Nalarmerdeka.com – Ada kalimat yang ditulis John Dewey lebih dari seabad lalu yang terasa seperti kritik langsung terhadap sistem pendidikan Indonesia hari ini: "Jika kita mengajar siswa hari ini seperti kemarin, kita merampas hari esok mereka." Sekolah yang meminta siswa menghafal fakta untuk ujian, kurikulum yang tidak relevan dengan kehidupan nyata, guru yang lebih banyak bicara sementara siswa duduk diam — semua itu adalah persis sistem yang Dewey lawan habis-habisan pada awal abad ke-20. Dan kenyataan bahwa perdebatan yang sama masih terjadi hari ini bukan menunjukkan bahwa Dewey tidak relevan. Justru sebaliknya — ia menunjukkan betapa sulitnya mengubah institusi yang sudah terlanjur nyaman dengan cara lama.
Siapa John Dewey dan Mengapa Ia Penting
John Dewey lahir pada 20 Oktober 1859 di Burlington, Vermont, Amerika Serikat, dan meninggal pada 1 Juni 1952 — hidup 92 tahun dan menulis hingga akhir hayatnya. Ia adalah filsuf, psikolog, dan reformator pendidikan yang pengaruhnya terasa tidak hanya di Amerika tapi di seluruh dunia.
Dalam sejarah pendidikan, sedikit tokoh yang memiliki pengaruh sebesar John Dewey. Filosof dan pendidik asal Amerika Serikat ini dikenal sebagai salah satu pemikir paling visioner yang membentuk dasar-dasar pendidikan progresif. Inti dari kontribusinya adalah filosofi learning by doing — sebuah pendekatan revolusioner yang menempatkan pengalaman langsung dan aktivitas praktis sebagai fondasi pembelajaran yang bermakna.
Untuk memahami betapa radikalnya Dewey di zamannya, kita perlu melihat konteks yang ia hadapi. Pada masa itu, sistem pendidikan didominasi oleh model tradisional yang bersifat otoriter, berpusat pada guru, dan menekankan pada hafalan fakta serta pengulangan informasi. Kurikulum seringkali tidak relevan dengan kehidupan nyata siswa, dan lingkungan belajar cenderung pasif, di mana siswa diharapkan hanya duduk diam dan menyerap pengetahuan yang disampaikan oleh guru.
Apakah deskripsi itu terasa familiar? Seharusnya iya.
Learning by Doing: Lebih Dari Sekadar Belajar Sambil Praktik
Konsep learning by doing Dewey sering disederhanakan menjadi "belajar sambil praktik" — seolah artinya cukup menambahkan eksperimen lab atau kegiatan lapangan ke dalam kurikulum yang sudah ada. Tapi Dewey bermaksud jauh lebih dalam dari itu.
Filsafat progresivisme John Dewey menekankan bahwa pelajar harus belajar dari pengalaman hidupnya sendiri, dan pembelajaran harus relevan dengan kehidupan sehari-hari. Teori yang tidak dihubungkan dengan praktik hanya akan membuat pelajar kebingungan dalam menentukan arah dan tujuan hidup.
Yang Dewey maksud dengan "pengalaman" bukan sekadar kegiatan fisik. Ia adalah pertemuan bermakna antara pikiran dan dunia — momen di mana siswa menghadapi masalah nyata, mencoba solusi, menghadapi konsekuensi, dan merefleksikan apa yang mereka pelajari. Ini sangat berbeda dari mengerjakan soal latihan di buku teks yang jawabannya sudah ada di halaman belakang.
Tujuan pendidikan menurut Dewey adalah untuk membimbing murid melalui dorongan dan minat spontannya, untuk mencapai pertumbuhan melalui partisipasi dan refleksi dalam cara-cara hidup yang demokratis; murid akan mengembangkan kapasitasnya untuk beradaptasi secara elastis dalam masyarakat yang demokratis. Perhatikan kata-katanya: dorongan dan minat spontan. Dewey percaya bahwa rasa ingin tahu anak adalah bahan bakar terbaik untuk belajar — dan tugas pendidik adalah menyalurkannya, bukan memadamkannya dengan hafalan yang tidak bermakna.
Sekolah sebagai Laboratorium Demokrasi
Dewey tidak memisahkan pendidikan dari politik. Baginya, keduanya tidak bisa dan tidak seharusnya dipisahkan. Nilai-nilai demokrasi universal akan tumbuh dan menjadi sikap manakala nilai tersebut disampaikan kepada masyarakat melalui jalur pendidikan. Dengan demikian, demokrasi dalam arti nilai — bukan sistem pemerintahan — menurut Dewey mesti tumbuh terlebih dahulu di sekolah-sekolah, sebelum menjadi nilai setiap warga negara yang kemudian menjelma menjadi nilai dalam bernegara.
Ini adalah gagasan yang sangat penting dan sangat jarang benar-benar dipraktikkan: bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar matematika dan bahasa, tapi tempat di mana anak-anak belajar bagaimana cara hidup bersama dalam komunitas yang beragam. Mereka belajar mendengar, berdebat, menghormati perbedaan pendapat, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan bersama. Semua itu adalah keterampilan demokrasi yang tidak bisa diajarkan hanya melalui buku teks kewarganegaraan.
