![]() |
| Ilustrasi editorial yang menggambarkan bagaimana pelabelan negatif dapat membentuk persepsi, memicu stigma, dan memengaruhi cara masyarakat memperlakukan seseorang. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Pernah ada seorang anak yang sejak kecil selalu dipanggil "si pemalas" oleh gurunya. Ia tidak suka belajar — itu benar. Tapi bukan karena ia memang pemalas secara bawaan. Ia punya masalah pemahaman bacaan yang tidak pernah terdiagnosis, dan setiap kali ia tertinggal, guru-guru menyebutnya malas. Lama-kelamaan, ia sendiri mulai percaya itu. Ia berhenti mencoba bukan karena tidak mampu, tapi karena telah menerima "pemalas" sebagai identitasnya. Sebuah label yang mulanya tidak akurat menjadi kenyataan yang memenuhi dirinya sendiri. Inilah yang oleh psikologi dan sosiologi disebut labeling effect — dan dampaknya jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih berbahaya dari yang kebanyakan orang bayangkan.
Apa Itu Labeling Theory
Labeling atau teori pelabelan adalah salah satu teori dalam sosiologi yang membahas tentang bagaimana pemberian label atau cap terhadap seseorang dapat memengaruhi perilaku dan identitas individu tersebut. Label ini biasanya diberikan oleh masyarakat atau institusi sosial kepada individu yang dianggap menyimpang dari norma atau aturan yang berlaku. Pelabelan tidak hanya menciptakan identitas baru bagi individu, tetapi juga memengaruhi cara orang lain memperlakukan dan memandang individu tersebut.
Teori ini awalnya dikembangkan oleh sosiolog Howard Becker dan Edwin Lemert, yang melihat bagaimana pelabelan sosial menjadi alat untuk memahami perilaku menyimpang dan dampaknya terhadap masyarakat. Menurut Lemert, pelabelan adalah proses sosial di mana suatu kelompok masyarakat atau institusi sosial memberikan label kepada individu yang melakukan penyimpangan.
Tapi Labeling Theory bukan hanya tentang kriminalitas dan penyimpangan — ia adalah kerangka yang menjelaskan sesuatu yang jauh lebih universal: bagaimana kata-kata yang orang lain lekatkan kepada kita bisa membentuk siapa kita menjadi.
Dua Tahap: Penyimpangan Primer dan Sekunder
Lemert membedakan dua tahap dalam proses pelabelan yang sangat penting untuk dipahami. Pertama, penyimpangan primer — seseorang melakukan sesuatu yang oleh komunitas dianggap menyimpang dari norma. Ini adalah titik di mana perilaku itu sendiri adalah fokus.
Tapi kemudian terjadi sesuatu yang mengubah segalanya: komunitas atau otoritas memberikan label — "nakal", "kriminal", "gila", "pengkhianat". Dan dari sinilah penyimpangan sekunder dimulai. Sebagai tanggapan terhadap pemberian cap oleh orang lain, si pelaku penyimpangan primer kemudian mendefinisikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi perbuatan menyimpang yang kemudian melakukan penyimpangan sekunder, sehingga mulai menganut suatu gaya hidup menyimpang.
Artinya: label yang dimaksudkan untuk menggambarkan perilaku seseorang akhirnya membentuk perilaku tersebut. Lingkaran yang sangat rapi dan sangat menyiksa: kamu diberi label, kamu menerima label itu sebagai deskripsi dirimu, kamu berperilaku sesuai label itu, dan label itu semakin menguat sebagai "bukti" kebenaran dirinya sendiri.
Tiga Cara Label Bekerja Merusak Diri
Labeling memberikan dampak negatif melalui tiga cara. Pertama, melalui self-concept. Dengan menerima label "nakal" dari orang lain, maka dalam diri anak akan terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang yang nakal. Konsep diri sebagai "anak nakal" membuat ia mengukuhkan konsep diri tersebut dengan menampilkan perilaku-perilaku tertentu yang menurut anggapan umum adalah perilaku anak nakal.
Kedua, melalui persepsi terhadap individu. Walaupun individu berusaha menampilkan perilaku baik, namun karena sudah memiliki persepsi negatif, maka bisa saja perilaku baik tersebut tidak didukung karena dianggap sebagai pengecualian atau strategi.
Ketiga, melalui perilaku terhadap individu. Berbekal persepsi negatif, akhirnya orang-orang tidak memberikan peluang bagi individu untuk memperbaiki diri. Akibatnya ia makin tidak tahu perilaku mana yang sebenarnya diharapkan.
Tiga jalur ini bekerja secara bersamaan dan saling memperkuat. Label negatif mengubah cara kamu memandang dirimu, cara orang lain memandangmu, dan cara orang lain memperlakukanmu — semuanya mengarah ke satu prediksi yang kemudian memenuhi dirinya sendiri.
Sains di Baliknya: Pygmalion Effect dan Self-Fulfilling Prophecy
Penelitian psikologi telah berkali-kali membuktikan mekanisme ini secara empiris. Eksperimen paling terkenal adalah Rosenthal Effect atau Pygmalion Effect dari 1968: peneliti memberitahu guru-guru di sebuah sekolah bahwa beberapa siswa tertentu memiliki "potensi sangat tinggi" — padahal siswa-siswa itu dipilih secara acak. Di akhir tahun, siswa yang dilabeli "berpotensi tinggi" menunjukkan peningkatan IQ yang signifikan dibanding kelompok kontrol.
