Scroll untuk melanjutkan membaca

Kenapa Radikalisme Justru Tumbuh di Kalangan Terdidik?

 

Ilustrasi minimalis bergaya editorial menampilkan sosok besar tanpa wajah mengendalikan seorang pemuda seperti boneka marionet dengan tali.
Ilustrasi seorang mahasiswa yang berada di bawah kendali tangan-tangan tak terlihat, melambangkan bagaimana pencarian identitas, makna, dan kepastian dapat membuat individu berpendidikan tetap rentan terhadap pengaruh ideologi ekstrem. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli 

Nalarmerdeka.com – Kita sering berasumsi bahwa pendidikan adalah vaksin terbaik melawan radikalisme. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin ia kebal dari ideologi ekstrem. Tapi data dari berbagai penelitian — dan kenyataan di lapangan — menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks dan lebih menggelisahkan: radikalisme tidak hanya tumbuh di kalangan yang tidak berpendidikan. Ia juga tumbuh — kadang justru lebih subur — di kampus-kampus, di kalangan mahasiswa, dan di antara mereka yang punya gelar akademis.

Ketika Fakta Tidak Sesuai Asumsi

Beberapa nama pelaku serangan teror paling berpengaruh dalam sejarah kontemporer adalah orang-orang berpendidikan tinggi. Mohamed Atta, pemimpin pembajak 9/11, adalah mahasiswa teknik. Ayman al-Zawahiri adalah dokter spesialis bedah. Di Indonesia sendiri, penelitian BNPT dan berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi bukan kelompok yang kebal dari paparan ideologi radikal.

Ini bukan argumen bahwa pendidikan tidak penting. Tapi ia adalah sinyal bahwa pendidikan saja — dalam arti penguasaan pengetahuan teknis atau akademis — tidak otomatis membangun ketahanan terhadap radikalisme.

Kecerdasan Bisa Menjadi Alat Rasionalisasi

Ini adalah ironi yang tidak nyaman: kecerdasan dan kemampuan analitis yang tinggi tidak selalu membuat seseorang lebih resistens terhadap ideologi ekstrem. Dalam beberapa kasus, justru sebaliknya.

Orang yang cerdas lebih mampu membangun argumen yang koheren untuk membenarkan keyakinan yang sudah ada — proses yang psikolog sebut motivated reasoning. Mereka bisa menggunakan kemampuan analitis mereka untuk merasionalisasi ideologi yang pada dasarnya sudah mereka peluk karena alasan emosional atau identitas — bukan karena analisis yang netral.

Dengan kata lain, kecerdasan bukan pelindung dari bias — ia sering justru membuat bias lebih canggih dan lebih sulit dibantah.

Krisis Makna dan Kebutuhan akan Identitas yang Kuat

Salah satu faktor yang paling konsisten dalam penelitian tentang radikalisasi adalah kebutuhan psikologis akan makna, tujuan, dan identitas yang kuat — terutama di kalangan anak muda yang sedang dalam fase pembentukan diri.

Kampus adalah lingkungan yang paradoksal untuk ini. Di satu sisi, ia membuka wawasan dan memperkenalkan ide-ide baru. Di sisi lain, ia juga bisa menciptakan disorientasi identitas — jauh dari keluarga, berhadapan dengan nilai-nilai yang bertentangan, menghadapi tekanan akademis dan sosial yang intens.

Ideologi radikal menawarkan sesuatu yang sangat menarik dalam kondisi ini: kepastian yang absolut, identitas yang jelas dan kuat, komunitas yang solid, dan narasi yang memberikan makna bagi penderitaan dan ketidakadilan yang dirasakan.

Peran Lingkungan Sosial dan Jaringan

Radikalisasi hampir tidak pernah terjadi dalam isolasi. Ia terjadi dalam jaringan sosial — kelompok kajian yang eksklusif, komunitas online yang tertutup, lingkaran pertemanan yang homogen secara ideologis.

Di kampus, kelompok-kelompok ini bisa terbentuk dengan sangat mudah. Mahasiswa yang merasa terasing, yang sedang mencari identitas, atau yang memiliki ketidakpuasan sosial yang kuat adalah target yang rentan — bukan karena mereka bodoh, tapi justru karena mereka serius mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar.

Pendidikan Kritis sebagai Antidot — Bukan Pendidikan Saja

Perbedaan kunci bukan antara berpendidikan dan tidak berpendidikan — tapi antara pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis dan pendidikan yang hanya mentransfer konten.

Pendidikan yang mengajarkan bagaimana mempertanyakan asumsi, bagaimana mengevaluasi argumen dari berbagai sudut pandang, bagaimana merasa nyaman dengan ambiguitas dan ketidakpastian — inilah yang membangun ketahanan terhadap ideologi ekstrem yang menawarkan kepastian palsu.

Sayangnya, ini bukan jenis pendidikan yang dominan di banyak institusi kita.

Jika pendidikan tidak otomatis mencegah radikalisme, maka pertanyaan yang lebih penting adalah: pendidikan seperti apa yang bisa? Dan apakah sistem pendidikan kita hari ini sedang membangun pemikir yang kritis dan tahan terhadap manipulasi — atau hanya menghasilkan orang-orang bergelar yang tetap rentan karena tidak pernah diajarkan cara mempertanyakan keyakinan mereka sendiri?

Penulis: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Kenapa Radikalisme Justru Tumbuh di Kalangan Terdidik?
  • Kenapa Radikalisme Justru Tumbuh di Kalangan Terdidik?
  • Kenapa Radikalisme Justru Tumbuh di Kalangan Terdidik?
  • Kenapa Radikalisme Justru Tumbuh di Kalangan Terdidik?
  • Kenapa Radikalisme Justru Tumbuh di Kalangan Terdidik?
  • Kenapa Radikalisme Justru Tumbuh di Kalangan Terdidik?
Posting Komentar