Scroll untuk melanjutkan membaca

HOS Tjokroaminoto: Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Melahirkan Tiga Ideologi

 l

Ilustrasi vektor bergaya editorial menampilkan HOS Tjokroaminoto di bagian tengah dengan latar krem minimalis
Ilustrasi editorial tentang HOS Tjokroaminoto, “Raja Jawa Tanpa Mahkota”, sebagai tokoh sentral yang melahirkan dan memengaruhi tiga arus besar pemikiran politik Indonesia melalui gagasan, pendidikan, dan kepemimpinannya. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Ada sebuah rumah di Gang Peneleh, Surabaya, yang layak disebut sebagai salah satu tempat paling bersejarah di Indonesia — meski ia tidak sepopuler Gedung Proklamasi atau Istana Merdeka. Di rumah itulah seorang pemuda Jawa bernama Haji Oemar Said Tjokroaminoto menerima anak-anak muda yang datang dari berbagai penjuru — mereka tidur di kamarnya, makan di mejanya, dan yang paling penting: mereka menyerap pemikirannya.

Dari rumah itu keluar Soekarno, yang menjadi presiden pertama Indonesia. Keluar pula Semaun, yang mendirikan Partai Komunis Indonesia. Dan Kartosuwiryo, yang kelak mendirikan Negara Islam Indonesia. Banyak yang berpendapat bahwa Tjokroaminoto adalah induk semang dari tiga ideologi: nasionalis, komunis, dan Islam, dinisbatkan kepada tiga muridnya yang terkenal: Soekarno, Semaun, dan Kartosoewiryo. Satu guru, tiga jalan ideologis yang berbeda drastis — ini bukan paradoks. Ini adalah bukti betapa kuatnya pengaruh seorang pendidik yang mengajarkan berpikir, bukan sekadar percaya.

Siapa HOS Tjokroaminoto Sebelum Menjadi Legenda

Haji Oemar Said Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur, dari keluarga priyayi yang terpelajar. Kakeknya adalah seorang bupati. Ia mengenyam pendidikan Belanda — sekolah priyayi yang biasanya hanya menghasilkan pegawai pemerintah kolonial yang patuh. Tapi Tjokroaminoto memilih jalan yang berbeda.

Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah, lalu sebagai pegawai perusahaan swasta. Tapi jiwa yang tidak bisa dikekang itu tidak bertahan lama di balik meja administrasi. Ia pindah ke Surabaya, bergabung dengan gerakan-gerakan yang sedang tumbuh, dan menemukan panggilannya yang sesungguhnya: memimpin massa, membangun kesadaran, dan mengajarkan bahwa orang pribumi berhak mendapat keadilan.

Sarekat Islam: Dari Pedagang Batik ke Gerakan Nasional Terbesar

Sarekat Dagang Islam berdiri pada 16 Oktober 1905 dan diakui oleh Pemerintah Belanda melalui Akta Notaris Statuten tanggal 10 November 1912. Fakta ini menandai perubahan nama organisasi menjadi Sarekat Islam.

Pada bulan Mei 1912, HOS Tjokroaminoto mendirikan organisasi Sarekat Islam yang sebelumnya dikenal Serikat Dagang Islam dan terpilih menjadi ketua. Di tangannya, Sarekat Islam yang awalnya adalah perkumpulan pedagang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: gerakan massa pertama di Indonesia yang benar-benar menyentuh rakyat di semua lapisan.

Dalam waktu singkat, Sarekat Islam berkembang menjadi organisasi terbesar di Hindia Belanda — dengan anggota yang tersebar dari Jawa hingga Sumatera, dari pedagang hingga buruh tani. Ini adalah pencapaian organisasi yang belum pernah ada sebelumnya di tanah jajahan ini. Dan di baliknya ada satu faktor kunci: kemampuan Tjokroaminoto berbicara — dalam bahasa yang dipahami rakyat, dengan semangat yang tidak pernah padam.

Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Membuat Belanda Ketakutan

Popularitas Tjokroaminoto bukan sekadar popularitas tokoh agama atau organisasi. Ia melampaui itu. Ke mana pun ia pergi, massa berkerumun. Pidatonya membuat ribuan orang berdiri dan bertepuk. Belanda, yang sudah lama terbiasa menghadapi perlawanan bersenjata, menghadapi sesuatu yang lebih menakutkan: seorang pemimpin yang menggerakkan rakyat tanpa senjata, hanya dengan kata-kata dan keyakinan.

Dialah tokoh pejuang Indonesia pertama yang menggagas tentang zelfbestuur atau pemerintahan sendiri pada tahun 1916, sejak tiga dekade sebelum kemerdekaan RI tahun 1945. Gagasan "pemerintahan sendiri" itu — bahwa rakyat Hindia Belanda berhak mengatur dirinya sendiri tanpa kolonial — adalah gagasan subversif di masanya. Dan Tjokroaminoto mengatakannya di depan umum, dalam forum resmi.

