Scroll untuk melanjutkan membaca

HMPS PAI Al-Qolam Bedah Cara Menulis Ilmiah yang Benar

 

Mahasiswa dan pemateri berfoto bersama di auditorium Universitas Al-Qolam Malang setelah kegiatan lokakarya literasi akademik.
Peserta dan pemateri berfoto bersama usai lokakarya penguatan literasi akademik yang diselenggarakan HMPS PAI Universitas Al-Qolam Malang. / Foto: Dok. HMPS PAI Al-Qolam

Nalarmerdeka.com – Banyak mahasiswa lancar bicara di kelas, tapi mendadak buntu begitu diminta menulis. Paradoks ini yang coba dijawab HMPS PAI Universitas Al-Qolam Malang lewat seminar "Berdaya dengan Tulisan: Penguatan Literasi Akademik Mahasiswa", Rabu (15/7/2026), di Auditorium kampus. Dr. Masykur Izzi Bayquni hadir membongkar mengapa kita sering salah kaprah soal menulis ilmiah.

Makalah, Esai, dan Jurnal Itu Tidak Sama

Kita sering menganggap semua tulisan akademik itu serupa. Padahal makalah, esai, dan artikel jurnal punya tujuan berbeda. Masykur menjelaskan, makalah disusun sistematis dari kajian pustaka untuk tugas kuliah. Esai justru menonjolkan argumentasi dan sudut pandang pribadi penulis. Sementara artikel jurnal lahir dari penelitian dan ditujukan untuk publikasi ilmiah. Kesalahan menyamakan ketiganya, menurutnya, jadi akar masalah tulisan mahasiswa yang tidak fokus.

Rumus Judul yang Sering Diabaikan

Salah satu bagian paling praktis dari seminar ini adalah rumus menyusun judul penelitian. Masykur menyarankan judul tidak lebih dari 15 kata, memuat studi kasus, dan spesifik. Rumusnya sederhana: fokus masalah ditambah objek penelitian ditambah lokasi penelitian. Dengan rumus ini, kita bisa menghindari judul yang terlalu luas atau justru terlalu sempit untuk diteliti.

Topik Bukan Judul, Ini Bedanya

Masykur juga menegaskan perbedaan topik dan judul, dua hal yang kerap tertukar. Topik adalah persoalan besar yang ingin dibahas. Judul adalah bentuk konkret yang menggambarkan arah penelitian secara spesifik. Kesalahan membedakan keduanya, katanya, sering membuat penelitian kehilangan arah sejak awal perencanaan.

Menulis Itu Proses, Bukan Sekadar Menuang Ide

Peserta juga diajak memahami tahapan menulis artikel ilmiah secara runtut. Prosesnya dimulai dari merumuskan fokus, mengelompokkan ide, menyusun kutipan sebagai dasar argumen, lalu menuangkan gagasan bebas lewat poin-poin utama. Tahap berikutnya mengembangkan isi, memperhalus kalimat, memeriksa alur logika, hingga membenahi sitasi dan ejaan. Kita jadi paham, menulis ilmiah adalah proses berpikir terstruktur, bukan sekadar mengetik ide yang muncul begitu saja.

Ruang Belajar yang Dibutuhkan Mahasiswa Hari Ini

Seminar ini diikuti mahasiswa lintas program studi yang haus akan bekal teknis menulis. Di tengah tuntutan menulis makalah, esai, hingga artikel jurnal, kegiatan semacam ini jadi jembatan antara teori di kelas dan praktik nyata di lapangan. HMPS PAI berhasil menghadirkan ruang belajar yang relevan dengan kebutuhan akademik mahasiswa saat ini.

Kita semua pernah merasa ide sudah penuh di kepala, tapi tak kunjung jadi tulisan. Jangan-jangan yang kita butuhkan bukan lebih banyak ide, melainkan kejelasan proses menulis itu sendiri? Setelah tahu bedanya topik dan judul, apakah tulisanmu selama ini sudah punya arah yang jelas, atau masih meraba-raba sejak paragraf pertama?

Sumber: Pers release HMPS PAI Al-Qolam 

Redaktur: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Berita Terbaru
  • HMPS PAI Al-Qolam Bedah Cara Menulis Ilmiah yang Benar
  • HMPS PAI Al-Qolam Bedah Cara Menulis Ilmiah yang Benar
  • HMPS PAI Al-Qolam Bedah Cara Menulis Ilmiah yang Benar
  • HMPS PAI Al-Qolam Bedah Cara Menulis Ilmiah yang Benar
  • HMPS PAI Al-Qolam Bedah Cara Menulis Ilmiah yang Benar
  • HMPS PAI Al-Qolam Bedah Cara Menulis Ilmiah yang Benar
Posting Komentar