Nalarmerdeka.com – Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, mendorong kembali pengembangan tanaman sukun di kawasan transmigrasi sebagai bagian dari upaya diversifikasi pangan nasional. Ia mengingatkan bahwa pemerintah pernah menjalankan program serupa pada 1990-an.
Menurutnya, pada 1995 Departemen Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan pernah melaksanakan program sukunisasi di era Menteri Siswono Yudo Husodo. Program tersebut diuji coba dengan menanam pohon sukun di pekarangan rumah warga transmigrasi.
Dengan kehadiran Bapak-Ibu mengingatkan kembali program itu dan perlu dikaji kembali untuk kemungkinan bisa kita kembangkan sukun di kawasan transmigrasi," kata Viva Yoga.
Pernyataan itu disampaikan saat menerima audiensi dari Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera di Gedung C, kompleks kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Bidang Kerjasama dan Pengembangan Bisnis Joediantoro, Sekretaris Umum Riyan Sumindar, dan jajaran pengurus yayasan.
Viva Yoga menilai sukun memiliki banyak keunggulan, baik dari sisi pertanian maupun ekonomi. Tanaman ini dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan, tidak memerlukan pupuk dan pestisida pada masa awal tanam, serta memiliki kandungan karbohidrat yang setara dengan beras. Selain itu, sukun juga dinilai berperan dalam penyimpanan karbon.
Ia menyatakan dukungannya terhadap pengembangan sukun karena potensinya sebagai alternatif pangan. “Saya setuju untuk kembali menanam sukun sebab kehadiran tanaman ini mendukung diversifikasi pangan,” ujarnya. Bahkan, ia menegaskan, "Sukun merupakan tanaman pangan masa depan.”
Ia menjelaskan, saat ini terdapat 154 kawasan transmigrasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Berbagai komoditas telah dikembangkan di wilayah tersebut, mulai dari padi, jagung, singkong, porang, ubi, hingga sagu, serta sektor perkebunan, perikanan, dan pariwisata.
Meski demikian, ia mengakui bahwa sukun belum menjadi komoditas utama di kawasan transmigrasi. “Komoditas sukun belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat, ada tapi belum banyak. Tidak menjadi program, sifatnya hanya personal,” katanya.
Menurutnya, pengembangan sukun dapat mendukung swasembada pangan nasional karena dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif. “Sukun dapat menjadi salah satu alternatif pangan,” tambahnya.
Ia juga menilai peluang pengembangan sukun masih sangat terbuka, tidak hanya untuk kebutuhan pangan tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sukun dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti tepung, makanan ringan, beras analog, makanan bayi, mie instan, hingga pakan ternak.
Viva Yoga mendorong yayasan untuk terus melakukan sosialisasi dan memperluas pengembangan sukun. Ia mencontohkan, pada masa lalu masyarakat belum memahami nilai ekonomi kelapa sawit, namun kini menjadi salah satu komoditas utama. “Ke depan masyarakat juga akan memilih sukun sebagai komoditas unggulan,” ujarnya.
Redaktur: Muhammad Jazuli

