Nalarmerdeka.com – Pada 1792, seorang perempuan Inggris yang lahir dari keluarga miskin dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang layak duduk dan menulis sebuah buku yang akan mengubah arah sejarah hak-hak perempuan.
Buku itu berjudul A Vindication of the Rights of Woman. Penulisnya bernama Mary Wollstonecraft. Ia lahir pada 27 April 1759 di London dan meninggal pada 10 September 1797, juga di London — di usia 38, tak lama setelah melahirkan putrinya yang kelak menjadi penulis Frankenstein, Mary Shelley. Wollstonecraft tidak hidup cukup lama untuk menyaksikan pengaruh dari apa yang ia tulis. Tapi apa yang ia tulis hidup jauh melampaui dirinya — dan melampaui zamannya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.
Siapa Mary Wollstonecraft Sebelum Menulis Manifesto Itu
Lahir pada 27 April 1759 di Spitalfields, London, Wollstonecraft tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh dinamika dan tidak sehat. Ayahnya, Edward John Wollstonecraft, adalah seorang pria yang tidak stabil secara finansial dan emosional, yang sering menyia-nyiakan kekayaan keluarga dalam usaha bisnis yang gagal.
Ia bekerja sebagai guru sekolah dan governess — pengalaman-pengalaman yang menginspirasi pandangannya tentang pendidikan perempuan dalam Thoughts on the Education of Daughters (1787). Pada 1788, ia mulai bekerja sebagai penerjemah untuk penerbit Joseph Johnson di London, yang kemudian menerbitkan beberapa karyanya.
Wollstonecraft bukan dari keluarga terpelajar atau bangsawan yang biasanya punya akses ke dunia intelektual Eropa abad ke-18. Ia menembus ruang itu dengan kekuatan tulisannya sendiri — dan dengan keberanian untuk berpendapat keras di era ketika perempuan diharapkan diam.
Apa yang Membuat Vindication Menjadi Karya yang Mengubah Sejarah
A Vindication of the Rights of Woman (1792) dianggap sebagai teks fundamental dalam filsafat feminis, mengadvokasi pendidikan dan hak-hak perempuan. Karya ini merespons gagasan-gagasan yang berlaku tentang peran gender dan pendidikan, terutama menantang ide-ide Jean-Jacques Rousseau yang berpendapat bahwa perempuan hanya perlu pendidikan terbatas yang berpusat pada menyenangkan laki-laki.
Argumen Wollstonecraft terdengar sederhana tapi meledak seperti bom di zamannya: perempuan bukan makhluk yang secara alamiah inferior — mereka terlihat inferior hanya karena mereka tidak mendapat pendidikan yang setara. Jika sistem pendidikan memberi perempuan keuntungan yang sama seperti laki-laki, hasilnya adalah perempuan yang tidak hanya menjadi istri dan ibu yang luar biasa, tapi juga pekerja yang kompeten di banyak profesi.
Wollstonecraft menegaskan bahwa perempuan, sebagai makhluk rasional dengan jiwa, layak mendapat pendidikan komprehensif yang memupuk nalar dan kebajikan — bukan ketergantungan dan ketundukan. Teks ini mengkritik norma-norma sosial yang melanggengkan ketidaksetaraan dan berpendapat bahwa baik kekayaan maupun peran gender yang kaku berkontribusi pada siklus penindasan.
Melawan Rousseau: Pertarungan Ide yang Menentukan
Untuk memahami betapa radikalnya Wollstonecraft, kita harus memahami siapa yang ia lawan. Jean-Jacques Rousseau adalah salah satu filsuf terbesar Eropa abad ke-18 — pemikir yang ide-idenya tentang kebebasan dan kontrak sosial menjadi fondasi Revolusi Prancis. Tapi dalam bukunya Émile, Rousseau menulis bahwa perempuan ideal adalah makhluk yang didik untuk menyenangkan laki-laki, tunduk, dan tidak perlu diberi pendidikan yang mengembangkan nalar independennya.
A Vindication of the Rights of Woman sebagian terinspirasi oleh laporan Charles Maurice de Talleyrand-Périgord kepada Majelis Nasional Prancis pada 1791, yang menyatakan bahwa perempuan seharusnya hanya menerima pendidikan domestik. Wollstonecraft marah — dan ia merespons dengan menulis buku itu dalam waktu yang sangat singkat, dengan semangat yang terasa di setiap halamannya.
