Scroll untuk melanjutkan membaca

Ayatullah Baqir Shadr: Pendiri Ekonomi Islam Modern

Ilustrasi vektor bergaya editorial menampilkan Baqir Shadr, seorang ulama dan pemikir Muslim berjanggut yang sedang menulis di atas buku terbuka
Ilustrasi editorial yang merepresentasikan upaya merumuskan sistem ekonomi dan pemikiran sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam sebagai alternatif terhadap berbagai paradigma ekonomi modern. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Empat puluh lima tahun setelah kematiannya yang tragis, nama Ayatullah Muhammad Baqir al-Sadr kembali muncul di pemberitaan internasional, setelah salah satu perwira yang mengawasi penangkapan dan pembunuhannya akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Irak. Namun siapa sebenarnya ulama ini, dan mengapa pemikirannya begitu ditakuti hingga rezim Saddam Hussein memilih membungkamnya secara paling brutal?

Latar Belakang: Lahir dari Keluarga Ulama, Besar dalam Kesulitan

Muhammad Baqir al-Sadr lahir pada 1 Maret 1935 di Kadhimiyah, pinggiran utara Baghdad, dari keluarga ulama Syiah terpandang yang garis keturunannya ditelusuri hingga Nabi Muhammad melalui Imam Musa al-Kazhim. Ayahnya, Haydar al-Sadr, seorang ulama tinggi yang wafat pada 1937 ketika Baqir masih kanak-kanak, meninggalkan keluarga dalam kesulitan ekonomi yang cukup berat.

Meski demikian, ia tumbuh mengikuti jejak keluarganya sebagai cendekiawan, menempuh pendidikan tradisional di hauzah-hauzah Irak, mempelajari fikih, ushul fikih, dan teologi hingga dikenal sebagai salah satu pemikir paling cemerlang di generasinya.

Fakta dan Data: Dua Karya yang Mengguncang Dunia Pemikiran Islam

Reputasi Baqir al-Sadr melejit lewat dua karya besarnya, Falsafatuna (Filsafat Kita) yang terbit pada 1959, dan Iqtishaduna (Ekonomi Kita) yang terbit pada 1961. Dalam Iqtishaduna, ia membangun kritik sistematis terhadap dua ideologi ekonomi dunia yang paling dominan saat itu, kapitalisme dan Marxisme, sekaligus menawarkan kerangka ekonomi Islam sebagai alternatif ketiga.

Karya ini begitu berpengaruh sehingga melahirkan mazhab pemikiran ekonomi Islam tersendiri yang dikenal sebagai Mazhab Baqir al-Sadr, dan ia pun dikenal luas sebagai pendiri ideologis Partai Dawa Islam, salah satu gerakan politik Syiah paling berpengaruh di Irak modern.

Analisis Kritis: Ekonomi Islam sebagai Doktrin, Bukan Sekadar Kebijakan

Yang membedakan pemikiran Baqir al-Sadr dari kebanyakan penulis ekonomi Islam lainnya adalah caranya memposisikan ekonomi Islam bukan sebagai ilmu positif yang lahir dari fenomena sosial semata, melainkan sebagai doktrin agama yang menyediakan prinsip dasar permanen, namun tetap menyisakan ruang luas bagi kebijakan yang fleksibel sesuai zaman.

Dari titik pijak itu, ia merumuskan konsep kepemilikan berganda, yang mengakui hak milik pribadi sekaligus menempatkan negara dan kepemilikan publik sebagai penyeimbang, untuk mencegah baik eksploitasi ala kapitalisme maupun penghapusan hak individu ala sosialisme. Menariknya, kerangka "jalan tengah" semacam ini lahir dari akar keagamaan yang jauh berbeda dengan gagasan serupa yang pernah ditulis pemikir kiri Indonesia seperti Soesilo Toer dalam Republik Jalan Ketiga, namun sama-sama lahir dari kegelisahan terhadap dua ideologi besar dunia yang dianggap gagal.

Dampak dan Implikasi: Dari Penjara hingga Kematian Tragis

Karya-karya kritisnya membuat Baqir al-Sadr berkali-kali ditangkap dan disiksa oleh Partai Baath. Ketika ia ditangkap pada 1977, saudarinya sendiri, Amina al-Sadr yang dikenal dengan nama pena Bint al-Huda, turun langsung berpidato di Masjid Imam Ali, Najaf, mengajak masyarakat berdemonstrasi hingga akhirnya memaksa rezim membebaskannya, meski kemudian ia ditempatkan dalam tahanan rumah.

Setelah Revolusi Islam Iran meletus pada 1979 dan kekhawatiran Saddam Hussein akan pemberontakan Syiah semakin meningkat, Baqir al-Sadr kembali ditangkap pada April 1980. Pada 9 April 1980, ia dan Bint al-Huda dieksekusi setelah disiksa berat, dengan laporan yang menyebutkan sebatang paku ditancapkan ke kepalanya sebelum tubuhnya dibakar di Najaf. Eksekusi ini nyaris tanpa kecaman dari negara-negara Barat kala itu, karena posisinya yang secara terbuka mendukung Ayatollah Khomeini di Iran.

Perspektif Alternatif: Martir Agama atau Tokoh Politik?

Bagi kalangan Syiah, Baqir al-Sadr dikenang sebagai "al-Shahid al-Khamis", martir kelima, dan pemikirannya terus menjadi rujukan gerakan ekonomi Islam hingga kini. Namun sejumlah sejarawan sekuler memandangnya lebih sebagai tokoh politik yang terlibat aktif dalam pemberontakan bersenjata melawan negara, bukan semata korban penindasan atas keyakinan. Perdebatan ini menunjukkan bagaimana satu sosok yang sama bisa dibaca sangat berbeda tergantung dari sudut pandang agama atau politik yang digunakan.

Kematian Baqir al-Sadr membuktikan satu hal yang berulang kali terjadi dalam sejarah: rezim otoriter sering kali lebih takut pada pena dan gagasan ketimbang senjata. Empat dekade lebih setelah kematiannya, pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah, gagasan siapa hari ini yang sedang dibungkam dengan cara yang sama, hanya karena dianggap terlalu berbahaya bagi kekuasaan?

Penulis: Muhammad Jazuli

Referensi & Sumber:

  • Wikipedia, "Muhammad Baqir al-Sadr", diakses 18 Juli 2026.
  • Ekonomi Syariah An-Nur, "Pemikiran Ekonom Islam Muhammad Baqir al-Sadr", diakses 18 Juli 2026.
  • Kurdistan24, "Iraq Executes Ex-Regime Officer Convicted of Killing Mohammed Baqir al-Sadr", diakses 18 Juli 2026.
Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Ayatullah Baqir Shadr: Pendiri Ekonomi Islam Modern
  • Ayatullah Baqir Shadr: Pendiri Ekonomi Islam Modern
  • Ayatullah Baqir Shadr: Pendiri Ekonomi Islam Modern
  • Ayatullah Baqir Shadr: Pendiri Ekonomi Islam Modern
  • Ayatullah Baqir Shadr: Pendiri Ekonomi Islam Modern
  • Ayatullah Baqir Shadr: Pendiri Ekonomi Islam Modern
Posting Komentar