Literasi Digital dan Silaturahim Online: Pesan Anggota DPRD Jatim untuk Guru PAUD

Nalarmerdeka.com – Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis mengoperasikan perangkat. Ia adalah kecakapan untuk memilah, memahami, dan menyebarkan informasi secara bertanggung jawab di tengah arus deras konten digital yang tidak selalu dapat dipercaya. Kesadaran inilah yang mendorong Dra. Hj. Khofidah, anggota DPRD Jawa Timur, untuk menggelar sosialisasi bertema "Transformasi Digital dalam Mempererat Silaturahim dan Literasi Keagamaan" pada Sabtu, 25 April 2026, di Grand Kanjuruhan Hotel, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Pentingnya Literasi Digital di Era Kini

Sosialisasi ini menghadirkan dua pemateri utama. Pemateri pertama, Dr. Sutomo, S.Ag., M.Sos., memaparkan pengertian dasar literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari media digital secara bijak. Ia menegaskan bahwa masyarakat yang berliterasi digital bukan sekadar pengguna media sosial, melainkan juga penjaga kebenaran informasi di lingkungannya.

Dr. Sutomo juga menyoroti dampak psikologis dari konsumsi media sosial yang berlebihan. Ketika seseorang terus-menerus menyimak gaya hidup orang lain di platform digital, potensi kebahagiaannya justru cenderung menurun. Pesan ini relevan bagi para guru PAUD yang hadir, yang setiap hari berhadapan dengan dunia digital sekaligus bertugas membentuk karakter generasi sejak usia dini.

Transformasi Digital dan Ruang Keagamaan

Dalam pemaparannya, Dr. Sutomo menjelaskan bahwa transformasi digital merupakan perubahan menyeluruh dalam cara manusia berkomunikasi, belajar, dan berinteraksi melalui teknologi, termasuk internet, media sosial, dan berbagai platform daring. Dalam konteks keagamaan, perubahan ini membuka ruang baru bagi penyebaran ilmu, dakwah, serta komunikasi lintas komunitas yang lebih luas dan efisien.

Sebagai contoh konkret, kegiatan seperti halal bihalal, pengajian, dan silaturahmi kini dapat dilaksanakan melalui Google Meet atau Zoom tanpa harus mengorbankan anggaran besar. Format ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga memungkinkan lebih banyak orang untuk berpartisipasi. Inilah yang disebut sebagai silaturahim digital, yakni hubungan sosial yang terjalin dan dipelihara melalui sarana daring.

Namun demikian, Dr. Sutomo mengingatkan bahwa media sosial tetap mengandung risiko. Jika tidak dimanfaatkan dengan bijak, pengguna rentan terjerumus pada konten negatif, informasi palsu, atau polarisasi. Oleh sebab itu, literasi digital yang bernilai harus seiring dengan penguatan akhlak dan etika bermedia sosial.

Kartini Masa Kini di Balik Podium

Bertepatan dengan momentum Hari Kartini yang diperingati beberapa hari sebelumnya pada 21 April 2026, Dra. Hj. Khofidah mengajak seluruh peserta hadir mengenakan kebaya sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat perjuangan perempuan. Bagi beliau, guru PAUD adalah wujud nyata Kartini masa kini, sosok yang mendidik dengan hati dan menyalakan cahaya pengetahuan sejak usia paling dini.

Sebagai pemateri kedua sekaligus penyelenggara, Dra. Hj. Khofidah berbagi cerita singkat tentang perjalanannya hingga menjadi anggota DPRD Jawa Timur. Pesan yang beliau sampaikan sederhana namun tegas: tidak ada perempuan yang tidak mampu menjadi seorang pemimpin atau pejabat publik. Perempuan harus berani, tangguh, dan percaya diri atas kapasitas yang dimilikinya.

Beliau juga menekankan bahwa profesi guru adalah kedudukan yang mulia. Seseorang yang memuliakan perannya sebagai pendidik akan dimuliakan pula oleh lingkungannya. Karena itu, para guru PAUD didorong untuk menjaga perilaku bermedia sosial, termasuk berhati-hati dalam berkomentar dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.

Bijak Bermedia Sosial, Rukun Bermasyarakat

Dra. Hj. Khofidah juga menekankan bahwa kebijaksanaan dalam bermedia sosial tidak cukup hanya diukur dari seberapa lama seseorang menahan diri dari gawai. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Termasuk dalam hal ceramah keagamaan dari platform digital, masyarakat diajak untuk terlebih dahulu mengenal latar belakang dan rekam jejak mubaligh atau mubaligah yang menyampaikannya, agar terhindar dari pemahaman yang keliru.

Sosialisasi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, penyerahan simbolis materi kepada peserta, dan makan bersama. Kehadiran IGPAUD MNU Gondanglegi sebagai peserta utama menjadikan kegiatan ini bukan sekadar forum informasi, melainkan juga ruang silaturahmi nyata antara pemangku kebijakan dan para pendidik di tingkat akar rumput.

Ketika teknologi digital dimanfaatkan secara positif untuk mempererat silaturahmi dan memperluas literasi keagamaan, ia tidak lagi sekadar alat komunikasi. Ia menjadi jembatan antarnilai: antara modernitas dan tradisi, antara kemajuan dan kebijaksanaan. Tantangan sesungguhnya bukan pada teknologinya, melainkan pada kesiapan kita untuk menggunakannya dengan penuh tanggung jawab.

Penulis: Maghfiroh (Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Al-Qolam Malang)

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Literasi Digital dan Silaturahim Online: Pesan Anggota DPRD Jatim untuk Guru PAUD
  • Literasi Digital dan Silaturahim Online: Pesan Anggota DPRD Jatim untuk Guru PAUD
  • Literasi Digital dan Silaturahim Online: Pesan Anggota DPRD Jatim untuk Guru PAUD
  • Literasi Digital dan Silaturahim Online: Pesan Anggota DPRD Jatim untuk Guru PAUD
  • Literasi Digital dan Silaturahim Online: Pesan Anggota DPRD Jatim untuk Guru PAUD
  • Literasi Digital dan Silaturahim Online: Pesan Anggota DPRD Jatim untuk Guru PAUD
Posting Komentar