Scroll untuk melanjutkan membaca

Betrayal Trauma: Teori Psikologi yang Menjelaskan Diam Panjang Korban Kekerasan di Pesantren

Ilustrasi vektor bergaya editorial menampilkan seorang santri perempuan berhijab yang memeluk buku dengan ekspresi sedih di tengah komposisi
Ilustrasi editorial yang merepresentasikan kondisi psikologis korban kekerasan yang memilih diam dalam waktu lama karena hubungan ketergantungan, kepercayaan, dan relasi kuasa dengan pelaku yang justru menjadi sumber perlindungan dalam kehidupannya. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Satu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren atau lembaga apapun terungkap adalah: kenapa baru lapor sekarang? Pertanyaan itu — yang terdengar seperti keraguan terhadap korban — sebenarnya mencerminkan ketidaktahuan yang sangat dalam tentang cara trauma bekerja di dalam otak dan tubuh manusia.

Di Pati, pelecehan berlangsung sejak 2020, baru dilaporkan pada 2024. Di Kuansing, seorang korban melahirkan di kamar pondok sebelum kasus akhirnya terbuka. Di Banyuwangi, laporan baru masuk setelah bertahun-tahun. Ini bukan kasus orang yang lambat atau penakut. Ini adalah cara otak manusia merespons pengkhianatan dari seseorang yang seharusnya melindunginya — dan psikologi punya nama yang sangat spesifik untuk itu.

Betrayal Trauma: Ketika Pengkhianat Adalah Pelindung

Betrayal Trauma Theory (Teori Trauma Pengkhianatan) dikembangkan oleh psikolog Jennifer Freyd pada 1990-an. Teori ini menjelaskan sesuatu yang sangat spesifik: bahwa ketika kekerasan dilakukan oleh seseorang yang juga menjadi sumber perlindungan dan kebutuhan dasar korban, otak merespons dengan cara yang berbeda dari trauma yang dilakukan oleh orang asing.

Dalam konteks pesantren, pengasuh atau kiai adalah figur yang menyediakan tempat tinggal, makanan, pendidikan, dan — yang paling penting — otoritas spiritual. Ketika figur yang sama itu melakukan kekerasan, otak korban menghadapi konflik yang sangat mendasar: mengakui kekerasan itu berarti kehilangan hubungan yang menjadi fondasi seluruh kehidupan sehari-hari. Pikiran bawah sadar memilih strategi bertahan yang paling mungkin: menyimpan pengetahuan tentang kekerasan itu di bagian yang tidak mudah diakses — sebuah proses yang disebut betrayal blindness (kebutaan pengkhianatan).

Ini bukan penyangkalan dalam arti tidak percaya. Ini adalah mekanisme adaptif yang memungkinkan korban tetap berfungsi dalam lingkungan di mana bergantung pada pelaku adalah kondisi yang tidak bisa dihindari. Bukan pilihan, tapi keharusan bertahan hidup.

Apa yang Terjadi di Otak saat Trauma Terjadi

Untuk memahami mengapa korban tidak langsung melawan atau melarikan diri, kita perlu memahami apa yang terjadi secara neurologis pada momen kekerasan. Otak tidak merespons ancaman yang datang dari figur otoritas dengan cara yang sama seperti merespons ancaman dari orang asing.

Ketika situasi mengancam dirasakan, amigdala — bagian otak yang memproses respons ancaman — mengaktifkan tiga respons: fight (melawan), flight (melarikan diri), atau freeze (membeku). Pada korban kekerasan oleh figur otoritas yang juga menjadi pelindung, respons freeze adalah yang paling umum — bukan karena korban lemah, tapi karena otak secara otomatis menilai bahwa melawan atau melarikan diri terlalu berisiko atau bahkan tidak mungkin dalam konteks itu.

Selama freeze, korban mungkin tampak pasif atau bahkan "menyetujui" — dan inilah yang kemudian sering disalahartikan sebagai bukti bahwa "tidak ada paksaan". Tapi neurosains sangat jelas: pasif selama trauma adalah respons otak yang otomatis, bukan keputusan sadar yang mencerminkan persetujuan.

Kenapa Tidak Langsung Melapor: Lima Alasan yang Berbasis Bukti

Ada lima alasan psikologis yang paling sering menjelaskan jeda panjang antara kejadian dan pelaporan dalam kasus kekerasan seksual oleh figur otoritas.

Satu, ketergantungan yang tidak bisa dilepas. Santri yang tinggal di pesantren bergantung pada lembaga itu untuk semua kebutuhan dasarnya. Melapor berarti mempertaruhkan tempat tinggal, pendidikan, dan seluruh jaringan sosial. Ini adalah taruhan yang sangat besar bagi anak berusia 12–16 tahun yang tidak punya pilihan lain.

Dua, ancaman spiritual yang diinternalisasi. Ketika pelaku menggunakan otoritas keagamaan untuk meyakinkan korban bahwa apa yang terjadi adalah bagian dari proses spiritual atau bahwa menolak berarti berdosa, korban mengalami konflik batin yang sangat berat. Anak yang diajarkan untuk tunduk pada guru sebagai jalan menuju surga tidak punya kerangka kognitif untuk memproses bahwa guru itu sedang melakukan kejahatan.

