![]() |
| Ilustrasi yang menggambarkan bagaimana bias kognitif dapat memengaruhi cara otak menerima, menafsirkan, dan mempercayai informasi. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Pernahkah sebuah klaim yang sebenarnya keliru terasa "masuk akal" hanya karena kamu sudah berkali-kali mendengarnya? Fenomena itu punya nama dalam psikologi kognitif: illusory truth effect, bias yang menjelaskan mengapa pengulangan bisa mengalahkan bukti dalam menentukan apa yang kita percaya sebagai kebenaran.
Latar Belakang
Illusory truth effect pertama kali didokumentasikan secara sistematis oleh psikolog Lynn Hasher, David Goldstein, dan Thomas Toppino dalam penelitian mereka pada 1977. Dalam eksperimen tersebut, partisipan diminta menilai tingkat kebenaran sejumlah pernyataan pada beberapa sesi berbeda. Hasilnya konsisten: pernyataan yang diulang pada sesi berikutnya dinilai lebih benar dibandingkan pernyataan baru, terlepas dari apakah pernyataan itu sebenarnya benar atau salah.
Temuan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami bagaimana bias kognitif memengaruhi persepsi kebenaran, jauh sebelum era media sosial membuat pengulangan informasi menjadi jauh lebih masif dan cepat dibandingkan masa penelitian awal tersebut dilakukan.
Fakta & Data
Secara mekanisme kognitif, illusory truth effect bekerja melalui konsep yang disebut processing fluency, yaitu kemudahan otak memproses suatu informasi. Semakin sering otak menerima suatu pernyataan, semakin mudah dan cepat pernyataan itu diproses pada paparan berikutnya. Otak manusia cenderung menafsirkan kemudahan pemrosesan ini sebagai sinyal keakraban, dan keakraban inilah yang secara keliru disamakan dengan kebenaran.
Riset lanjutan menunjukkan efek ini bahkan tetap muncul pada pernyataan yang secara jelas bertentangan dengan pengetahuan umum partisipan, dan tidak serta-merta melemah hanya karena partisipan sebelumnya sudah diberi tahu bahwa pernyataan tersebut salah. Studi-studi di era media sosial turut menemukan bahwa paparan berulang terhadap judul berita palsu, bahkan dalam konteks yang secara eksplisit memperingatkan bahwa berita tersebut palsu, tetap dapat meningkatkan penilaian kebenaran atas judul tersebut pada paparan berikutnya.
Analisis Kritis
Ada beberapa hal menarik untuk dibedah dari fenomena ini. Pertama, illusory truth effect bekerja secara diam-diam dan tidak bergantung pada kecerdasan atau tingkat pendidikan seseorang. Ini bukan soal kurang kritis atau kurang informasi, melainkan cara kerja dasar sistem kognitif manusia dalam menghemat energi mental — otak secara alami memakai jalan pintas (heuristik) keakraban sebagai proksi kebenaran, karena dalam banyak situasi sehari-hari, hal-hal yang akrab memang lebih sering benar dibandingkan hal-hal yang asing.
Kedua, efek ini menjelaskan mengapa strategi disinformasi yang mengandalkan repetisi masif — menyebarkan klaim yang sama berulang kali lewat berbagai akun dan platform — jauh lebih efektif dibandingkan strategi yang hanya mengandalkan satu sumber meyakinkan. Bukan kekuatan argumen yang menang, melainkan frekuensi paparan.
Ketiga, upaya klarifikasi atau debunking terhadap hoaks yang berulang kali disebarkan menghadapi tantangan unik: mengulang klaim yang salah untuk membantahnya (misalnya dengan format "Benarkah X? Ini faktanya") berisiko justru memperkuat keakraban terhadap klaim tersebut, meski disertai konteks yang membantahnya. Ini dikenal sebagai salah satu dilema utama dalam komunikasi debunking, dan menuntut strategi penyampaian klarifikasi yang lebih hati-hati, misalnya dengan menonjolkan fakta yang benar terlebih dahulu ketimbang mengulang narasi yang salah.
Dampak & Implikasi
Bagi ekosistem informasi digital, illusory truth effect membantu menjelaskan mengapa hoaks dan disinformasi politik yang disebarkan berulang kali lewat berbagai kanal cenderung lebih bertahan di benak publik dibandingkan koreksi tunggal dari sumber resmi, betapapun kredibelnya sumber tersebut.
Bagi individu, kesadaran atas bias ini penting sebagai bekal literasi digital: rasa "familiar makanya masuk akal" terhadap suatu klaim bukanlah indikator keandalan, melainkan sekadar produk sampingan dari seberapa sering klaim itu dijumpai. Kebiasaan menahan diri sebelum mempercayai atau membagikan ulang suatu informasi, serta memeriksa sumber aslinya, menjadi penawar sederhana namun efektif terhadap bias ini.
Bagi institusi media dan pendidikan, temuan ini menegaskan pentingnya strategi komunikasi publik yang tidak hanya "menyampaikan fakta sekali," tetapi mengulang narasi yang benar secara konsisten — karena jika disinformasi bisa menang lewat repetisi, kebenaran pun memerlukan repetisi yang setara untuk bisa bersaing di ruang kognitif publik.
Illusory truth effect mengingatkan kita bahwa rasa yakin bukanlah bukti kebenaran. Otak manusia, dengan segala kecanggihannya, ternyata memiliki titik lemah sederhana: ia mudah tertipu oleh keakraban. Memahami mekanisme ini bukan untuk membuat kita curiga pada segala hal yang terdengar familiar, melainkan untuk melatih kebiasaan berpikir yang lebih waspada — bahwa sesuatu terasa benar tidak selalu berarti ia memang benar.
Penulis: Muhammad Jazuli (Founder Nalarmerdeka.com)
