![]() |
| Ilustrasi editorial tentang keberagaman dan tantangan toleransi di Indonesia. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Survei Wahid Foundation dan beberapa lembaga riset sosial mencatat tren yang konsisten selama satu dekade terakhir: tingkat intoleransi di Indonesia tidak menurun, ia bergerak naik. Anehnya, di negara yang hafal luar kepala slogan "Bhinneka Tunggal Ika" ini, toleransi justru makin sering jadi komoditas retorika daripada praktik hidup sehari-hari. Kita pandai bicara soal keberagaman di podium, tapi gerah ketika tetangga berbeda keyakinan pindah ke sebelah rumah.
Toleransi Bukan Warisan Otomatis
Banyak yang percaya toleransi adalah bawaan budaya Indonesia — seolah karena leluhur kita hidup berdampingan, kita otomatis mewarisi kemampuan itu. Padahal toleransi bukan gen yang diwariskan. Ia adalah kemampuan sosial yang harus dilatih, dirawat, dan diperbarui setiap generasi.
Ketika pendidikan tidak secara serius mengajarkan bagaimana bersikap terhadap perbedaan — bukan sekadar menghafal definisi toleransi untuk ujian — maka setiap generasi baru harus belajar dari nol. Dan sayangnya, ruang belajar itu kini semakin sempit. Lingkungan sosial yang homogen, algoritma media sosial yang mempertemukan kita hanya dengan orang yang sepikiran, serta narasi identitas yang semakin keras membuat kemampuan untuk duduk bersama yang berbeda makin terkikis.
Ketika Toleransi Dijadikan Senjata
Ada paradoks yang jarang kita sadari: "toleransi" sering dipakai bukan untuk membuka ruang, melainkan untuk menutup kritik. Frasa seperti "jangan mempermasalahkan perbedaan" kadang justru digunakan untuk membungkam diskusi yang sah tentang ketidakadilan berbasis identitas. Toleransi yang sehat bukan berarti diam terhadap diskriminasi — ia justru menuntut kita untuk bersuara ketika hak seseorang dilanggar karena siapa dirinya.
Toleransi palsu adalah toleransi yang tampak damai di permukaan tapi menyimpan ketidakadilan di bawahnya. Ia meminta kelompok minoritas untuk terus "bersabar" sambil tidak pernah meminta kelompok mayoritas untuk berubah.
Gen Z dan Ujian Keberagaman Digital
Generasi Z tumbuh di era di mana kontak dengan perbedaan bisa terjadi kapan saja lewat layar. Ironisnya, ini tidak otomatis membuat mereka lebih toleran. Algoritma justru bekerja sebaliknya: mempertemukan kita dengan orang yang sama, memperkuat keyakinan yang sudah ada, dan menjadikan mereka yang berbeda sebagai konten asing yang mudah dikomentari tanpa konsekuensi.
Toleransi digital berbeda dengan toleransi nyata. Mudah sekali kita mengklaim "menghargai perbedaan" dari balik layar, tapi panik ketika perbedaan itu hadir dalam bentuk konkret — teman sekelas, rekan kerja, atau anggota keluarga yang pilihan hidupnya bertentangan dengan kita.
Merawat Toleransi Butuh Lebih dari Slogan
Toleransi tidak akan tumbuh dari kampanye satu hari, lomba esai, atau spanduk di jalan protokol. Ia tumbuh dari pengalaman nyata bertemu, berdialog, dan berselisih dengan yang berbeda — lalu tetap memilih untuk terus hidup berdampingan. Ini butuh kurikulum yang serius, ruang publik yang inklusif, dan pemimpin yang tidak memainkan politik identitas ketika kursi kekuasaan sedang dipertaruhkan.
Karena ketika elite memilih membakar perbedaan demi suara pemilih, rakyat yang menanggung apinya.
Jika toleransi kita memang sudah menipis, pertanyaannya bukan hanya siapa yang bersalah — tapi siapa yang mau mulai merawatnya kembali, dan dari mana kita harus memulai?
Penulis: Muhammad Jazuli