Tiga, rasa malu yang dibebankan pelaku. Banyak korban kekerasan seksual merasakan rasa malu yang intens — bukan karena mereka bersalah, tapi karena masyarakat sering menempatkan "kehormatan" perempuan pada tubuhnya. Dalam komunitas yang sangat menekankan kesucian, korban sering lebih takut dijudge daripada mendapat keadilan.

Empat, tidak percaya akan didengar. Ketika pelaku adalah figur yang dihormati komunitas, korban sering memperkirakan — sering kali dengan benar — bahwa laporan mereka akan tidak dipercaya, diremehkan, atau bahkan dihukum balik. Kekhawatiran itu bukan paranoia, ia adalah penilaian realistis berdasarkan pengalaman banyak korban sebelumnya.

Lima, disosiatif sebagai mekanisme bertahan. Sebagian korban mengembangkan kemampuan disosiatif — memisahkan memori traumatik dari kesadaran sehari-hari — yang memungkinkan mereka terus berfungsi. Memori itu bisa terkunci bertahun-tahun sebelum dipicu oleh sesuatu dan muncul kembali ke permukaan.

Dampak Jangka Panjang yang Tidak Terlihat

Kekerasan seksual oleh figur otoritas meninggalkan luka yang jauh melampaui momen kejadiannya. Betrayal trauma yang tidak ditangani berhubungan dengan peningkatan risiko kecemasan kronis, depresi, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), kesulitan dalam hubungan interpersonal, dan kesulitan mempercayai figur otoritas — termasuk tenaga kesehatan dan penegak hukum yang justru dibutuhkan untuk pemulihan.

Ini menjelaskan mengapa pendampingan psikologis bagi korban bukan sekadar "nilai tambah" tapi kebutuhan fundamental. Proses hukum yang berjalan tanpa pendampingan psikologis yang memadai bisa justru menjadi re-traumatisasi — korban diminta mengulang kejadian berkali-kali kepada orang asing, dalam lingkungan yang tidak mereka percaya.

Apa yang Harus Kita Ubah dalam Cara Kita Merespons

Pertanyaan "kenapa baru lapor sekarang?" harus dihapus dari cara kita merespons pengakuan korban. Itu bukan pertanyaan yang mencari kebenaran — itu pertanyaan yang menempatkan beban pembuktian di pundak orang yang sudah menanggung beban yang lebih dari cukup.

Yang seharusnya kita tanyakan adalah: sistem seperti apa yang sudah kita bangun sehingga melapor terasa lebih aman dari diam? Apakah ada saluran pelaporan yang bisa diakses anak yang tinggal di lingkungan tertutup tanpa takut diketahui pelaku? Apakah komunitas di sekitar pondok punya mekanisme untuk menerima dan menindaklanjuti kecurigaan tanpa harus menunggu korban berani bicara sendiri?

Selama jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu adalah "belum ada" atau "belum memadai", kita tidak berhak bertanya kenapa korban tidak melapor lebih awal.

Kalau otak manusia secara biologis dirancang untuk melindungi dirinya dari pengkhianatan yang paling menyakitkan dengan cara menyimpan memori itu dalam-dalam — dan sistem kita belum cukup aman untuk memungkinkan korban keluar dari kegelapan itu lebih awal — maka pertanyaan yang sesungguhnya bukan soal keberanian korban, tapi soal seberapa serius kita membangun sistem yang layak mereka percayai.

Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal adalah korban kekerasan seksual, kamu bisa menghubungi Komnas Perempuan di 021-3903963, SAPA 129 (Kemensos), atau lembaga pendampingan lokal di daerahmu.

Penulis: Muhammad Jazuli

Referensi:

  • Jennifer Freyd, Betrayal Trauma: The Logic of Forgetting Childhood Abuse (1996, Harvard University Press)
  • Komnas Perempuan, Catatan Tahunan Kekerasan Terhadap Perempuan 2025
  • Kompas.com, "Kasus Pencabulan di Pesantren: Santri di Antara Bayang-bayang Relasi Kuasa" (Mei 2026)
  • American Psychological Association, "Understanding PTSD and Trauma" (2024)
  • Pusat Studi Gender dan Anak UIN Malang, berbagai laporan tentang kekerasan berbasis gender di lembaga pendidikan Islam

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Betrayal Trauma: Teori Psikologi yang Menjelaskan Diam Panjang Korban Kekerasan di Pesantren
  • Betrayal Trauma: Teori Psikologi yang Menjelaskan Diam Panjang Korban Kekerasan di Pesantren
  • Betrayal Trauma: Teori Psikologi yang Menjelaskan Diam Panjang Korban Kekerasan di Pesantren
  • Betrayal Trauma: Teori Psikologi yang Menjelaskan Diam Panjang Korban Kekerasan di Pesantren
  • Betrayal Trauma: Teori Psikologi yang Menjelaskan Diam Panjang Korban Kekerasan di Pesantren
  • Betrayal Trauma: Teori Psikologi yang Menjelaskan Diam Panjang Korban Kekerasan di Pesantren
Posting Komentar