Tjokroaminoto selaku wakil SI dalam Volksraad bersama Abdul Moeis, mengajukan mosi yang kemudian dikenal dengan Mosi Tjokroaminoto pada tanggal 25 November 1918. Mereka menuntut pembentukan Dewan Negara dengan perwakilan rakyat Indonesia yang sesungguhnya. Belanda tidak merespons. Tapi tuntutan itu sudah terucap — dan kata-kata yang sudah terucap tidak bisa ditarik kembali.

Rumah Gang Peneleh: Pesantren Politik Paling Berpengaruh

Salah satu kontribusi Tjokroaminoto yang paling jarang mendapat perhatian adalah perannya sebagai pendidik informal. Rumahnya di Gang Peneleh, Surabaya, adalah tempat ia menerima anak-anak muda yang tidak punya uang untuk kos — dan memberi mereka sesuatu yang jauh lebih berharga: akses ke pemikirannya.

Tjokroaminoto memanifestasikan perannya sebagai pendidik melalui pembinaan kader pergerakan dengan metode diskursus, keteladanan moral, dan latihan berpikir kritis yang berlangsung secara informal namun sistematis. Tidak ada kurikulum tertulis. Tidak ada jadwal pelajaran. Yang ada adalah diskusi panjang di malam hari, perdebatan tentang Islam dan keadilan, tentang kolonialisme dan kemerdekaan, tentang bagaimana seharusnya bangsa yang besar dibangun.

Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai adalah Soekarno, hingga ia menikahkan Soekarno dengan anaknya yakni Siti Oetari, istri pertama Soekarno. Pesannya kepada para murid-muridnya ialah: "Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator." Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato.

Kalimat itu — "menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator" — adalah salah satu nasihat kepemimpinan paling praktis yang pernah diberikan dalam sejarah Indonesia. Dan Soekarno membuktikannya: ia menjadi orator paling berbakat yang pernah dimiliki bangsa ini.

Trilogi yang Melampaui Zamannya

Salah satu trilogi dari Tjokroaminoto yang termasyhur adalah: Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. 

Tiga hal itu bukan sekadar slogan motivasi. Ia adalah program pembentukan pemimpin yang komprehensif. Ilmu tanpa tauhid menghasilkan teknokrat tanpa moral. Tauhid tanpa ilmu menghasilkan fanatisme tanpa arah. Keduanya tanpa siasat menghasilkan idealis yang tidak bisa bergerak di dunia nyata. Tjokroaminoto percaya bahwa pejuang yang sesungguhnya harus menguasai ketiganya — dan ia mengajarkannya melalui teladan, bukan ceramah.

Warisan yang Melampaui Sejarah

Tjokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada 17 Desember 1934 pada usia 52 tahun. Beliau meninggal setelah jatuh sakit usai menghadiri Kongres SI di Banjarmasin. Tjokroaminoto dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta, dan dikenal sebagai De Ongekroonde van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota."

Ia tidak hidup untuk menyaksikan kemerdekaan yang ia perjuangkan. Tapi murid-muridnya hidup untuk mewujudkannya — meski dengan jalan yang berbeda-beda, kadang saling bertentangan. Bahwa dari satu guru bisa lahir nasionalis, komunis, dan islamis sekaligus mungkin bukan sebuah kegagalan pendidikan. Mungkin itu adalah bukti bahwa Tjokroaminoto tidak mendidik pengikut — ia mendidik pemikir. Dan pemikir memang tidak selalu sampai di tujuan yang sama.

Kalau Tjokroaminoto bisa mendidik murid-murid yang kemudian berjalan ke berbagai arah ideologis yang berbeda, mungkin itulah standar pendidikan yang sebenarnya — bukan mencetak pengikut yang patuh, tapi membentuk pemikir yang berani menentukan jalannya sendiri. Pertanyaan yang relevan hari ini: adakah guru-guru seperti itu yang kita miliki sekarang, dan apakah sistem pendidikan kita memberi mereka ruang untuk ada?

Penulis: Muhammad Jazuli

Referensi:

  • RRI, "Mengenal HOS Tjokroaminoto, Guru Politik Era Perjuangan Bangsa" (April 2023)
  • Mina News, "HOS Tjokroaminoto Pejuang Islam dan Kemerdekaan Indonesia"
  • Jejak Islam untuk Bangsa, "Tjokroaminoto dan Natsir dalam Pemikiran dan Perjuangan"
  • Ruang Guru, "HOS Tjokroaminoto: Tokoh Kebangkitan Nasional & Guru Bangsa" (Mei 2026)
  • Jurnal Suluk UINSA, "HOS Tjokroaminoto dan Sarekat Islam dalam Representasi..."
  • Jurnal Takuana, "HOS Tjokroaminoto: Guru Bangsa dan Pelopor Pergerakan" (2025)
  • Tim Buku Tempo, Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa (2013, KPG)

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • HOS Tjokroaminoto: Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Melahirkan Tiga Ideologi
  • HOS Tjokroaminoto: Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Melahirkan Tiga Ideologi
  • HOS Tjokroaminoto: Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Melahirkan Tiga Ideologi
  • HOS Tjokroaminoto: Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Melahirkan Tiga Ideologi
  • HOS Tjokroaminoto: Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Melahirkan Tiga Ideologi
  • HOS Tjokroaminoto: Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Melahirkan Tiga Ideologi
Posting Komentar