Nalarmerdeka.com – Kenapa kita masih perlu membahas tragedi yang terjadi puluhan tahun lalu? Pertanyaan ini terasa relevan ketika DEMA Universitas Al-Qolam Malang menggelar Dialog Bebas bertajuk "Dari Luka Menjadi Suara, dari Ingatan Menjadi Perlawanan" pada Selasa, 15 September 2026. Jawabannya sederhana: sejarah kelam yang tidak dirawat gampang terulang, dan mahasiswa punya peran menjaga ingatan itu tetap hidup.
Kolaborasi Lintas Kampus untuk Merawat Ingatan
Dialog ini digelar sebagai bagian dari momentum September Hitam, sebutan untuk rentetan tragedi pelanggaran HAM yang terjadi sepanjang bulan September di Indonesia. Kegiatan merupakan hasil kolaborasi DEMA Universitas Al-Qolam Malang, Aliansi BEM Kabupaten Malang, dan Aliansi BEM Nusantara Jawa Timur, diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai kampus se-Malang Raya. Empat narasumber hadir: Syuhada' (Presiden Mahasiswa Al-Qolam), Alfarisi (Koordinator Aliansi BEM Kabupaten Malang), Deni Oktaviani (Koordinator Aliansi BEM Nusantara Jawa Timur), dan Am Adib Abidatama (Sekretaris Daerah Aliansi BEM Nusantara Jawa Timur).
Membuka Kembali Catatan Kelam Bangsa
Diskusi mengajak peserta mengulas kembali sejumlah peristiwa yang membentuk sejarah HAM Indonesia: tragedi 1965–1966, Tanjung Priok, Semanggi I, Semanggi II, hingga pembunuhan aktivis Munir Said Thalib. Bagi kita, deretan peristiwa ini bukan sekadar tanggal yang dihafal di buku sejarah. Di baliknya ada korban, keluarga yang kehilangan, dan luka yang belum sepenuhnya pulih hingga kini.
Dari Sejarah ke Persoalan Hari Ini
Dialog tidak berhenti pada masa lalu. Peserta juga menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus yang melibatkan prajurit TNI sebagai terdakwa, sebagai pengingat bahwa perlindungan warga negara dan transparansi hukum masih jadi pekerjaan rumah bersama. Selain itu, program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) turut dikritisi, terutama menyusul sejumlah kasus dugaan keracunan pasca-konsumsi makanan MBG di Sidoarjo dan beberapa daerah lain. Kita bisa melihat ini sebagai desakan agar pemerintah mengevaluasi tata kelola MBG secara menyeluruh, dari kualitas makanan sampai mekanisme pertanggungjawaban.
Kritik Bukan Berarti Menolak
Salah satu poin penting dari dialog ini adalah penegasan bahwa kritik mahasiswa terhadap kebijakan publik bukan bentuk penolakan semata, melainkan kontrol sosial. Kita sebagai mahasiswa punya ruang sekaligus tanggung jawab mengawal kebijakan agar dijalankan secara transparan dan bertanggung jawab. Prinsip ini sejalan dengan semangat menjaga demokrasi tetap sehat, bukan sekadar mencari panggung untuk bersuara.
Sejarah Bukan Sekadar Tanggal
Momentum September Hitam menegaskan bahwa sejarah tidak boleh direduksi jadi kumpulan tanggal dan nama. Merawat ingatan menjadi penting supaya generasi muda tidak kehilangan kepekaan terhadap nilai kemanusiaan dan keadilan. Dialog Bebas ini pada akhirnya bukan sekadar ruang bicara, tapi ruang membangun kesadaran kolektif.
Dari luka, kita belajar bersuara. Dari ingatan, kita membangun keberanian untuk bergerak—bukan untuk memelihara kebencian, melainkan memastikan kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi tetap dijaga. Pertanyaannya sekarang, sudah cukupkah kita, sebagai mahasiswa, ikut merawat ingatan itu, atau justru lebih nyaman membiarkan sejarah perlahan dilupakan?
Penulis: M. Afin Albarizy (Menteri Luar Negeri DEMA UQM)
Redaktur: Muhammad Jazuli
