminta untuk “menerima”. Ketika seseorang menderita, ia diajarkan untuk “tidak bereaksi”. Ketenangan, dalam konteks ini, bisa berubah menjadi bentuk baru dari kepatuhan.

Masalahnya bukan pada stoikisme itu sendiri, melainkan pada bagaimana ia dipahami. Stoikisme tidak pernah mengajarkan manusia untuk mencintai ketidakadilan. Ia hanya mengajarkan bahwa kemarahan yang tidak terkendali akan merusak diri sendiri. Stoikisme tidak melarang perlawanan, tetapi ia menuntut kejernihan sebelum bertindak.

Sayangnya, di dunia modern, kejernihan sering digantikan oleh kepasrahan. Banyak orang berhenti pada tahap menerima, tetapi tidak pernah sampai pada tahap memahami. Mereka menenangkan diri, tetapi tidak pernah mempertanyakan mengapa mereka harus menderita sejak awal.

Dalam situasi seperti ini, stoikisme bisa menjadi pedang bermata dua. Ia bisa membebaskan, tetapi juga bisa membungkam. Ia membebaskan ketika membantu manusia berdiri kembali setelah jatuh. Tetapi ia membungkam ketika membuat manusia berhenti bermimpi tentang dunia yang lebih adil.

Padahal, para filsuf stoik sendiri bukanlah orang-orang yang pasif. Mereka hidup di dunia nyata, menghadapi konflik, kekuasaan, dan krisis. Stoikisme bagi mereka bukan pelarian, melainkan fondasi. Fondasi untuk tetap manusia, bahkan ketika dunia menjadi tidak manusiawi.

Mungkin, di sinilah stoikisme menemukan maknanya yang paling jujur. Stoikisme bukan tentang tidak merasakan apa-apa. Ia tentang merasakan tanpa dikuasai. Ia bukan tentang menyerah pada dunia, tetapi tentang tidak kehilangan diri sendiri di dalamnya.

Di era modern, tantangan terbesar manusia bukan hanya dunia yang kacau, tetapi juga dirinya sendiri. Kecemasan, kemarahan, dan ketakutan sering kali lebih menghancurkan daripada peristiwa itu sendiri. Stoikisme menawarkan jalan keluar—bukan dengan mengubah dunia luar, tetapi dengan memperkuat dunia dalam.

Namun, stoikisme juga harus diimbangi dengan kesadaran kritis. Tidak semua penderitaan harus diterima. Tidak semua ketidakadilan harus dimaklumi. Ada saatnya manusia harus tenang, tetapi ada juga saatnya manusia harus bersuara. Karena pada akhirnya, ketenangan bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah titik awal. Titik awal untuk memahami hidup. Dan, jika perlu, untuk mengubahnya.

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Stoikisme di Era Modern: Filsafat Ketangguhan atau Cara Halus Menerima Penderitaan?
  • Stoikisme di Era Modern: Filsafat Ketangguhan atau Cara Halus Menerima Penderitaan?
  • Stoikisme di Era Modern: Filsafat Ketangguhan atau Cara Halus Menerima Penderitaan?
  • Stoikisme di Era Modern: Filsafat Ketangguhan atau Cara Halus Menerima Penderitaan?
  • Stoikisme di Era Modern: Filsafat Ketangguhan atau Cara Halus Menerima Penderitaan?
  • Stoikisme di Era Modern: Filsafat Ketangguhan atau Cara Halus Menerima Penderitaan?
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad