Scroll untuk melanjutkan membaca

Berhenti Menyalahkan Algoritma — Kita yang Memilih untuk Diam

  

Ilustrasi editorial bergaya minimalis menampilkan sebuah tangan besar yang mengendalikan ponsel seperti boneka marionet, sementara kerumunan orang menatap layar mereka.
Ilustrasi editorial dari artikel yang menggambarkan bagaimana pilihan untuk pasif dan diam sering kali lebih menentukan daripada algoritma itu sendiri. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli 

Nalarmerdeka.com – Setiap kali ada diskusi tentang polarisasi politik, penyebaran hoaks, atau kualitas diskursus publik yang memburuk, selalu ada satu tersangka utama yang disebut: algoritma. TikTok yang addictif. Instagram yang mendistorsi realita. YouTube yang selalu merekomendasikan konten yang lebih ekstrem.

Algoritma memang bermasalah. Tapi kita sedang menggunakannya sebagai alibi.

Algoritma Bukan Aktor — Ia Cermin

Mari kita mulai dengan sesuatu yang tidak nyaman: algoritma platform media sosial tidak menciptakan preferensi kita. Ia memperkuat preferensi yang sudah ada.

Sistem rekomendasi bekerja berdasarkan sinyal perilaku — apa yang kamu klik, berapa lama kamu menonton, apa yang kamu like, apa yang kamu bagikan. Ia tidak punya agenda ideologis. Ia tidak ingin kamu menjadi lebih bodoh atau lebih marah. Ia hanya ingin kamu tetap di platform selama mungkin — dan ia belajar dari perilakumu tentang cara terbaik untuk melakukan itu.

Kalau kamu lebih banyak menghabiskan waktu menonton konten yang mengonfirmasi apa yang sudah kamu percaya, algoritma akan memberimu lebih banyak konten seperti itu. Bukan karena konspirasi — tapi karena itulah yang datamu katakan kepada sistem.

Algoritma adalah cermin yang sangat canggih. Dan kita tidak suka dengan apa yang kita lihat di dalamnya — jadi kita menyalahkan cerminnya.

Filter Bubble: Lebih Kompleks dari yang Dikira

Konsep filter bubble — gagasan bahwa algoritma mengurung kita dalam gelembung informasi yang hanya mengonfirmasi keyakinan kita — sangat populer dan sangat sering disederhanakan.

Penelitian empiris tentang filter bubble menunjukkan gambaran yang lebih nuanced. Eli Pariser yang mempopulerkan istilah ini pada 2011 memang menggambarkan masalah nyata. Tapi berbagai penelitian berikutnya menemukan bahwa paparan terhadap pandangan yang berbeda di media sosial sebenarnya lebih tinggi daripada di kehidupan nyata — karena kita memiliki kontrol lebih besar atas dengan siapa kita berinteraksi secara offline.

Yang lebih bermasalah bukan kurangnya paparan terhadap pandangan berbeda — tapi cara kita memproses paparan itu. Ketika kita memang melihat konten yang bertentangan dengan keyakinan kita, respons paling umum bukan pembaruan keyakinan. Ia adalah penolakan, penghinaan, atau diabaikan begitu saja.

Echo Chamber Paling Berbahaya Ada di Kepala Kita

Di sinilah argumen yang paling tidak nyaman: echo chamber terbesar bukan di platform — ia ada di dalam pola pikir kita sendiri.

Psikolog menyebut ini sebagai confirmation bias — kecenderungan untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi dengan cara yang mengonfirmasi apa yang sudah kita percaya. Ini adalah fitur universal otak manusia, bukan bug yang diciptakan oleh Silicon Valley.

Media sosial dan algoritmanya memperkuat confirmation bias ini dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya. Tapi akarnya jauh lebih tua dari TikTok. Orang yang hidup sebelum era internet juga hidup dalam echo chamber — hanya medianya berbeda: koran yang dipilih, komunitas yang sama, lingkaran pertemanan yang homogen.

Bedanya adalah skala dan kecepatan. Dan fakta bahwa kita sekarang punya alat yang sangat mudah untuk mengkonsumsi informasi yang banyak tanpa pernah sungguh-sungguh diuji oleh pandangan yang berbeda.

Tanggung Jawab yang Tidak Bisa Didelegasikan ke Algoritma

Ada beberapa hal yang sepenuhnya dalam kendali kita — yang tidak bisa kita alihkan kepada algoritma.

Kita yang memilih untuk tidak mengikuti akun yang pandangannya berbeda dari kita. Kita yang memilih untuk tidak membaca artikel sampai selesai sebelum membagikannya. Kita yang memilih untuk mute atau unfollow siapa pun yang membuat kita tidak nyaman secara intelektual. Kita yang memilih untuk memberikan like pada konten yang mengonfirmasi prasangka kita dan scroll melewati konten yang menantang kita.

Algoritma tidak bisa memaksakan pilihan-pilihan itu. Kita yang membuatnya — ribuan kali sehari, hampir selalu tanpa sadar.

Bukan Berarti Platform Tidak Bertanggung Jawab

Kritik ini bukan pembelaan untuk platform teknologi. Desain produk mereka memang secara aktif mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia untuk memaksimalkan keterlibatan — dan mereka melakukannya dengan sangat sadar.

Regulasi yang memaksa platform untuk lebih transparan tentang cara kerja algoritmanya, yang melarang desain yang secara khusus menarget pengguna muda dengan konten berbahaya, dan yang memberikan pengguna kontrol lebih besar atas apa yang mereka lihat — semua itu penting dan perlu diperjuangkan.

Tapi kebijakan regulasi yang paling baik pun tidak akan menggantikan tanggung jawab individual untuk menjadi konsumen informasi yang lebih aktif dan lebih kritis.

Satu Hal Konkret yang Bisa Dimulai Hari Ini

Tidak perlu rencana besar. Ada satu kebiasaan kecil yang penelitian literasi digital konsisten menunjukkan dampaknya: berhenti sejenak sebelum membagikan sesuatu dan tanya pada diri sendiri tiga pertanyaan sederhana.

Apakah saya sudah membaca ini sampai selesai? Apakah sumbernya bisa diverifikasi? Dan — ini yang paling sulit — apakah saya membagikan ini karena informasinya benar, atau karena ia mengonfirmasi apa yang sudah saya percaya?

Tiga pertanyaan. Beberapa detik. Efek kumulatifnya, jika dilakukan oleh cukup banyak orang, bisa jauh lebih signifikan dari perubahan algoritma mana pun.

Algoritma akan terus dioptimalkan untuk membuat kita tetap scrolling. Itu hampir pasti tidak akan berubah dalam waktu dekat. Yang bisa berubah adalah cara kita merespons dorongan itu — apakah kita menyerah atau kita memilih secara aktif. Menyalahkan algoritma sambil terus memberinya data perilaku yang sama adalah cara yang sangat nyaman untuk merasa kritis tanpa benar-benar berubah.

Pertanyaannya: konten apa yang terakhir kamu konsumsi yang benar-benar menantang dan mengubah cara kamu berpikir tentang sesuatu — dan kapan itu terjadi?

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Berhenti Menyalahkan Algoritma — Kita yang Memilih untuk Diam
  • Berhenti Menyalahkan Algoritma — Kita yang Memilih untuk Diam
  • Berhenti Menyalahkan Algoritma — Kita yang Memilih untuk Diam
  • Berhenti Menyalahkan Algoritma — Kita yang Memilih untuk Diam
  • Berhenti Menyalahkan Algoritma — Kita yang Memilih untuk Diam
  • Berhenti Menyalahkan Algoritma — Kita yang Memilih untuk Diam
Posting Komentar