Scroll untuk melanjutkan membaca

PMII Bahas Tantangan Kaderisasi dan Partisipasi Kader dalam Kajian Lintas Pergerakan di Malang

Foto bersama kader PMII Rayon Pejuang Ulil Albab dan PMII Komisariat Ibnu Sina pasca diskusi. / Foto: Dok. PMII Rayon Pejuang Ulil Albab

MALANG, Nalarmerdeka.com – Regenerasi organisasi tidak pernah selesai hanya dengan melaksanakan proses kaderisasi formal. Tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika seorang kader selesai mengikuti pelatihan dan kembali ke tengah organisasi. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah organisasi mampu menjaga semangat, mengembangkan kapasitas, dan memastikan kader tetap bertumbuh?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam Kajian Lintas Pergerakan yang diselenggarakan PMII Rayon Pejuang UII Albab bersama Komisariat Ibnu Sina pada Minggu (5/7/2026) di RJD RPUA. Mengangkat tema "Penguatan Kaderisasi PMII: Membangun Regenerasi dan Kepemimpinan yang Sehat, Partisipatif, dan Berkelanjutan," forum ini menjadi ruang refleksi terhadap berbagai persoalan yang tengah dihadapi organisasi mahasiswa Islam tersebut.

Dua pemateri, Achmad Dani Al Ghozi dan Della Habibah Rosihin, mengajak peserta melihat kaderisasi bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan proses panjang membentuk manusia yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, dan komitmen sosial.

Partisipasi Kader Mulai Mengalami Kemunduran

Dalam pemaparannya, Achmad Dani Al Ghozi mengawali diskusi dengan membedah fenomena menurunnya partisipasi kader di berbagai organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, partisipasi tidak dapat dipahami hanya sebatas kehadiran dalam sebuah kegiatan, tetapi menyangkut keterlibatan aktif dalam berpikir, merancang program, mengambil keputusan, hingga bertanggung jawab terhadap jalannya organisasi.

Ia menilai terdapat tiga tantangan utama yang saat ini memengaruhi kualitas partisipasi kader.

Pertama adalah pragmatisme. Tidak sedikit kader yang mulai memandang organisasi hanya sebagai sarana memperoleh relasi, jabatan, atau keuntungan tertentu. Akibatnya, orientasi pengabdian perlahan bergeser menjadi orientasi kepentingan pribadi.


Tantangan kedua berasal dari budaya digital yang serba instan. Arus informasi yang cepat memang memudahkan akses pengetahuan, tetapi di sisi lain juga membentuk kebiasaan berpikir dangkal. Tradisi membaca, berdiskusi secara mendalam, dan melakukan kajian perlahan tergeser oleh konsumsi informasi yang singkat dan praktis.

Sementara tantangan ketiga adalah apatisme kader. Menurutnya, semakin banyak kader yang memilih menjaga jarak dari organisasi karena merasa tidak memiliki ruang untuk berkembang ataupun berkontribusi secara bermakna.

Achmad Dani menjelaskan bahwa pragmatisme tidak lahir begitu saja. Faktor ekonomi, orientasi karier, hingga lemahnya pembinaan organisasi menjadi penyebab yang saling berkaitan. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, organisasi akan kehilangan kader-kader yang memiliki militansi dan loyalitas terhadap nilai-nilai perjuangan.

Karena itu, ia mendorong PMII untuk kembali memperkuat budaya kaderisasi berbasis nilai, menghidupkan tradisi musyawarah, memperluas ruang aktualisasi kader, serta menghadirkan kepemimpinan yang mampu menjadi teladan.

Menurutnya, organisasi hanya akan tetap hidup apabila kader merasa memiliki ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang mengabdi.

Literasi Hingga Keteladanan Menjadi Pekerjaan Rumah

Sementara itu, Della Habibah Rosihin mengajak peserta melihat persoalan kaderisasi dari sisi internal organisasi. Ia menilai masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang perlu segera dibenahi agar regenerasi tidak berhenti sebagai kegiatan administratif.

Salah satu persoalan yang paling menonjol adalah lemahnya budaya literasi tulis.

Menurut Della, kader PMII selama ini dikenal memiliki kemampuan berdiskusi secara lisan yang cukup baik. Namun kemampuan tersebut belum diikuti dengan tradisi menulis yang kuat, baik dalam bentuk opini, makalah, maupun penelitian.

Padahal, organisasi mahasiswa tidak hanya dituntut mampu berbicara di ruang diskusi, tetapi juga menghasilkan gagasan yang terdokumentasi dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

"Literasi tulis adalah bagian dari tradisi intelektual. Gagasan yang tidak ditulis akan mudah hilang bersama waktu," ujarnya.

Selain persoalan literasi, Della juga menyoroti lemahnya manajemen organisasi. Ia menilai masih banyak program kerja yang berorientasi seremonial tanpa indikator keberhasilan yang jelas. Administrasi organisasi pun kerap kurang tertata dan budaya evaluasi setelah kegiatan belum berjalan secara optimal.

