Nalarmerdeka.com – Mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang kembali menapakkan langkah pengabdian di tengah masyarakat. Pada Rabu, 6 Mei 2026, Kelompok 7 Kuliah Kerja Nyata Tematik resmi memulai masa bakti di Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Kehadiran mereka disambut hangat oleh perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat dalam sebuah upacara pembukaan yang berlangsung khidmat di balai desa.
Penerimaan yang Penuh Makna
Kepala Desa Banjarejo, Johan, menyambut kehadiran para mahasiswa beserta Dosen Pembimbing Lapangan dengan penuh antusias. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar kehadiran kaum intelektual muda ini mampu memberi kontribusi nyata, mulai dari penguatan administrasi desa, pengembangan ekonomi kreatif, hingga peningkatan literasi masyarakat yang selaras dengan potensi lokal Ngantang.
Turut hadir dalam prosesi tersebut tokoh agama sekaligus Syuriyah NU Ranting Banjarejo, KH. Suroso. Kehadiran beliau menjadi sinyal bahwa kegiatan ini tidak semata-mata dipandang sebagai kewajiban akademik, melainkan juga sebagai bentuk syiar sosial yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. KH. Suroso secara khusus menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi bagi para mahasiswa yang akan berinteraksi langsung dengan struktur masyarakat perdesaan yang kental dengan nuansa religius.
Filosofi Mengabdi: Berpijak di Bumi, Menjunjung Langit
Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok 7 menyampaikan pesan filosofis yang menjadi landasan etis seluruh mahasiswa selama bertugas. Pepatah "Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung" disampaikan bukan sekadar hiasan kata, melainkan sebagai pedoman hidup bermasyarakat yang harus dipegang teguh. Mahasiswa diingatkan untuk senantiasa menghormati adat istiadat setempat dan menjaga kepekaan sosial dalam setiap langkah implementasi program kerja mereka.
KH. Suroso membenarkan prinsip tersebut. Beliau mengingatkan bahwa kehidupan desa memiliki dinamika yang jauh berbeda dari suasana kampus. Integritas dan etika perilaku menjadi modal paling berharga bagi mahasiswa untuk meraih kepercayaan warga, sehingga setiap program yang telah dirancang dapat diterima dan diserap dengan baik oleh masyarakat.
Tujuh Indikator Maqoshidu Syariah sebagai Kerangka Kerja
Yang membedakan KKN-T Kelompok 7 ini dari program serupa adalah pendekatannya yang menggunakan tujuh indikator Maqoshidu Syariah sebagai kerangka tematik pengabdian. Pendekatan ini menempatkan nilai-nilai perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, harta, kehormatan, dan lingkungan sebagai tolok ukur keberhasilan program kerja. Dengan kerangka ini, pengabdian tidak hanya diukur dari output fisik atau administratif, tetapi dari sejauh mana ia menyentuh kebutuhan mendasar manusia secara holistik.
Hal ini menjadikan Desa Banjarejo bukan sekadar lokasi praktik lapangan, melainkan laboratorium sosial yang hidup, tempat ilmu pengetahuan diuji relevansinya dalam kehidupan nyata yang penuh kompleksitas.
Doa dan Harapan untuk Keberlanjutan
Seremoni pembukaan diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Banjarejo, Lamin. Dalam untaian doanya, ia memohon keberkahan dan kelancaran bagi seluruh rangkaian kegiatan KKN-T hingga masa tugas berakhir. Harapan besar pun disematkan agar kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan tokoh masyarakat ini tidak berhenti saat program usai, melainkan meninggalkan warisan intelektual yang terus berdampak bagi masa depan Desa Banjarejo.
Sinergitas yang terjalin sejak hari pertama ini menjadi modal awal yang menjanjikan. Kini saatnya kata-kata dalam upacara pembukaan itu dibuktikan melalui kerja nyata di lapangan.
Sumber: Rilis Kelompok 7 KKN-T Universitas Al-Qolam Malang 2026
Redaktur: Muhammad Jazuli