Label positif yang tidak akurat menciptakan kenyataan positif yang nyata. Artinya label negatif yang tidak akurat juga menciptakan kenyataan negatif yang nyata. Mekanisme psikologisnya adalah self-fulfilling prophecy — ramalan yang memenuhi dirinya sendiri, bukan karena ada kekuatan magis, tapi karena ekspektasi mengubah perilaku semua orang yang terlibat: guru yang percaya muridnya pintar memberi lebih banyak perhatian dan kesempatan; murid yang merasa dipercaya belajar lebih keras.
Ketika Negara yang Memberi Label
Di sinilah Labeling Theory bertemu dengan konteks yang sangat relevan hari ini di Indonesia. Teori ini tidak hanya berlaku pada level individual — ia bekerja pada level kolektif ketika institusi yang berkuasa memberikan label kepada kelompok.
Label yang diberikan oleh individu kuat dan negara menciptakan pandangan terkait suatu bentuk kejahatan. Teori labeling difokuskan pada reaksi masyarakat terkait bentuk suatu kejahatan dan penyimpangan. Hal tersebut memudahkan mereka untuk memberikan pandangan kepada orang lain yang dianggap melakukan hal menyimpang.
Ketika presiden sebuah negara — dengan seluruh otoritas simbolis dan riil yang melekat pada jabatan itu — menyematkan label tertentu kepada kelompok warga negara, dampaknya jauh melampaui persepsi pribadi. Label dari kepala negara memiliki kapasitas untuk mengubah bagaimana aparatur negara memperlakukan kelompok yang dilabeli, bagaimana publik memandang mereka, dan pada akhirnya bagaimana anggota kelompok itu memandang diri dan pekerjaan mereka sendiri.
Pelabelan juga memengaruhi persepsi masyarakat tentang keadilan dan keamanan. Melalui narasi yang diperkuat oleh media atau aktor politik, pelabelan digunakan untuk membangun citra bahwa kelompok tertentu lebih cenderung melakukan hal yang negatif. Narasi ini menciptakan ketakutan berlebihan di masyarakat dan mendorong penerapan kebijakan represif.
Chilling Effect: Label yang Membungkam Tanpa Kekerasan
Ada konsekuensi dari pelabelan yang sangat spesifik dan sangat relevan dalam konteks kebebasan pers dan masyarakat sipil: chilling effect atau efek pembungkaman. Ini adalah kondisi di mana orang-orang yang berada dalam kelompok yang dilabeli mulai menyensor diri sendiri — bukan karena ada larangan eksplisit, tapi karena ketakutan akan konsekuensi dari berada dalam kategori yang sudah diberi label negatif.
Seorang jurnalis yang tahu bahwa ia berisiko disebut "londo ireng" kalau menulis laporan tertentu mungkin tidak dilarang secara formal untuk menulis laporan itu. Tapi ia mungkin memilih untuk tidak menulisnya karena tidak mau menanggung konsekuensi sosial, profesional, dan mungkin hukum dari label yang melekat. Itu adalah pembungkaman tanpa sensor — dan secara psikologis ia sama efektifnya, bahkan lebih, karena tidak meninggalkan jejak yang bisa digugat.
Cara Melawan Labeling: Bukan dengan Menolak, tapi dengan Mendefinisikan Ulang
Dari perspektif psikologis, ada beberapa cara individu dan kelompok bisa merespons pelabelan negatif tanpa terjebak dalam dinamika yang dimaksudkan oleh si pemberi label.
Pertama, kesadaran kognitif. Memahami mekanisme labeling adalah langkah pertama untuk tidak terjebak di dalamnya. Ketika kamu tahu bahwa label negatif dirancang untuk mengubah cara kamu memandang dirimu, kamu bisa memilih untuk tidak menerima framing itu sebagai kenyataan tentang siapa kamu.
Kedua, komunitas yang menolak label. Labeling paling efektif ketika individu terisolasi. Ketika ada komunitas yang secara aktif menolak narasi label — yang menegaskan identitas anggotanya berdasarkan nilai dan kerja, bukan berdasarkan label yang disematkan dari luar — dampak psikologisnya jauh lebih terbatas.
Ketiga, mendefinisikan ulang narasi. Howard Becker menunjukkan bahwa pelabelan adalah soal kekuasaan — siapa yang punya otoritas untuk mendefinisikan apa yang normal dan apa yang menyimpang. Melawan labeling berarti mempertanyakan otoritas definisi itu dan menawarkan narasi alternatif yang lebih akurat.
Labeling Theory mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi sangat dalam: kata-kata bukan sekadar kata. Label bukan sekadar deskripsi. Ketika datang dari posisi otoritas — orang tua, guru, atau kepala negara — label memiliki kapasitas untuk mengubah realitas yang mereka klaim hanya menggambarkan. Memahami mekanisme itu adalah prasyarat untuk tidak membiarkan orang lain mendefinisikan siapa kita — dan untuk kritis terhadap siapapun yang mencoba melakukannya atas nama bangsa, agama, atau kebenaran apapun yang mereka klaim menjadi penjaganya.
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Howard Becker, Outsiders: Studies in the Sociology of Deviance (1963, Free Press)
- Edwin Lemert, Social Pathology (1951, McGraw-Hill)
- Gramedia Literasi, "Konsep dan Dampak Labeling pada Diri Seseorang"
- An-Nur Lampung, "Teori Labelling" (2024)
- Tirto.id, "Mengenal Teori Pelabelan dalam Perspektif Sosiologi" (2021)
- Rosenthal & Jacobson, Pygmalion in the Classroom (1968, Holt, Rinehart & Winston)
- IFREL Research, "Teori Labeling dalam Perspektif Kebijakan Kriminal" (2025)