Menurutnya, organisasi yang sehat bukan diukur dari banyaknya agenda yang diselenggarakan, melainkan dari kemampuan merancang program yang berdampak, terdokumentasi, dan berkelanjutan.

Regenerasi Tidak Berhenti Setelah PKD

Fenomena lain yang menjadi perhatian ialah banyaknya kader yang tidak lagi aktif setelah mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD).

Della menyebut kondisi tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi sering kali berhenti pada proses rekrutmen, sementara pendampingan pascakaderisasi masih sangat minim.

Akibatnya, banyak kader mengalami kelelahan organisasi (burnout), kehilangan motivasi, hingga akhirnya memilih meninggalkan aktivitas organisasi.

Menurutnya, regenerasi yang sehat membutuhkan sistem pendampingan yang mampu memastikan kader tetap berkembang setelah mengikuti proses kaderisasi formal.

"Melahirkan kader baru memang penting, tetapi memastikan mereka bertahan dan terus berkembang jauh lebih penting," katanya.

Kesetaraan, Keteladanan, dan Tanggung Jawab Organisasi

Dalam forum tersebut, Della juga mengangkat isu kesenjangan gender di lingkungan organisasi. Ia menilai kader Sahabatati perlu memperoleh ruang yang lebih setara dalam proses pengambilan keputusan maupun kepemimpinan organisasi.


Di sisi lain, ia juga menyoroti adanya krisis keteladanan. Nilai-nilai yang diajarkan selama kaderisasi, menurutnya, harus tercermin dalam perilaku sehari-hari kader. Organisasi akan kehilangan legitimasi moral apabila terdapat jarak antara nilai yang diajarkan dan praktik yang dijalankan.


Ia turut mengingatkan pentingnya membangun kesadaran mengenai pertanggungjawaban organisasi. Setiap amanah kepengurusan maupun kepanitiaan harus dilaksanakan secara profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan, baik dari sisi program maupun administrasi.

Bagi Della, budaya organisasi yang sehat hanya dapat dibangun apabila setiap kader memahami bahwa jabatan bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus diselesaikan dengan penuh tanggung jawab.

Organisasi sebagai Ruang Keilmuan

Menutup pemaparannya, Della menegaskan bahwa PMII harus terus menjaga identitasnya sebagai organisasi intelektual.

Ia mengingatkan bahwa organisasi bukan hanya tempat melaksanakan kegiatan, melainkan ruang untuk membangun tradisi keilmuan, memperkaya perspektif, dan melahirkan pemimpin yang memiliki kapasitas berpikir kritis.

Keilmuan, menurutnya, harus menjadi fondasi utama dalam setiap proses kaderisasi agar kader tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui gagasan dan karya.

Menata Masa Depan Kaderisasi

Kajian Lintas Pergerakan ini memperlihatkan bahwa tantangan kaderisasi PMII hari ini tidak lagi sebatas persoalan kuantitas kader, tetapi menyangkut kualitas ekosistem organisasi secara keseluruhan.

Materi yang disampaikan Achmad Dani Al Ghozi memotret faktor-faktor yang menyebabkan menurunnya partisipasi kader, sementara Della Habibah Rosihin menawarkan refleksi mengenai pembenahan budaya organisasi dari dalam.

Keduanya bertemu pada satu kesimpulan: kaderisasi yang berhasil bukanlah yang mampu meluluskan banyak kader, melainkan yang mampu melahirkan manusia pembelajar, menjaga semangat pengabdian, menghidupkan tradisi intelektual, serta membangun kepemimpinan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.*

Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, organisasi mahasiswa dituntut bukan sekadar beradaptasi, tetapi juga tetap setia pada nilai-nilai yang menjadi dasar kelahirannya. Sebab, masa depan organisasi tidak ditentukan oleh seberapa sering kegiatan diselenggarakan, melainkan oleh kualitas manusia yang berhasil dibentuk melalui setiap proses kaderisasi.

Sumber: Press release PMII Rayon Pejuang Ulil Albab 

Redaktur: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Berita Terbaru
  • PMII Bahas Tantangan Kaderisasi dan Partisipasi Kader dalam Kajian Lintas Pergerakan di Malang
  • PMII Bahas Tantangan Kaderisasi dan Partisipasi Kader dalam Kajian Lintas Pergerakan di Malang
  • PMII Bahas Tantangan Kaderisasi dan Partisipasi Kader dalam Kajian Lintas Pergerakan di Malang
  • PMII Bahas Tantangan Kaderisasi dan Partisipasi Kader dalam Kajian Lintas Pergerakan di Malang
  • PMII Bahas Tantangan Kaderisasi dan Partisipasi Kader dalam Kajian Lintas Pergerakan di Malang
  • PMII Bahas Tantangan Kaderisasi dan Partisipasi Kader dalam Kajian Lintas Pergerakan di Malang
Posting Komentar