![]() |
| Husni Kurniawan, Founder GARDANTARA. |
Nalarmerdeka.com – Founder organisasi kepemudaan GARDANTARA (Garis Pemuda Nusantara), Husni Kurniawan, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia. Menurutnya, ketidakadilan struktural masih mengakar kuat di sektor ini dan berdampak langsung pada kualitas generasi penerus bangsa. Ia mendesak pemerintah untuk tidak lagi menunda tindakan konkret.
Tiga Isu yang Terabaikan
Dalam pernyataannya yang disampaikan dari Pontianak, Husni mengidentifikasi tiga persoalan mendasar yang dinilai belum mendapat respons serius dari negara.
Persoalan pertama menyangkut status Raudhatul Athfal negeri. Husni menilai bahwa hingga saat ini belum ada satu pun RA yang berstatus negeri, padahal negara telah berhasil membangun berbagai program pendidikan berskala besar di sektor lain. Bagi Husni, absennya RA Negeri bukan sekadar kekosongan administratif, melainkan cerminan nyata dari ketimpangan kebijakan yang merugikan lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Persoalan kedua berkaitan dengan lulusan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Husni menyoroti minimnya afirmasi dalam proses rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil bagi para lulusan PIAUD. Ketidaksinkronan kualifikasi dalam seleksi ASN membuat kompetensi mereka sering kali tidak diakui, padahal spesialisasi yang mereka miliki sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan PAUD secara nasional.
Revisi UU Sisdiknas yang Jalan di Tempat
Persoalan ketiga yang diangkat Husni adalah mandeknya proses revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Ia berpendapat bahwa regulasi yang berlaku saat ini sudah tidak lagi mampu merespons dinamika dan kebutuhan pendidikan masa kini. Setiap penundaan dalam proses revisi tersebut, menurut Husni, berarti negara sedang menunda investasi terpenting bagi masa depan sumber daya manusia Indonesia.
Fondasi yang Tidak Boleh Rapuh
Husni menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini bukan isu pinggiran. Ia merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas manusia Indonesia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global. Mengabaikan PAUD, dalam pandangan Husni, sama halnya dengan mempertaruhkan masa depan seluruh bangsa.
Ia berharap pemerintah segera hadir dengan kebijakan yang adil, berpihak, dan terukur, bukan sekadar pernyataan tanpa tindak lanjut.
Pertanyaan yang Perlu Kita Renungkan
Kritik Husni Kurniawan mengingatkan kita pada satu pertanyaan mendasar: seberapa serius negara memperlakukan pendidikan anak usia dini sebagai prioritas, bukan sekadar wacana? Ketika regulasi stagnan, rekrutmen tidak berpihak, dan lembaga keagamaan dibiarkan tanpa pengakuan setara, maka yang dipertaruhkan bukan hanya angka statistik pendidikan, melainkan masa depan jutaan anak Indonesia yang sedang tumbuh hari ini.
Penulis: Husni Kurniawan
Redaktur: Muhammad Jazuli
