![]() |
| Ilustrasi editorial yang menggambarkan tiga pendekatan filosofis berbeda dalam memahami makna hidup melalui pemikiran tiga filsuf eksistensial paling berpengaruh. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Ada pertanyaan yang hampir semua orang pernah tanyakan pada dirinya sendiri — biasanya di malam hari, ketika semua distraksi sudah hilang dan otak tidak punya pilihan selain berhadapan dengan dirinya sendiri: untuk apa semua ini? Apa yang membuat hidupku bermakna? Apakah ada tujuan yang sudah ditentukan, atau aku yang harus menemukannya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda kamu sedang overthinking atau kurang bersyukur. Itu adalah pertanyaan paling mendasar tentang kondisi manusia — dan ada sebuah aliran filsafat yang seluruh eksistensinya didedikasikan untuk bergulat dengan pertanyaan itu. Namanya eksistensialisme. Dan meski terdengar berat dan akademis, ia adalah salah satu filsafat yang paling langsung bicara kepada kehidupan sehari-hari yang pernah ada.
Apa Itu Eksistensialisme — Definisi yang Tidak Membuat Mengantuk
Kecemasan, kebebasan, pilihan-pilihan, individualitas, subjektivitas, otentisitas, dan sifat-sifat eksistensi adalah hal-perihal yang lekat dengan eksistensialisme — sebuah aliran filsafat yang menempatkan manusia pada titik sentral dari segala relasi kemanusiaan.
Dalam bahasa yang lebih sederhana: eksistensialisme adalah filsafat yang percaya bahwa hal paling penting yang bisa dipikirkan manusia adalah pertanyaan tentang keberadaannya sendiri — bukan tentang Tuhan secara abstrak, bukan tentang hukum alam semesta, bukan tentang struktur masyarakat, tapi tentang aku ini siapa, aku ini apa, dan aku mau jadi apa?
Ciri umum dari eksistensialisme di antaranya: eksistensi mendahului esensi; motif pokok yang disebut eksistensi adalah cara manusia berada, dan hanya manusialah yang bereksistensi; bereksistensi harus diartikan secara dinamis, bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif, bereksistensi berarti berbuat, menjadi, dan merencanakan.
Filsafat ini pada dasarnya adalah protes terhadap pandangan bahwa manusia adalah benda serta tuntutan agar eksistensi personal seseorang harus diperhatikan secara serius.
"Eksistensi Mendahului Esensi": Kalimat Paling Penting dalam Eksistensialisme
Ada satu kalimat yang merangkum inti dari eksistensialisme — khususnya versi Jean-Paul Sartre — dan kalimat itu perlu dimengerti dengan benar karena ia membalik cara pikir yang sudah sangat lazim: eksistensi mendahului esensi.
Dalam filsafat tradisional, cara berpikirnya biasanya terbalik: esensi mendahului eksistensi. Artinya, ada "hakikat" atau "tujuan" seseorang yang sudah ditentukan sebelum ia lahir — entah oleh Tuhan, oleh alam, atau oleh masyarakat. Seorang tukang sepatu ada karena ada "esensi tukang sepatu" yang sudah ada sebelum tukang sepatu itu lahir. Manusia ada karena Tuhan menciptakannya dengan tujuan tertentu yang sudah ditetapkan.
Gagasan ini, yang diperkenalkan oleh Sartre, menekankan bahwa manusia pertama-tama "ada" tanpa tujuan atau esensi yang telah ditentukan sebelumnya.
Kamu lahir dulu — baru kemudian kamu menentukan siapa kamu. Tidak ada "hakikat" atau "tujuan hidup" yang sudah ditentukan dan tinggal kamu temukan. Kamu yang menciptakannya, melalui pilihan-pilihan yang kamu buat setiap hari. Ini adalah pandangan yang sangat membebaskan sekaligus sangat menakutkan — karena kalau tidak ada tujuan yang sudah ditentukan, kamu bertanggung jawab penuh atas siapa kamu menjadi.
Kierkegaard: Bapak Eksistensialisme yang Membawa Tuhan ke Dalamnya
Soren Kierkegaard kerap dianggap Bapak Eksistensialisme. Namun, pada masa Kierkegaard hidup, para filsuf dan publik Denmark tak menanggapi tulisan-tulisannya secara serius. Pengaruh Kierkegaard baru terasa dan diakui pada abad ke-20.
Søren Kierkegaard (1813–1855) adalah filsuf Denmark yang bermasalah dengan dua hal besar di zamannya: filsafat sistematis Hegel yang ia anggap mengabaikan individu konkret demi abstraksi besar, dan agama Kristen resmi Denmark yang ia anggap terlalu nyaman dan tidak lagi otentik.
Kierkegaard dengan eksistensialismenya mengajari kita bagaimana menjadi ksatria iman yang bereksistensi sesuai esensi. Ada tiga ranah eksistensi: ranah estetis, ranah etis, dan ranah religius.
