Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
📍 MEMUAT...
MENUJU...
00:00:00
-- --- ---- / -- ------- ----
IMSAK --:--
TERBIT --:--
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--

PASANG IKLAN DISINI

www.nalarmerdeka.online

Dari Tepi Kapuas ke Pusat Ilmu: Sejarah Universitas Tanjungpura

Gedung Rektorat Universitas Tanjungpura di Pontianak — pusat administrasi kampus dan kantor pimpinan universitas. / Foto: Thomas24122000 / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Sungai Kapuas mengalir tenang di jantung Pontianak. Di tepian sungai terpanjang di Indonesia itu, denyut kehidupan Kalimantan Barat sejak lama bertumpu—perdagangan, budaya, hingga pertukaran gagasan. Namun, hingga akhir dekade 1950-an, satu hal terasa absen: sebuah pusat pendidikan tinggi yang benar-benar lahir dari, dan untuk, masyarakat Kalimantan Barat. Dari kegelisahan itulah Universitas Tanjungpura—yang kini akrab disebut Untan—mulai dirintis.

Pada masa awal kemerdekaan, akses pendidikan tinggi masih terpusat di Pulau Jawa. Anak-anak muda Kalimantan Barat yang ingin melanjutkan studi harus menempuh perjalanan jauh, dengan biaya dan risiko yang tidak kecil. Kondisi ini menciptakan kesenjangan: daerah kaya sumber daya, tetapi miskin pusat pengembangan ilmu. Kesadaran akan ketimpangan tersebut mendorong para tokoh daerah, intelektual, dan birokrat lokal untuk memperjuangkan berdirinya perguruan tinggi di Kalbar.

Gagasan mendirikan universitas di Pontianak bukanlah proyek instan. Ia lahir dari diskusi panjang, keterbatasan fasilitas, serta semangat kolektif untuk mengejar ketertinggalan. Pada akhir 1950-an, embrio perguruan tinggi mulai dibentuk melalui pendirian fakultas-fakultas awal. Perjalanan itu mencapai tonggak penting pada 20 Mei 1959, yang kemudian dikenang sebagai hari lahir Universitas Tanjungpura. Beberapa tahun setelahnya, melalui kebijakan negara, Untan resmi berstatus sebagai universitas negeri—sebuah pengakuan sekaligus tanggung jawab besar.

Nama “Tanjungpura” sendiri bukan sekadar penanda geografis. Ia merujuk pada Kerajaan Tanjungpura, salah satu entitas historis penting di Kalimantan Barat. Penamaan ini menyiratkan kesinambungan antara masa lalu dan masa depan: dari pusat peradaban lokal menuju pusat pengembangan ilmu pengetahuan modern. Untan sejak awal dimaksudkan bukan hanya sebagai institusi akademik, melainkan simbol identitas dan kebanggaan daerah.

Masa-masa awal Untan diwarnai keterbatasan. Ruang kuliah sederhana, jumlah dosen terbatas, dan fasilitas yang jauh dari ideal. Namun, keterbatasan itu justru membentuk karakter kampus: sederhana, berjuang, dan lekat dengan realitas sosial sekitarnya. Para dosen tak hanya mengajar, tetapi juga merintis sistem akademik. Mahasiswa datang dari berbagai latar belakang etnis dan daerah, menjadikan kampus sebagai ruang perjumpaan yang majemuk.

Seiring waktu, Untan berkembang. Fakultas-fakultas baru dibuka, disiplin ilmu diperluas, dan kampus tumbuh secara fisik maupun akademik. Dari ilmu sosial, pendidikan, pertanian, hingga sains dan teknologi, Untan berusaha menjawab kebutuhan daerahnya sendiri. Posisi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara lain menjadikan Untan memiliki peran strategis—bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai penjaga pengetahuan di wilayah perbatasan.

Dalam lintasan sejarah nasional, Untan juga mengalami dinamika politik dan kebijakan pendidikan. Perubahan rezim, kurikulum, serta orientasi pembangunan berdampak langsung pada arah universitas. Namun, di tengah perubahan itu, satu hal relatif konsisten: Untan menjadi ruang lahirnya intelektual lokal. Alumni Untan tersebar sebagai guru, birokrat, aktivis, peneliti, dan pemimpin daerah—mereka yang kelak ikut membentuk wajah Kalimantan Barat.

Lebih dari sekadar mencetak lulusan, Untan berperan sebagai pusat produksi pengetahuan yang berangkat dari konteks lokal. Isu lingkungan, hutan tropis, masyarakat adat, dan kebudayaan Borneo menjadi ladang kajian yang tak terpisahkan. Di sinilah Untan menemukan kekhasannya: ilmu pengetahuan yang tidak tercerabut dari tanah tempat ia berpijak.

Hari ini, Universitas Tanjungpura berdiri sebagai salah satu pilar pendidikan tinggi di Kalimantan. Tantangan tentu belum selesai. Globalisasi, kompetisi akademik, dan tuntutan kualitas terus mengetuk pintu. Namun, sejarah panjang Untan menunjukkan satu pelajaran penting: universitas ini lahir dari keterbatasan, tumbuh dari perjuangan, dan hidup dari harapan masyarakatnya.

Dari tepi Kapuas, Untan menegaskan bahwa pusat ilmu tidak selalu harus berada di pusat kekuasaan. Ia bisa tumbuh dari pinggiran, selama ada keberanian untuk bermimpi dan komitmen untuk membangun. Dalam aliran sejarah yang terus bergerak, Universitas Tanjungpura bukan sekadar saksi zaman—ia adalah bagian dari perjalanan Kalimantan Barat menuju masa depan yang lebih berpengetahuan.



Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Dari Tepi Kapuas ke Pusat Ilmu: Sejarah Universitas Tanjungpura
  • Dari Tepi Kapuas ke Pusat Ilmu: Sejarah Universitas Tanjungpura
  • Dari Tepi Kapuas ke Pusat Ilmu: Sejarah Universitas Tanjungpura
  • Dari Tepi Kapuas ke Pusat Ilmu: Sejarah Universitas Tanjungpura
  • Dari Tepi Kapuas ke Pusat Ilmu: Sejarah Universitas Tanjungpura
  • Dari Tepi Kapuas ke Pusat Ilmu: Sejarah Universitas Tanjungpura
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad