Scroll untuk melanjutkan membaca

George Orwell, Buku 1984 dan Dunia Pengawasan Digital Hari Ini

 

Ilustrasi editorial bergaya minimalis menampilkan seorang pria sedang membaca novel 1984 karya George Orwell di tengah kerumunan orang yang sibuk menatap ponsel
Ilustrasi refleksi atas relevansi novel 1984 karya George Orwell di era digital, ketika pengawasan, data, dan kontrol informasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. / Muhammad Jazuli / Nalar Merdeka 

Nalarmerdeka.com – George Orwell menulis 1984 pada 1949, dari sebuah pulau terpencil di Skotlandia, dalam kondisi tubuh yang sekarat akibat tuberkulosis. Ia tidak bermaksud membuat prediksi — ia bermaksud memberi peringatan. Tujuh dekade kemudian, sebagian dari apa yang ia gambarkan masih terasa seperti fiksi distopia. Tapi sebagian lainnya sudah sangat mirip dengan dunia yang kita tinggali hari ini — dan batas antara keduanya semakin tipis.

Dunia Oceania dan Apa yang Menjadikannya Mengerikan

1984 berlatar di negara totaliter bernama Oceania yang diperintah oleh Partai di bawah figur misterius bernama Big Brother. Protagonis Winston Smith bekerja di Kementerian Kebenaran — departemen yang tugasnya merevisi catatan sejarah agar selalu sesuai dengan narasi Partai yang terus berubah.

Di Oceania, setiap warga diawasi melalui telescreen — layar dua arah yang tidak bisa dimatikan. Thought Police mengawasi bukan hanya tindakan tapi pikiran. Bahasa sendiri dimanipulasi melalui Newspeak — kosa kata yang sengaja dipersempit untuk membuat pemikiran yang bertentangan dengan Partai secara literal tidak bisa diungkapkan.

Yang membuat Orwell jenius bukan bahwa ia menggambarkan teknologi yang canggih — tapi bahwa ia memahami bagaimana kekuasaan bekerja pada level psikologis yang paling mendasar.

Apa yang Sudah Menjadi Nyata

Ketika 1984 ditulis, telescreen adalah fiksi ilmiah. Hari ini kita membawa telescreen di saku kita — dan berbeda dari telescreen Orwell yang dipaksakan, kita membeli sendiri dan membawanya kemana-mana dengan sukarela.

Ponsel pintar, smart TV, asisten virtual seperti Siri dan Alexa — semua adalah perangkat yang secara teknis mampu merekam percakapan, melacak lokasi, dan menganalisis perilaku kita. Perusahaan teknologi mengetahui lebih banyak tentang kebiasaan, preferensi, bahkan suasana hati kita daripada orang-orang terdekat kita.

Kita tidak hidup di bawah totalitarisme Oceania. Tapi kita hidup di era di mana infrastruktur pengawasan yang Orwell gambarkan sudah ada — pertanyaannya hanya siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa.

Newspeak di Era Post-Truth

Konsep Newspeak — manipulasi bahasa untuk membatasi kemampuan berpikir kritis — mendapat relevansi baru di era post-truth dan alternative facts.

Orwell memahami bahwa siapa yang mengontrol bahasa mengontrol pikiran. Ketika kata-kata kehilangan makna presisinya, ketika "kebenaran" menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasi, ketika pernyataan yang bertentangan bisa keduanya dianggap benar tergantung pada kepentingan — kita sedang hidup dalam logika Newspeak, meski tidak ada Partai yang sengaja merancangnya.

Doublethink — kemampuan untuk memegang dua keyakinan yang bertentangan sekaligus dan tidak merasakan kontradiksinya — juga bukan lagi sekadar fiksi bagi siapapun yang memperhatikan wacana politik kontemporer.

Yang Orwell Tidak Antisipasi

Orwell mengimajinasikan totalitarisme yang dipaksakan dari atas ke bawah — negara yang memaksa warganya untuk diawasi. Yang ia tidak antisipasi adalah sesuatu yang dalam banyak hal lebih mengkhawatirkan: totalitarisme yang kita pilih sendiri.

Kita secara sukarela membagikan lokasi kita, jadwal harian kita, opini politik kita, dan bahkan perasaan terdalam kita kepada perusahaan-perusahaan yang model bisnisnya bergantung pada mengeksploitasi data tersebut. Kita tidak dipaksa — kita mau, karena imbalannya adalah kenyamanan, hiburan, dan validasi sosial.

Ini adalah versi pengawasan yang lebih canggih dari yang Orwell bayangkan — karena ia tidak membutuhkan paksaan.

Membaca 1984 sebagai Alat Berpikir, Bukan Ramalan

Kesalahan terbesar dalam membaca 1984 adalah memperlakukannya sebagai ramalan yang harus dipenuhi atau dibantah secara harfiah. Nilai sesungguhnya buku ini adalah sebagai alat berpikir — serangkaian pertanyaan yang membantu kita mengenali mekanisme kekuasaan, manipulasi, dan pengawasan dalam bentuk apapun yang mereka hadir.

Apakah narasi yang kita konsumsi hari ini sedang dimanipulasi oleh kepentingan tertentu? Apakah bahasa yang kita gunakan sedang dipersempit dengan cara yang membatasi pemikiran kita? Apakah kenyamanan yang ditawarkan teknologi sebanding dengan privasi dan otonomi yang kita serahkan?

Orwell tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu untuk kita. Tapi ia memberi kita kerangka untuk mengajukannya.

Orwell menulis di halaman terakhir 1984 tentang kemenangan Big Brother atas pikiran Winston — kemenangan yang terasa seperti kekalahan total. Tapi pesan sesungguhnya buku itu bukan pesimisme — ia adalah urgensi. Selama kita masih bisa membaca, mempertanyakan, dan tidak setuju, Big Brother belum menang. Pertanyaannya: apakah kita menggunakan kemampuan itu sebelum terlambat?

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • George Orwell, Buku 1984 dan Dunia Pengawasan Digital Hari Ini
  • George Orwell, Buku 1984 dan Dunia Pengawasan Digital Hari Ini
  • George Orwell, Buku 1984 dan Dunia Pengawasan Digital Hari Ini
  • George Orwell, Buku 1984 dan Dunia Pengawasan Digital Hari Ini
  • George Orwell, Buku 1984 dan Dunia Pengawasan Digital Hari Ini
  • George Orwell, Buku 1984 dan Dunia Pengawasan Digital Hari Ini
Posting Komentar