Dewey mendirikan Laboratory School di Universitas Chicago pada 1896 — sebuah sekolah eksperimental di mana ide-idenya diterapkan secara nyata. Anak-anak belajar dengan mengerjakan proyek kolaboratif, mengunjungi komunitas di sekitar sekolah, dan memecahkan masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Hasilnya, menurut laporan yang ada, adalah siswa yang lebih termotivasi, lebih mampu berpikir kritis, dan lebih siap menghadapi kompleksitas kehidupan dewasa.
Instrumentalisme: Pengetahuan Harus Berguna untuk Sesuatu
Di balik semua gagasan Dewey tentang pendidikan ada satu keyakinan filosofis yang lebih mendasar: pragmatisme atau yang ia kembangkan menjadi instrumentalisme. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman.
Dalam bahasa yang lebih sederhana: pengetahuan bukan sesuatu yang ada di dalam buku dan dipindahkan ke kepala siswa. Pengetahuan adalah sesuatu yang dibangun melalui interaksi dengan dunia, diuji melalui pengalaman, dan terus diperbarui seiring kita belajar lebih banyak. Ini adalah pandangan yang sangat berbeda dari model pendidikan tradisional yang menempatkan guru sebagai sumber kebenaran dan siswa sebagai wadah yang harus diisi.
Implikasinya radikal: kalau pengetahuan adalah alat untuk memecahkan masalah — bukan benda yang disimpan — maka pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengajarkan siswa bagaimana menggunakan alat-alat itu dalam situasi nyata, bukan bagaimana menyimpan sebanyak mungkin alat di kepala tanpa tahu cara menggunakannya.
Dewey dan Pendidikan Indonesia: Jarak yang Masih Jauh
Prinsip Dewey meliputi learning by doing, diskusi, interaktif, dan interdisipliner. Analisis menunjukkan peluang penerapan konsep sekolah sebagai laboratorium demokrasi dan model pendidikan progresif John Dewey di Indonesia.
Peluang itu ada — tapi jarak antara peluang dan kenyataan masih sangat jauh. Kurikulum Merdeka Belajar mengambil beberapa elemen Deweyian — project-based learning, otonomi guru, relevansi konteks lokal. Tapi implementasinya berbenturan dengan sistem evaluasi yang masih sangat berorientasi pada nilai ujian, infrastruktur sekolah yang tidak merata, dan guru yang sudah terlanjur dilatih dengan cara lama.
Dewey juga tidak pernah berkata bahwa pendidikan progresif itu mudah. Melalui pemikiran John Dewey tentang progresivisme dan pragmatisme, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar kumpulan teori dan hafalan. Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri — proses aktif, dinamis, dan berpusat pada peserta didik. Pendidikan yang hidup tidak bisa tumbuh di dalam sistem yang hanya menghargai angka di atas kertas.
Warisan yang Masih Diperdebatkan dan Masih Dibutuhkan
Dewey bukan tanpa kritik. Beberapa pendidik menilai bahwa penekanannya yang terlalu kuat pada pengalaman dan relevansi praktis bisa mengorbankan pembelajaran sistematis yang juga dibutuhkan anak — dasar-dasar matematika, literasi, dan sains tidak bisa selalu diajarkan hanya melalui proyek kolaboratif. Ada keseimbangan yang perlu ditemukan.
Tapi kritik itu tidak menghapus relevansi fundamentalnya: bahwa sistem pendidikan yang baik harus dimulai dari pertanyaan untuk siapa pendidikan ini ada? Bukan untuk memenuhi indikator kementerian. Bukan untuk memuaskan ekspektasi orang tua tentang universitas favorit. Tapi untuk anak yang duduk di kursi itu setiap hari — dengan rasa ingin tahu yang perlu dipelihara, dengan potensi yang perlu diberi ruang, dan dengan masa depan yang belum bisa kita bayangkan.
Kalau John Dewey menulis bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri — bukan persiapan untuk kehidupan — dan kita masih membangun sistem yang memperlakukan 12 tahun masa sekolah sebagai batu loncatan menuju ujian nasional, mungkin pertanyaan yang paling jujur adalah: apakah kita benar-benar mendidik anak-anak kita, atau kita hanya menyibukkan mereka sambil menunggu mereka cukup besar untuk menghadapi kehidupan yang nyata?
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Media-Edukasi.id, "John Dewey dan Filosofi Learning by Doing dalam Pendidikan Progresif" (Mei 2026)
- Sabili.id, "Pemikiran Pendidikan dan Demokrasi ala John Dewey"
- Kumparan, "Teori dan Pemikiran John Dewey dalam Pendidikan" (April 2026)
- Ushuliyyah.com, "Pendidikan Progresif dalam Pemikiran John Dewey" (Mei 2025)
- John Dewey, Democracy and Education (1916, Macmillan)
- John Dewey, Experience and Education (1938, Kappa Delta Pi)
