Seorang perempuan berbicara tegas dalam rapat. Kalimatnya lugas, argumennya runtut, suaranya tidak bergetar. Namun selepas rapat, komentar yang muncul justru bukan soal gagasan, melainkan sikapnya: terlalu emosional, terlalu agresif, tidak feminin. Dalam situasi serupa, laki-laki dengan gaya bicara yang sama kerap dipuji sebagai pemimpin yang berwibawa dan berani. Dari sini kita belajar satu hal penting: bahasa tidak pernah berdiri netral. Di balik kata, intonasi, dan gaya bicara, bekerja relasi kuasa yang halus namun menentukan. Cara seseorang berbicara—dan bagaimana ia dinilai—sering kali ditentukan bukan oleh isi pembicaraan, melainkan oleh gender pembicaranya. Inilah yang coba dibongkar oleh Sara Mills melalui gagasan Genderlect Style.
Bahasa sebagai Medan Kekuasaan
Sara Mills, salah satu pemikir penting dalam Analisis Wacana Kritis, menolak pandangan bahwa bahasa sekadar alat komunikasi yang pasif. Bagi Mills, bahasa adalah praktik sosial yang sarat kepentingan, nilai, dan relasi kuasa. Setiap ujaran selalu terikat pada konteks sosial yang lebih luas: siapa yang berbicara, dari posisi apa, dan kepada siapa. Dalam kerangka ini, gender tidak dipahami sebagai identitas biologis semata, melainkan sebagai konstruksi sosial yang terus diproduksi dan direproduksi melalui bahasa. Cara seseorang berbicara tidak pernah lepas dari struktur sosial yang menempatkannya pada posisi tertentu—dominan atau subordinat.
Memahami Genderlect Style: Lebih dari Sekadar Gaya Bicara
Istilah Genderlect Style sering dipahami secara sederhana sebagai perbedaan gaya bicara antara laki-laki dan perempuan. Namun Sara Mills justru mengkritik pendekatan semacam ini, terutama yang bersifat esensialis dan biologis. Ia menolak gagasan bahwa perempuan “secara alami” lebih lembut atau laki-laki “secara kodrati” lebih dominan dalam berbahasa. Bagi Mills, perbedaan gaya bicara adalah hasil dari proses sosial yang panjang. Perempuan dan laki-laki belajar bagaimana harus berbicara sesuai dengan harapan sosial yang dilekatkan pada gender mereka. Dengan kata lain, Genderlect Style bukan soal jenis kelamin, melainkan soal posisi sosial dan relasi kuasa yang menyertainya.
Perempuan, Bahasa, dan Posisi Subjek yang Rentan
Dalam banyak praktik wacana, perempuan kerap ditempatkan pada posisi yang serba diawasi. Cara bicara perempuan sering dinilai tidak hanya dari isi, tetapi juga dari moralitas, emosi, dan tubuhnya. Perempuan dituntut untuk berbicara sopan, tidak terlalu lantang, tidak terlalu tegas, dan tetap “menyenangkan”. Sara Mills menyoroti bagaimana perempuan dalam teks, media, dan percakapan publik lebih sering menjadi objek penilaian daripada subjek yang otonom. Ketika perempuan berbicara keras, ia dianggap melanggar norma. Ketika ia diam, ia dianggap tidak kompeten. Bahasa menjadi alat pendisiplinan yang bekerja secara halus namun efektif.
Maskulinitas sebagai Standar Bahasa Publik
Sebaliknya, gaya berbahasa maskulin kerap dijadikan standar universal dalam ruang publik. Ketegasan, dominasi, interupsi, dan kontrol percakapan dianggap wajar ketika dilakukan oleh laki-laki. Bahasa maskulin dipersepsikan sebagai rasional, objektif, dan layak memimpin. Akibatnya, siapa pun—baik perempuan maupun laki-laki—yang tidak mengikuti gaya bahasa ini akan dianggap menyimpang. Perempuan yang berbicara dengan gaya maskulin dicap tidak feminin, sementara laki-laki yang berbicara lembut sering dianggap lemah. Bahasa, dalam hal ini, tidak hanya mencerminkan ketimpangan gender, tetapi juga ikut melanggengkannya.
Genderlect Style dalam Media dan Ruang Digital
Dalam konteks media dan ruang digital hari ini, Genderlect Style semakin kentara. Perempuan yang vokal di media sosial sering menghadapi serangan personal, pelecehan verbal, dan delegitimasi berbasis gender. Kritik terhadap argumen dengan mudah bergeser menjadi kritik terhadap cara bicara, suara, bahkan tubuh. Kolom komentar, talkshow, dan pemberitaan daring menjadi ruang di mana bahasa bekerja sebagai alat kontrol sosial. Perempuan yang terlalu kritis dianggap mengganggu, sementara laki-laki dengan gaya bicara agresif tetap diberi panggung. Di sinilah bahasa menunjukkan fungsinya sebagai kekerasan simbolik.
Membaca Ulang Bahasa sebagai Jalan Emansipasi
Membicarakan Genderlect Style ala Sara Mills bukan bertujuan mengotakkan cara bicara berdasarkan gender. Sebaliknya, ia mengajak kita untuk lebih sadar bahwa apa yang kita anggap “wajar” dalam bahasa sering kali merupakan hasil dari relasi kuasa yang timpang. Kesadaran linguistik menjadi langkah awal untuk membuka ruang bicara yang lebih setara. Dengan mempertanyakan siapa yang didengar, siapa yang disenyapkan, dan bagaimana bahasa bekerja, kita bisa mulai membongkar struktur ketidakadilan yang tersembunyi dalam percakapan sehari-hari.
Bahasa Sebagai Ruang Perlawanan
Bahasa mungkin tidak selalu lantang, tetapi ia selalu politis. Melalui kata, nada, dan gaya bicara, kekuasaan dijalankan dan ditantang. Memahami Genderlect Style ala Sara Mills mengingatkan kita bahwa perjuangan kesetaraan gender tidak hanya berlangsung di jalanan atau ruang kebijakan, tetapi juga di dalam percakapan yang kita anggap biasa. Mungkin perubahan tidak selalu dimulai dari teriakan keras, tetapi dari kesadaran kecil bahwa setiap suara layak didengar—tanpa harus dihakimi oleh gendernya.
Penulis: Muhammad Jazuli