Ranah estetis adalah hidup untuk kesenangan dan pengalaman — ini adalah cara paling dangkal bereksistensi. Ranah etis adalah hidup berdasarkan kewajiban moral dan standar yang diterima masyarakat — lebih dalam tapi masih belum mencapai potensi tertinggi. Ranah religius adalah yang paling tinggi: berkomitmen penuh kepada Tuhan dengan keberanian yang melampaui logika, yang Kierkegaard sebut sebagai leap of faith — lompatan iman.
Berbeda dari eksistensialis ateis yang datang kemudian, Kierkegaard tidak melihat hubungan manusia dengan Tuhan sebagai halangan bagi kebebasan — ia melihatnya sebagai sumber kebebasan yang paling dalam.
Sartre: Kebebasan yang Menakutkan
Jean-Paul Sartre (1905–1980) adalah nama yang paling sering disebut ketika orang bicara tentang eksistensialisme. Dan ia memang yang paling radikal dalam mengembangkannya. Jika Kierkegaard membawa Tuhan dalam hidup dan filsafatnya, Sartre menihilkan eksistensi Tuhan. "Eksistensialisme berkata bahwa sekalipun Tuhan ada, hal itu tidak berarti apa-apa bagi seorang eksistensialis."
Bagi Sartre, karena tidak ada Tuhan yang menciptakan manusia dengan tujuan tertentu, maka tidak ada "hakikat manusia" yang sudah ditentukan. Manusia adalah "kebebasan yang terkutuk" — condemned to be free. Kata "terkutuk" di sini bukan berarti buruk dalam arti moral; ia berarti bahwa kebebasan adalah kondisi yang tidak bisa dihindari. Kamu tidak bisa tidak memilih. Bahkan menolak memilih adalah sebuah pilihan.
Dari sinilah lahir konsep mauvaise foi (itikad buruk) — kondisi ketika seseorang melarikan diri dari kebebasan dan tanggung jawabnya dengan berpura-pura bahwa ia tidak punya pilihan. "Aku terpaksa melakukan ini karena kondisinya." "Aku tidak bisa berbeda dari ini karena memang begini adanya aku." Sartre menyebut semua itu sebagai kebohongan terhadap diri sendiri — penolakan terhadap kondisi fundamental manusia sebagai makhluk yang bebas dan bertanggung jawab.
Kata kunci Sartre yang perlu diingat: "Manusia adalah apa yang ia lakukan dengan apa yang orang lain lakukan terhadapnya." Kamu tidak bisa memilih kondisi lahirmu, latar belakangmu, atau apa yang menimpamu. Tapi kamu selalu bisa memilih bagaimana kamu meresponsnya — dan pilihan-pilihan responmu itu adalah apa yang membentuk siapa kamu.
Camus dan Absurdisme: Hidup Tanpa Jawaban, tapi Tetap Hidup
Albert Camus (1913–1960) sering dimasukkan ke dalam kelompok eksistensialis, meski ia sendiri menolak label itu. Yang ia kembangkan lebih tepat disebut absurdisme — dan perbedaannya dengan eksistensialisme Sartre sangat penting.
Ada yang membagi aliran eksistensialisme dalam dua kubu. Pertama, adalah kubu Katolik (agama), seperti Jaspers dan Marcel yang bergerak menuju Tuhan. Kubu lainnya adalah eksistensialis ateis, yaitu Sartre, Heidegger, dan Camus.
Camus setuju dengan Sartre bahwa tidak ada makna yang sudah ditetapkan di alam semesta. Tapi responsnya berbeda. Sartre berkata: kalau tidak ada makna yang diberikan, kita yang harus menciptakannya. Camus berkata: ya, memang tidak ada makna — dan itu absurd. Tapi dari absurditas itu kita tidak perlu lari ke bunuh diri (fisik atau filosofis) atau ke agama. Kita bisa memeluk absurditas itu sambil tetap memilih untuk hidup dengan penuh.
Camus menggambarkan ini melalui mitos Sisifus — tokoh Yunani yang dikutuk untuk mendorong batu ke atas bukit setiap hari, hanya untuk melihatnya menggelinding kembali ke bawah, selamanya. Ini adalah gambaran paling jujur tentang kondisi manusia: kerja keras tanpa tujuan akhir yang permanen. Tapi Camus menulis: "Kita harus membayangkan Sisifus bahagia." Bukan karena ia menang, tapi karena ia memilih untuk menemukan nilai dalam proses perjuangan itu sendiri — bukan dalam hasilnya.
Simone de Beauvoir: Eksistensialisme yang Membebaskan Perempuan
Tidak bisa membahas eksistensialisme tanpa menyebut Simone de Beauvoir (1908–1986) — filsuf dan penulis Prancis yang mengembangkan eksistensialisme ke dimensi gender dengan cara yang sangat orisinal.
Dalam The Second Sex (1949), de Beauvoir menggunakan kerangka eksistensialis untuk menganalisis kondisi perempuan. Pemikiran Simone de Beauvoir memberikan dasar filosofis bagi gerakan feminisme modern. Penekanannya pada kebebasan dan tanggung jawab juga relevan dalam perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan sosial.
