Nalarmerdeka.com – Enam hari, tiga negara, satu paper yang dipresentasikan di forum internasional. Itulah perjalanan Muhammad Khofi, mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Al-Qolam Malang sekaligus santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran. Ia baru saja pulang dari International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 6, membawa pengalaman yang tak semua mahasiswa dapat kesempatan menjalaninya.
Melintasi Tiga Negara dalam Satu Rangkaian
ICSM Batch 6 berlangsung selama enam hari, mulai 6 hingga 11 Agustus 2026, menjangkau tiga negara sekaligus: Malaysia, Singapura, dan Thailand. Sepanjang rangkaian itu, Khofi mengikuti berbagai agenda akademik sekaligus kunjungan pendidikan lintas negara. Bukan sekadar jalan-jalan, setiap negara punya agenda kampus yang berbeda. Di Singapura, ia berkesempatan mengunjungi Singapore Management University (SMU). Sementara di Malaysia, rombongan peserta mengunjungi International Islamic University Malaysia (IIUM).
Presentasi Paper dan Debat di Kuala Lumpur
Agenda inti konferensi berpusat di Kuala Lumpur, lewat sesi presentasi paper dan debat akademik. Di sinilah Khofi menyampaikan gagasannya, berdiskusi, sekaligus mengasah kemampuan akademiknya langsung di hadapan peserta dari berbagai latar belakang dan forum internasional. Forum semacam ini melatih bukan cuma kemampuan menulis, tapi juga keberanian berargumen dan berpikir cepat di depan audiens lintas negara, sesuatu yang jarang didapat lewat kelas kuliah biasa.
Bukan Cuma Akademik, Ada Sisi Budaya Juga
Rangkaian ICSM Batch 6 tidak melulu soal ruang konferensi. Peserta juga diajak mengunjungi sejumlah ikon negara, seperti Merlion di Singapura dan menara kembar KLCC di Kuala Lumpur, selain kunjungan ke sejumlah kampus dan pesantren di tiga negara tersebut. Kombinasi ini membuat pengalaman Khofi lebih utuh, memadukan wawasan akademik dengan pengalaman lintas budaya secara langsung.
Kesan Khofi soal Pengalaman Ini
Bagi Khofi, keikutsertaan dalam ICSM Batch 6 memberikan pengalaman berharga, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai santri. Ia menuturkan kegiatan ini memberinya banyak pengalaman baru. Bukan hanya kesempatan mengikuti konferensi dan mempresentasikan paper, tapi juga belajar langsung dari lingkungan pendidikan di tiga negara berbeda, serta bertemu banyak orang dari latar belakang yang beragam.
Ia juga mengaku bersyukur atas kesempatan yang didapatnya. Menurutnya, pengalaman ini diharapkan bisa menjadi bekal untuk terus berkembang, sekaligus sesuatu yang bisa ia bagikan kembali kepada teman-teman mahasiswa dan santri lainnya.
Lebih dari Sekadar Prestasi Pribadi
Keikutsertaan Khofi dalam konferensi internasional ini menjadi salah satu pengalaman akademik yang memperkaya proses belajarnya sebagai mahasiswa Hukum Keluarga Islam Universitas Al-Qolam Malang. Lebih dari itu, langkah ini turut membawa nama Universitas Al-Qolam Malang dan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 ke panggung forum internasional, membuktikan bahwa mahasiswa dari kampus daerah dan latar belakang santri tetap bisa bersaing dan tampil di kancah dunia.
Kalau satu mahasiswa saja bisa menembus forum internasional dari kampus daerah, apa yang sebenarnya menahan mahasiswa lain untuk berani mencoba hal serupa?
Redaktur: Muhammad Jazuli