Bagi Wollstonecraft, mendidik perempuan hanya untuk menjadi menarik dan menyenangkan bukan kemurahan hati — itu adalah cara mempertahankan ketergantungan mereka, cara memastikan mereka tidak pernah punya kapasitas untuk menentukan nasib mereka sendiri. Dan sistem yang mempertahankan ketergantungan itu tidak menguntungkan siapa pun dalam jangka panjang — bukan perempuannya, bukan laki-lakinya, bukan masyarakatnya.
Kehidupan Pribadi yang Tidak Konvensional dan Konsekuensinya
Wollstonecraft tidak hanya menulis tentang kebebasan — ia mencoba menghidupinya. Ia menjalin hubungan dengan laki-laki di luar ikatan pernikahan, punya anak dari pasangan yang tidak menikah dengannya, dan menolak standar kemurnian yang dituntut dari perempuan di zamannya. Ketika ia akhirnya menikah dengan filsuf William Godwin, keduanya awalnya menolak institusi pernikahan secara prinsip sebelum akhirnya memilihnya karena kehamilan.
Ketika ia meninggal pada 1797 dan Godwin menerbitkan memoar tentang kehidupannya — mengungkap semua hubungan di luar nikah dan pikiran-pikiran yang tidak konvensional — reputasinya hancur dalam semalam. Selama hampir satu abad berikutnya, ia lebih dikenal sebagai perempuan yang "tidak bermoral" daripada sebagai pemikir besar. Karyanya diabaikan. Namanya dijadikan peringatan tentang bahaya perempuan yang terlalu bebas berpikir.
Ironi yang sangat dalam: perempuan yang menulis tentang hak perempuan untuk diakui sebagai makhluk rasional justru dibungkam bukan oleh argumen, tapi oleh skandal.
Warisan yang Akhirnya Diakui
Meskipun A Vindication of the Rights of Woman mendapat banyak kritik pada masanya, pemikiran Wollstonecraft telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam sejarah feminisme. Gagasannya menjadi dasar bagi gerakan feminis abad ke-19 dan ke-20, serta menginspirasi banyak pemikir feminis setelahnya. Konsep tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan, kesetaraan moral, dan hak perempuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat tetap menjadi isu yang relevan hingga saat ini.
Pengaruhnya melampaui Inggris — ia diterjemahkan ke berbagai bahasa pada 1790-an dan sepanjang abad ke-19. Ia mempengaruhi para pemikir terkemuka hak perempuan di Prancis dan Jerman seperti Flora Tristan dan Mathilde Franziska Anneke.
Hari ini, Mary Wollstonecraft dipandang sebagai salah satu ibu dari feminisme modern — sebuah figur yang karyanya menjadi suara kunci dalam percakapan feminis yang masih terus berlangsung. Bukan karena ia sempurna atau konsisten sepenuhnya — pemikirannya punya batas-batas zamannya sendiri. Tapi karena ia berani memulai percakapan yang sudah seharusnya dimulai jauh lebih awal, dengan argumen yang tidak mudah dibantah.
Relevansinya untuk Indonesia Hari Ini
Pertanyaan yang Wollstonecraft ajukan pada 1792 — apakah perempuan punya hak yang setara atas pendidikan dan nalar? — masih relevan di banyak konteks Indonesia hari ini. Ketika perempuan masih diharapkan memilih antara karier dan keluarga sementara laki-laki tidak, ketika akses pendidikan masih tidak merata secara gender di daerah-daerah tertentu, ketika perempuan yang bersuara keras masih sering dilabeli "tidak feminin" — Wollstonecraft masih berbicara.
Kalau Mary Wollstonecraft menulis manifesto feminisme pada 1792 tanpa akses ke pendidikan formal yang layak, tanpa dukungan institusi, dan dalam masyarakat yang tidak siap mendengarnya — pertanyaan yang paling mendesak hari ini bukan apakah kita sudah setuju dengan argumennya, tapi apakah kita sudah benar-benar menjalankannya.
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Britannica, "Mary Wollstonecraft" (diperbarui Juni 2026)
- Stanford Encyclopedia of Philosophy, "Mary Wollstonecraft"
- Consumed Magazine, "Mary Wollstonecraft: Her Life and Founding Feminist Philosopher" (Maret 2025)
- EBSCO Research, "A Vindication of the Rights of Woman by Mary Wollstonecraft"
- PolSci Institute, "The Enduring Significance of Wollstonecraft's Vindication" (Desember 2025)
- Wikipedia, "A Vindication of the Rights of Woman"
