Scroll untuk melanjutkan membaca

Dari Fakultas Cabang ke UIN: Perjalanan Panjang Kampus Islam Madura

Ilustrasi gedung UIN Madura.
Ilustrasi perjalanan transformasi kampus Islam Madura menuju status UIN. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli 

Nalarmerdeka.com – Butuh hampir enam dekade bagi Madura untuk punya universitas Islam negeri sendiri. Bukan proses instan, tapi rangkaian transformasi bertahap yang melibatkan empat perubahan status kelembagaan. Kita akan telusuri jalan panjang itu, dari sekadar kelas cabang sampai berdiri sebagai UIN Madura hari ini.

Bermula dari Fakultas Cabang, 1966

Cikal bakal kampus ini dibuka pada 20 Juli 1966 sebagai Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya di Pamekasan. Keputusan Menteri Agama Nomor 39 Tahun 1966 jadi dasar hukumnya. Waktu itu, kegiatan kuliah masih menumpang di gedung Pendidikan Guru Agama Negeri Pamekasan, yang sekarang menjadi MAN 2 Pamekasan. Bertahun-tahun kampus ini belum punya gedung sendiri, hanya numpang di institusi lain.

Mandiri Sebagai STAIN Pamekasan, 1997

Perubahan besar terjadi lewat Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997. Seluruh fakultas cabang IAIN di berbagai daerah Indonesia serentak beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri yang mandiri. Fakultas cabang di Pamekasan pun resmi berdiri sendiri sebagai STAIN Pamekasan, lepas dari induknya di Surabaya. Status ini membatasi kewenangan kampus hanya pada satu rumpun ilmu tertentu.

Naik Status Jadi IAIN Madura, 2018

Setelah bertahun-tahun mengajukan perubahan status, Presiden menandatangani Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2018 tentang IAIN Madura pada 5 April 2018. Status institut memberi kewenangan lebih luas dibanding sekolah tinggi, yakni menyelenggarakan pendidikan dalam sejumlah rumpun ilmu sekaligus. Nama "Madura" dipilih agar mewakili identitas seluruh pulau, bukan hanya Pamekasan tempat kampus berdiri.

Resmi Jadi UIN Madura, 2025

Transformasi terbaru terjadi lewat Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2025. IAIN Madura resmi berubah status menjadi Universitas Islam Negeri Madura. Rektor sempat mengungkap bahwa nama besar Syaikhona Kholil awalnya diusulkan untuk kampus ini, namun batal karena sudah dipakai institusi lain. Nama UIN Madura akhirnya dipilih karena dianggap merepresentasikan seluruh kabupaten di Pulau Madura, bukan cuma satu daerah.

Kenapa Perjalanan Ini Berbelit

Transformasi kampus di bawah Kementerian Agama memang cenderung bertahap dibanding kampus umum. Sebagai perbandingan, belasan IKIP di Indonesia langsung berubah jadi universitas dalam satu tahun saja, 1999. Kampus Islam negeri harus melalui tahap sekolah tinggi, lalu institut, baru bisa menjadi universitas. Empat kali ganti status dalam 59 tahun menunjukkan betapa panjang jalan yang harus ditempuh kampus ini untuk sampai ke titik sekarang.

Perjalanan panjang ini menyisakan satu pertanyaan. Apakah status UIN sekarang benar-benar mengubah kualitas pendidikan, atau sekadar mengubah nama di gerbang kampus?

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Dari Fakultas Cabang ke UIN: Perjalanan Panjang Kampus Islam Madura
  • Dari Fakultas Cabang ke UIN: Perjalanan Panjang Kampus Islam Madura
  • Dari Fakultas Cabang ke UIN: Perjalanan Panjang Kampus Islam Madura
  • Dari Fakultas Cabang ke UIN: Perjalanan Panjang Kampus Islam Madura
  • Dari Fakultas Cabang ke UIN: Perjalanan Panjang Kampus Islam Madura
  • Dari Fakultas Cabang ke UIN: Perjalanan Panjang Kampus Islam Madura
Posting Komentar