Nalarmerdeka.com – Ada satu gambar yang terus menghantui Walter Benjamin sepanjang hidupnya: lukisan Paul Klee yang menggambarkan malaikat dengan wajah menghadap ke belakang, sayap terbentang, tapi tubuhnya terseret maju oleh angin yang tidak bisa ia lawan. Benjamin menyebutnya Angelus Novus — malaikat sejarah. Malaikat itu melihat reruntuhan yang terus bertumpuk di masa lalu, ingin berhenti untuk membangunkan yang mati dan menyatukan yang hancur, tapi badai dari surga — yang kita sebut "kemajuan" — terus mendorongnya ke depan tanpa memberinya kesempatan untuk berhenti. Itulah cara Benjamin melihat sejarah: bukan sebagai garis lurus menuju kemajuan, melainkan sebagai tumpukan puing yang terus bertambah sementara kita berpura-pura sedang bergerak maju.
Siapa Walter Benjamin
Walter Benjamin (1892–1940) adalah filsuf, kritikus sastra, dan teoritikus budaya Jerman-Yahudi yang pemikirannya melampaui kategori akademik mana pun. Ia bukan filsuf murni, bukan sosiolog murni, bukan kritikus sastra murni — ia adalah semua itu sekaligus, dengan cara berpikir yang terus bergerak di antara Marxisme, mistisisme Yahudi, dan estetika avant-garde.
Hidupnya tidak mudah. Sebagai intelektual Yahudi di Jerman yang sedang diracuni Nazisme, ia diasingkan, karyanya tidak pernah sepenuhnya diakui semasa hidupnya, dan ia meninggal di perbatasan Spanyol-Prancis pada 1940 dalam upaya melarikan diri dari pasukan Nazi — diduga bunuh diri setelah mengetahui jalur pelariannya diblokir. Nasibnya adalah ironi yang menyakitkan dari pemikiran yang ia kembangkan: seorang yang hidupnya berakhir sebagai puing sejarah, padahal ia adalah orang yang paling serius memikirkan apa artinya menjadi puing sejarah.
Melawan Cara Kita Membaca Sejarah
Tesis paling penting Benjamin tentang sejarah ada dalam karyanya yang tidak pernah selesai: Theses on the Philosophy of History (1940), ditulis beberapa bulan sebelum kematiannya. Di sana ia menyerang satu asumsi yang selama ini kita terima begitu saja — bahwa sejarah adalah narasi kemajuan yang linier, di mana setiap era lebih baik dari sebelumnya, dan kita sedang bergerak menuju sesuatu yang lebih sempurna.
Benjamin menolak ini. Bagi dia, sejarah resmi adalah sejarah yang ditulis dari sudut pandang pemenang — dan setiap "peradaban" yang kita kagumi adalah sekaligus dokumen barbarisme. Monumen, museum, buku teks, perayaan nasional — semua itu adalah cara kelompok berkuasa memilih momen mana yang diingat dan momen mana yang dikubur. Yang dikubur adalah kisah mereka yang kalah, yang diam-diam membayar biaya dari setiap "kemajuan" yang dirayakan.
Sejarah dari Bawah: Mengapa Ini Penting Hari Ini
Cara berpikir Benjamin sangat relevan untuk konteks Indonesia. Ketika kita membaca buku sejarah nasional, kita membaca narasi yang sudah dipilih: pahlawan-pahlawan tertentu diangkat, pemberontakan tertentu dilabel pemberontakan atau pengkhianatan, dan komunitas tertentu dihilangkan dari cerita. Sejarah PKI 1965 yang hingga kini masih diperdebatkan, sejarah perjuangan perempuan yang sering jadi catatan kaki, sejarah masyarakat adat yang tanahnya diambil atas nama pembangunan — itu semua adalah bagian dari puing-puing yang terus Benjamin tunjuk tapi terus kita lewati.
Membaca sejarah dari sisi yang kalah bukan berarti membalik narasi secara sederhana — memuliakan yang tadinya dikutuk dan mengutuk yang tadinya dimuliakan. Bagi Benjamin, itu hanya mengganti satu dominasi dengan dominasi lain. Yang ia tuntut jauh lebih berat: berhenti sejenak, menatap reruntuhan itu dengan jujur, dan bertanya siapa yang sesungguhnya membayar biaya dari "kemajuan" yang kita rayakan.
Tradisi Orang-orang yang Tertindas
Benjamin menulis bahwa tradisi orang-orang yang tertindas mengajarkan kita bahwa "keadaan darurat" yang kita alami bukanlah pengecualian — melainkan aturan. Bagi mereka yang selalu berada di posisi terjepit sejarah, krisis tidak pernah selesai. Ia hanya berganti wajah.
Ini terasa bukan seperti teks filsafat yang ditulis pada 1940 — ini terasa seperti deskripsi tentang banyak hal yang terjadi hari ini. Ketika masyarakat adat digusur atas nama proyek strategis nasional, ketika buruh dibungkam atas nama investasi, ketika perempuan yang bersuara dilabel "provokator" — itu adalah kontinuasi dari pola yang terus Benjamin pelajari: kekuasaan selalu memerlukan korban, dan korban itu selalu dinarasikan sebagai "harga yang perlu dibayar".
Membaca Benjamin dengan Cara yang Ia Inginkan
Benjamin tidak menulis untuk dibaca di menara gading. Ia menulis karena ia percaya bahwa kesadaran historis yang jujur adalah prasyarat untuk perubahan yang juga jujur. Kita tidak bisa membangun masa depan yang lebih adil kalau kita tidak mau mengakui apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Bagi Gen Z yang tumbuh di era algoritma dan sejarah yang diringkas menjadi thread Twitter, Benjamin menawarkan sesuatu yang terasa kontra-intuitif tapi mendesak: perlambat, tatap yang rusak, dan jangan percaya begitu saja pada narasi yang terlalu rapi. Karena narasi yang terlalu rapi biasanya menyembunyikan banyak hal.
Kalau sejarah selalu ditulis oleh pemenang — dan kita adalah generasi yang mewarisi tulisan itu — pertanyaan yang Benjamin tinggalkan untuk kita adalah: beranikah kita membaca ulang, dan siap tidak kita menghadapi apa yang kita temukan di balik narasi yang selama ini terasa nyaman?
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
Walter Benjamin, Theses on the Philosophy of History (1940)
Walter Benjamin, The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction (1935)
Stanford Encyclopedia of Philosophy, entri "Walter Benjamin"
Michael Löwy, Fire Alarm: Reading Walter Benjamin's 'On the Concept of History' (2005, Verso)
