Nalarmerdeka.com – Ada penulis yang bukunya dilarang, dibakar, dan dinyatakan berbahaya oleh negara. Ada penulis yang dipenjara selama empat belas tahun tanpa pernah diadili. Ada penulis yang karyanya diterjemahkan ke lebih dari empat puluh bahasa dan dinominasikan berulang kali untuk Nobel Sastra — tapi tidak pernah mendapat penghargaan sastra bergengsi apapun di negerinya sendiri selama puluhan tahun. Pramoedya Ananta Toer adalah semua itu sekaligus — dan kisahnya adalah cermin dari sejarah Indonesia yang paling tidak nyaman.
Blora, Penjajahan, dan Akar Kepenulisan Pram
Pramoedya Ananta Toer lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Ia tumbuh di keluarga yang tidak kaya — ayahnya seorang guru, ibunya seorang pedagang. Tapi dari ayahnya ia mendapat sesuatu yang lebih berharga dari kekayaan: keyakinan bahwa pendidikan dan pengetahuan adalah satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan dan penindasan.
Masa mudanya dibentuk oleh penjajahan Belanda dan kemudian pendudukan Jepang. Pengalaman hidup di bawah kolonialisme bukan sekadar latar belakang bagi Pram — ia menjadi bahan bakar yang tidak pernah habis bagi seluruh kepenulisannya. Ketidakadilan, martabat manusia, dan perlawanan terhadap penindasan adalah tema yang akan ia kerjakan ulang dalam berbagai bentuk sepanjang hidupnya.
Penjara Pertama: Kolonial Belanda
Pram pertama kali dipenjara bukan oleh Orde Baru — tapi oleh Belanda. Pada 1947, di tengah Revolusi Kemerdekaan Indonesia, ia ditangkap oleh tentara kolonial Belanda dan dipenjara di Bukit Duri, Jakarta selama dua tahun.
Alih-alih membungkam kepenulisannya, penjara justru menghasilkan beberapa karya paling awalnya yang penting. Dari balik jeruji, Pram menulis — karena menulis adalah satu-satunya bentuk kebebasan yang tidak bisa dirampas.
Tetralogi Buru: Karya Agung yang Lahir dari Pengasingan
Karya terbesar Pram — Tetralogi Pulau Buru yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca — lahir dalam kondisi yang hampir tidak masuk akal: ia menceritakan kisah-kisah itu secara lisan kepada sesama tahanan di Pulau Buru, sebelum akhirnya bisa dituliskan.
Setelah bebas, tetralogi ini diterbitkan dan menjadi sensasi sastra. Bumi Manusia dengan tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh dianggap sebagai salah satu novel terbesar yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia — sebuah potret Indonesia pada masa kolonial yang sekaligus adalah meditasi tentang identitas, kesadaran, dan perlawanan.
Tapi pada 1981, pemerintah Orde Baru melarang seluruh tetralogi. Buku-buku itu dinyatakan berbahaya dan subversif. Memilikinya bisa mengundang masalah dengan aparat.
Empat Belas Tahun di Pulau Buru
Setelah peristiwa 1965, Pram ditangkap dan diasingkan ke Pulau Buru — pulau terpencil di Maluku yang menjadi tempat pembuangan ribuan tahanan politik tanpa pengadilan. Ia menghabiskan empat belas tahun di sana, dari 1965 hingga 1979.
Tidak ada tuduhan resmi. Tidak ada persidangan. Hanya pembuangan — karena ia dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas menulis dan berpikir.
Di Pulau Buru, kondisi hidup sangat keras. Tapi Pram tetap menulis — dalam keterbatasan yang hampir tidak terbayangkan.
Warisan yang Tidak Bisa Dibakar
Pram meninggal pada 30 April 2006, di usia 81 tahun. Ia tidak pernah mendapat Nobel — meski berkali-kali masuk daftar pendek nominasi. Di Indonesia sendiri, pengakuan atas karyanya datang terlambat dan masih penuh ambiguitas politik.
Tapi warisannya tidak bisa dibakar seperti buku-bukunya pernah dibakar. Bumi Manusia diadaptasi menjadi film pada 2019 dan ditonton jutaan orang. Tetralogi Buru terus dibaca oleh generasi baru. Dan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan dalam karyanya — tentang martabat manusia, tentang keadilan, tentang apa artinya menjadi manusia yang merdeka — masih sangat relevan.
Pram pernah berkata bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Ia membuktikan sendiri kebenaran kata-katanya — dengan bertahan menulis dalam kondisi yang dirancang untuk membungkam. Pertanyaannya untuk kita: apa yang kita tulis, katakan, atau lakukan yang cukup berani untuk membuat penguasa tidak nyaman?
Penulis: Muhammad Jazuli
