Nalarmerdeka.com – Menjelang dua momentum besar di awal bulan Mei Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kita dihadapkan pada ruang refleksi yang mendalam tentang arah Dalam momentum ini seharusnya mahasiswa untuk tidak hanya memaknai kedua peringatan ini sebagai seremoni tahunan, tetapi sebagai panggilan moral untuk bergerak, berpikir kritis, dan mengambil peran nyata dalam kehidupan sosial di sekitar kita.
May Day bukan sekadar milik kaum buruh, melainkan milik seluruh elemen masyarakat yang memperjuangkan keadilan. Ia lahir dari sejarah panjang perjuangan melawan ketimpangan, penindasan, dan eksploitasi tenaga kerja. Dalam konteks hari ini, perjuangan itu belum usai. Masih banyak lagi pekerja yang menghadapi upah tidak layak, minimalnya jaminan sosial, hingga kondisi pekerjaan yang jauh dari kata manusiawi. Di sinilah mahasiswa harus hadir sebagai penyambung suara, dan sebagai agen perubahan yang tidak memiliki keberpihakan pada ketidakadilan.
Mahasiswa bukan menara gading yang terpisah dari realitas sosial. Kita adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Apa yang dirasakan oleh buruh hari ini, besar kemungkinan akan kita rasakan di masa depan. Oleh karena itu, memperjuangkan setiap hak dari buruh sejatinya adalah memperjuangkan masa depan kita sendiri. Solidaritas bukan hanya slogan, tetapi harus menjadi sikap dan tindakan nyata.
Sementara itu, Hari Pendidikan Nasional mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun bangsa yang beradab dan berkeadilan. Pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, kesadaran kritis, dan keberanian untuk berpihak pada kebenaran. Dalam semangat Ki Hadjar Dewantara, pendidikan harus mampu memerdekakan manusia membebaskan dari kebodohan, ketakutan, dan ketidakberdayaan.
Namun, kita juga perlu jujur melihat bahwa dunia pendidikan kita masih menghadapi banyak masalah dan tantangan. Ketimpangan akses, komersialisasi pendidikan, hingga hilangnya esensi pembelajaran yang memanusiakan seringkali menjadi persoalan yang nyata. Oleh karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk terus mengawal arah pendidikan agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat.
Menghubungkan May Day dan Hardiknas, kita menemukan satu benang merah yang kuat: keadilan sosial. Pendidikan yang baik akan melahirkan generasi pekerja yang sadar hak dan kewajibannya, kritis terhadap ketimpangan, serta mampu berkontribusi secara nyata bagi bangsa. Sebaliknya, dunia kerja yang adil akan menjadi ruang bagi ilmu dan nilai-nilai pendidikan untuk tumbuh dan berkembang.
Momentum ini seharusnya menjadi titik temu antara intelektualitas dan perjuangan. Kita tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kita harus mampu menjembatani antara teori dan realitas, antara gagasan dan tindakan.
Maka dengan itu kita bisa menjadikan momen ini sebagai refleksi bersama: sudah sejauh mana kita berkontribusi? Sudahkah kita menggunakan ilmu yang kita miliki untuk kepentingan masyarakat luas? Atau justru kita masih terjebak dalam zona nyaman yang menjauhkan kita dari realitas sosial?
Dengan momentum May Day, kita suarakan keadilan bagi seluruh pekerja. Dengan Hardiknas, kita perkuat komitmen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan dengan semangat mahasiswa, kita satukan langkah untuk menciptakan masa depan yang lebih baik adil, setara, dan bermartabat.
Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!
Penulis : Muhammad Syuhada’ (Presma Universitas Al Qolam)