Argumen intinya sangat eksistensialis: perempuan tidak "secara alamiah" lebih pasif, lebih emosional, atau lebih lemah dari laki-laki. Perempuan dikondisikan untuk menjadi "yang lain" — the Other — dalam masyarakat yang didominasi oleh perspektif laki-laki. Ini adalah bentuk mauvaise foi kolektif: masyarakat yang membuat perempuan percaya bahwa kondisi mereka adalah "kodrat" yang tidak bisa diubah, padahal sebenarnya adalah konstruksi sosial yang sangat bisa dipertanyakan dan diubah.
Eksistensialisme dalam Kehidupan Sehari-harimu
Di sinilah eksistensialisme berhenti menjadi abstraksi dan mulai terasa sangat personal. Kamu mungkin tidak pernah membaca Sartre atau Camus, tapi kamu mungkin sudah merasakan pertanyaan-pertanyaan mereka:
Ketika kamu memilih jurusan kuliah berdasarkan ekspektasi orang tua bukan minatmu sendiri — itu adalah mauvaise foi dalam bahasa Sartre: melarikan diri dari kebebasan dengan berpura-pura tidak punya pilihan.
Ketika kamu merasa hidupmu tidak punya arah dan bertanya-tanya mengapa — itu adalah apa yang eksistensialis sebut kecemasan eksistensial: respons yang sangat wajar dari makhluk yang bebas tapi belum menemukan komitmennya.
Ketika kamu memilih untuk terus bekerja pada sesuatu yang kamu percaya meski hasilnya tidak pasti — itu adalah sikap Sisifus versi Camus: menemukan nilai dalam proses, bukan hanya dalam hasil.
Eksistensialisme telah memengaruhi psikoterapi melalui pendekatan seperti terapi eksistensial, yang berfokus pada tanggung jawab individu, makna hidup, dan kebebasan. Terapis eksistensial membantu klien menghadapi kecemasan eksistensial dan menciptakan hidup yang autentik.
Viktor Frankl — yang sudah kita sebut dalam artikel lain — mengembangkan logotherapy dari akar eksistensialis: bahwa manusia bisa menanggung hampir apapun kalau ia punya mengapa untuk hidup.
Kritik yang Adil: Eksistensialisme Tidak Menjawab Segalanya
Jujur perlu dikatakan: eksistensialisme punya keterbatasan yang nyata. Fokusnya yang sangat kuat pada individu dan kebebasan personal bisa mengabaikan kenyataan bahwa kondisi struktural — kemiskinan, diskriminasi, ketidaksetaraan — membatasi pilihan yang tersedia bagi sebagian orang secara sangat nyata. "Kamu bebas memilih" adalah pernyataan yang sangat berbeda bobotnya tergantung siapa yang mengatakannya dan kepada siapa.
De Beauvoir sendiri sudah mulai mengkritisi ini dari dalam — menunjukkan bahwa kebebasan individual tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial yang memungkinkan atau membatasi kebebasan itu. Dan Marx sebelumnya sudah mengingatkan bahwa kondisi material sangat menentukan kesadaran — sebuah kritik yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh eksistensialisme.
Tapi keterbatasan itu tidak mengurangi nilai inti eksistensialisme: bahwa seberapa pun terbatasnya kondisimu, selalu ada ruang — meski kecil — di mana kamu memilih bagaimana merespons. Dan pilihan-pilihan kecil itu, yang diambil dengan kesadaran dan kejujuran, adalah apa yang membentuk siapa kamu menjadi.
Eksistensialisme tidak memberikan jawaban yang nyaman. Ia tidak mengatakan bahwa hidupmu punya tujuan yang sudah ditentukan dan tinggal kamu temukan. Ia tidak menjanjikan bahwa kalau kamu cukup baik dan cukup berusaha, segalanya akan berhasil. Yang ia katakan adalah ini: kamu ada, kamu bebas, kamu bertanggung jawab — dan dari titik itu, apa yang kamu buat dengan hidupmu adalah sepenuhnya pilihanmu. Itu bukan kabar yang menenangkan. Tapi bagi banyak orang, itu adalah kabar yang paling jujur yang pernah mereka dengar.
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Jean-Paul Sartre, L'existentialisme est un humanisme / Eksistensialisme Adalah Sebentuk Humanisme (1945)
- Albert Camus, Le Mythe de Sisyphe / Mitos Sisifus (1942)
- Simone de Beauvoir, Le Deuxième Sexe / The Second Sex (1949)
- Søren Kierkegaard, Either/Or (1843)
- Vincent Martin O.P., Filsafat Eksistensialisme Kierkegaard, Sartre, Camus
- Medium (Misni Parjiati), "Sekilas tentang Eksistensialisme Kierkegaard, Sartre, dan Camus"
- Kompasiana, "Eksistensialisme: Antara Kierkegaard dan Sartre" (2015)
- Sosial79, "Eksistensialisme: Pengertian, Sejarah, Ciri, dan Tokoh Pemikirnya" (2024)
- Catatan Adi, "Filsafat Eksistensialisme" (November 2025)
