Nalarmerdeka.com – Malang disebut kota pendidikan. Tapi berapa banyak mahasiswanya yang masih membaca buku setelah ujian selesai? Pertanyaan itu mungkin terdengar menusuk, tapi justru di situlah kader-kader PMII Al Hikam memulai gerakannya. Mereka menggelar mabar buku — membaca bareng buku — di Taman Marjo. Bukan di ruang kelas. Bukan di perpustakaan. Di taman, terbuka untuk siapa saja.
Ketika Diskusi Pindah ke Beranda
Kita hidup di era di mana informasi berlimpah, tapi pemahaman semakin dangkal. Media sosial mempercepat komunikasi, tapi memangkas kedalaman berpikir. Banyak mahasiswa lebih hafal trending topic daripada argumen tokoh yang sedang mereka pelajari. PMII Al Hikam membaca situasi ini sebagai alarm. Mereka percaya, mahasiswa punya tanggung jawab moral — bukan sekadar mengejar IPK.
Mabar buku bukan program besar dengan anggaran besar. Peserta berkumpul, membawa buku, membaca, lalu berdiskusi. Sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itulah ruang berpikir kritis mulai tumbuh kembali.
Taman sebagai Ruang Perlawanan
Pemilihan Taman Marjo bukan kebetulan. Ruang publik punya kekuatan simbolik: literasi bukan milik akademisi atau mereka yang punya akses ke perpustakaan besar. Literasi adalah hak semua orang.
Ketika buku dibawa ke taman, ada pesan yang dikirimkan — bahwa berpikir bisa terjadi di mana saja. Kehadiran masyarakat umum di kegiatan ini menjadi bukti bahwa minat intelektual belum mati. Ia hanya perlu difasilitasi.
![]() |
| Kader PMII Al Hikam menggelar Mabar (membaca buku bareng) di Taman Marjo Malang. / Foto: Dok. PMII Al Hikam |
Merespons Narasi "Malang Sudah Mati"
Belakangan, sering kita dengar ungkapan itu — Malang sudah mati. Ruang kreatif menyempit. Diskusi mahasiswa semakin jarang. Aktivitas intelektual yang dulu jadi ciri khas kota ini terasa makin sunyi.
Kader PMII Al Hikam menolak menerima narasi itu begitu saja. Mereka tidak menunggu kondisi ideal. Mereka bergerak dengan apa yang ada — buku, teman, dan sepotong taman.
Perubahan besar jarang lahir dari satu langkah besar. Lebih sering, ia tumbuh dari komunitas kecil yang konsisten.
Literasi sebagai Praktik, Bukan Slogan
Yang menarik dari mabar buku ini bukan hanya soal membaca. Peserta belajar mendengarkan pendapat orang lain. Mereka belajar menyampaikan argumen secara logis. Mereka terbiasa berhadapan dengan sudut pandang yang berbeda dari miliknya.
Itu bukan hal kecil. Di tengah budaya echo chamber media sosial, kemampuan berdialog secara substantif adalah keterampilan yang langka.
Taman Marjo hari ini mungkin hanya diisi sekelompok mahasiswa dengan tumpukan buku. Tapi kalau kita bicara soal kebangkitan budaya intelektual, bukankah semua gerakan besar memang selalu dimulai dari lingkaran kecil yang belum banyak diperhatikan? Pertanyaannya: siapa lagi yang akan ikut membawa buku ke ruang publik, sebelum kita benar-benar kehilangan tradisi berpikir itu?
Sumber: Press release PMII Al-Hikam
Redaktur: Muhammad Jazuli

