Scroll untuk melanjutkan membaca

Nasionalisme Itu Apa, Sebenarnya? Bukan Sekadar Bendera

Ilustrasi refleksi tentang nasionalisme.
Ilustrasi ini menggambarkan refleksi tentang nasionalisme yang hadir bukan hanya lewat simbol, tetapi juga melalui kepedulian dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Kita sering memakai kata nasionalisme seolah maknanya sudah jelas untuk semua orang. Padahal konsep ini jauh lebih rumit dari sekadar mengibarkan bendera atau hafal lagu kebangsaan. Nasionalisme adalah gagasan politik yang lahir dari sejarah panjang, dan pemahamannya bisa sangat berbeda tergantung siapa yang mendefinisikannya.

Akar Kata dan Definisi Dasarnya

Kata nasionalisme berasal dari "nation" atau bangsa, merujuk pada rasa kesetiaan dan keterikatan seseorang terhadap suatu bangsa. Secara sederhana, nasionalisme adalah paham yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan kelompok atau golongan. Ernest Renan, filsuf Prancis abad ke-19, pernah menyebut bangsa sebagai "plebisit sehari-hari", sebuah kesepakatan terus-menerus dari warganya untuk hidup bersama. Artinya, nasionalisme bukan warisan biologis, melainkan pilihan kolektif yang terus diperbarui setiap generasi.

Nasionalisme Lahir dari Sejarah, Bukan dari Langit

Sebagai gagasan politik modern, nasionalisme mulai berkembang di Eropa sekitar akhir abad ke-18, seiring runtuhnya kekuasaan monarki absolut dan bangkitnya kesadaran rakyat sebagai pemilik sah sebuah negara. Di Indonesia, benih nasionalisme tumbuh lewat pergerakan awal abad ke-20, dari Budi Utomo, Sumpah Pemuda 1928, hingga proklamasi 1945. Nasionalisme Indonesia lahir dari pengalaman kolektif dijajah, dan tumbuh menjadi tekad bersama membentuk satu bangsa dari ratusan suku dan bahasa.

Dua Wajah Nasionalisme: Sipil dan Etnis

Para ahli membagi nasionalisme menjadi beberapa jenis. Nasionalisme sipil menekankan kesetiaan pada nilai, konstitusi, dan institusi bersama, tanpa memandang suku atau agama warganya. Nasionalisme etnis sebaliknya, menempatkan kesamaan darah, bahasa, atau leluhur sebagai dasar identitas bangsa. Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, secara resmi menganut model nasionalisme sipil, mempersatukan keberagaman lewat kesepakatan bersama, bukan kesamaan asal-usul.

Ketika Nasionalisme Berubah Jadi Simbol Kosong

Masalah muncul ketika nasionalisme direduksi jadi sekadar ritual simbolik, seperti wajib mengibarkan bendera atau menghafal Pancasila tanpa memahami esensinya. Nasionalisme yang sehat seharusnya tumbuh dari kesadaran akan hak dan kewajiban bersama, bukan dari ketakutan akan sanksi sosial atau tekanan aparat. Sejarawan Benedict Anderson bahkan menyebut bangsa sebagai "komunitas terbayang", sebuah ikatan emosional yang dibangun lewat narasi bersama, bukan sekadar simbol fisik. Ketika simbol dipaksakan tanpa ruang dialog, esensi nasionalisme justru bisa memudar, digantikan sekadar kepatuhan formalitas.

Nasionalisme yang Relevan untuk Generasi Sekarang

Di era digital, nasionalisme menghadapi tantangan baru. Generasi muda lebih terhubung secara global, dan makna "cinta tanah air" tidak lagi selalu diterjemahkan lewat simbol konvensional. Nasionalisme kontemporer bisa berwujud kepedulian pada isu lokal, dukungan pada produk dalam negeri, atau partisipasi aktif mengkritisi kebijakan publik demi bangsa yang lebih baik. Nasionalisme yang matang justru memberi ruang bagi kritik, karena mencintai bangsa tidak berarti menyetujui semua kebijakan pemerintahnya.

Jadi, jika nasionalisme sejati lahir dari kesadaran, bukan paksaan, sudahkah kita benar-benar memahami apa yang kita banggakan setiap kali menyebut diri nasionalis?

Penulis: Muhammad Jazuli

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Nasionalisme Itu Apa, Sebenarnya? Bukan Sekadar Bendera
  • Nasionalisme Itu Apa, Sebenarnya? Bukan Sekadar Bendera
  • Nasionalisme Itu Apa, Sebenarnya? Bukan Sekadar Bendera
  • Nasionalisme Itu Apa, Sebenarnya? Bukan Sekadar Bendera
  • Nasionalisme Itu Apa, Sebenarnya? Bukan Sekadar Bendera
  • Nasionalisme Itu Apa, Sebenarnya? Bukan Sekadar Bendera
Posting Komentar