Scroll untuk melanjutkan membaca

Apa Penyebab Pemberontakan Petani Banten 1888 dan Bagaimana Akhirnya?

Ilustrasi vektor bergaya editorial menampilkan sekelompok petani Banten membawa alat pertanian dan mengangkat tangan sebagai simbol perlawanan
Ilustrasi editorial yang merepresentasikan dinamika sosial, ketidakpuasan petani terhadap kebijakan kolonial, serta simbol perlawanan rakyat yang memuncak dalam Pemberontakan Banten 1888. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Pada 9 Juli 1888, sebelum fajar menyingsing di Cilegon, ribuan petani bergerak dalam kegelapan. Mereka tidak membawa senjata modern — hanya golok, bambu runcing, dan keyakinan yang sudah lama membara. Target mereka jelas: kantor-kantor administrasi Belanda, simbol dari sistem yang selama bertahun-tahun memeras mereka hingga tidak ada lagi yang tersisa.

Apa yang kemudian dikenal sebagai Geger Cilegon 1888 bukan sekadar pemberontakan petani biasa. Pemberontakan paling besar ini merupakan bagian dari perlawanan petani Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda yang terjadi dalam beberapa tahap, yaitu pada 1850, 1888, dan 1926. Tapi pemberontakan 1888 adalah yang paling dalam lukanya — dan paling banyak yang ingin dipahami dari sejarah itu.

Banten Sebelum 1888: Tanah yang Sudah Lama Terluka

Untuk memahami mengapa petani Banten memilih jalan perlawanan, kita harus mundur dan melihat kondisi yang mendahuluinya. Banten bukan daerah yang baru mengenal penderitaan. Pemberontakan 1888 di Banten bukan kali pertama terjadi. Dalam kurun 1820–1845 pemberontakan sudah banyak terjadi di Banten walau dalam skala kecil yang dilancarkan oleh bandit-bandit dengan mencuri harta para pejabat setempat. Banten merupakan pusat pemberontakan, persemaian kerusuhan yang terkenal.

Ada alasan historis yang kuat di balik itu. Banten pernah menjadi kesultanan yang besar dan mandiri — pusat perdagangan lada yang penting di abad ke-17. Ketika Belanda menghancurkan kesultanan itu dan mengambil alih kendali, luka yang ditinggalkan tidak pernah sepenuhnya sembuh. Latar belakang terjadinya pemberontakan yang paling menonjol mencakup kesenjangan sosial-ekonomi, beban pajak yang terlalu tinggi, masuknya kebudayaan barat, persoalan keagamaan, serta keinginan untuk melihat Kesultanan Banten berdiri kembali.

Tiga Tahun Bencana yang Membakar Kesabaran

Pemicu langsung pemberontakan 1888 adalah serangkaian bencana yang bertumpuk dalam waktu singkat. Antara 1882 dan 1884, penduduk Serang dan Anyer mengalami dua malapetaka berturut-turut, yaitu kelaparan dan wabah penyakit sampar pada hewan ternak. Bencana tersebut dipicu oleh musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan gagal panen dan munculnya wabah pes.

Bagaimana respons Belanda? Bukan bantuan pangan, bukan keringanan pajak. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kolonial menginstruksikan untuk membunuh semua ternak, termasuk binatang yang tidak terkena penyakit. Akibatnya, muncul kebencian rakyat terhadap pemerintah Belanda yang dianggap telah melakukan kekejian dan kesewenang-wenangan. Sebab, bagi petani binatang ternak juga dianggap sebagai teman yang membantu pekerjaan mereka di sawah.

Bayangkan: sawah sudah gagal panen, kini sapi dan kerbau yang menjadi andalan kerja sehari-hari juga dimusnahkan — termasuk yang sehat. Itu bukan kebijakan penanggulangan penyakit. Dari sudut pandang petani yang sudah kelaparan, itu adalah pembantaian.

Pajak Berlapis di Atas Kemiskinan yang Sudah Dalam

Bencana alam saja mungkin masih bisa ditanggung jika pemerintah kolonial merespons dengan empati. Yang terjadi sebaliknya. Pemerintah kolonial Belanda memperparah kesengsaraan rakyat dengan memberlakukan pemungutan beragam pajak, seperti pajak tanah pertanian, pajak perdagangan, pajak perahu, pajak pasar, dan pajak jiwa, yang besarnya di luar kemampuan penduduk. Bahkan, dalam praktiknya terjadi kecurangan pegawai pemungut pajak, yang membuat rakyat semakin resah dan membenci penjajah.

Pajak berlapis di atas tanah yang gagal panen. Ternak mati atas perintah pemerintah, tapi pajak tetap berjalan. Tidak ada kapasitas untuk membayar, tapi tidak ada opsi untuk menolak. Ini bukan sekadar kemiskinan — ini adalah jebakan yang dirancang sistem, dan tidak ada jalan keluarnya kecuali perlawanan.

Ketika Agama Dilarang: Pemantik yang Paling Berbahaya

Di atas semua penderitaan ekonomi itu, ada satu hal yang menyentuh sesuatu jauh lebih dalam dari sekadar perut kosong: Pemerintah Kolonial Belanda melalui residen A.J. Spaan (1881–1884) melarang warga setempat untuk melakukan acara-acara keagamaan. Ini yang kemudian menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat pribumi terhadap pemerintah.

Melarang ritual keagamaan kepada masyarakat yang sangat religius adalah tindakan yang tidak bisa diukur hanya dengan logika ekonomi. Bagi petani Banten yang sudah kehilangan panen, kehilangan ternak, dan dihimpit pajak — kehilangan hak untuk beribadah adalah titik di mana penghitungan risiko berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dengan berdiam diri.

9 Juli 1888: Malam yang Mengubah Banten

Sejak bulan Februari hingga April 1888, para ulama dari Serang, Banten berkumpul dan merencanakan perlawanan. Persiapan tidak dilakukan dalam semalam. Ini adalah gerakan yang diorganisir — dipimpin oleh tokoh-tokoh agama yang punya otoritas di mata rakyat. Pemberontakan ini dipimpin oleh Haji Wasid, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Abdulgani.

Para pemberontak bertitik temu di Pasar Jombang Wetan, Cilegon. Dari sana, mereka bergerak menyerang pusat-pusat kekuasaan kolonial. Perlawanan menyebar dengan cepat, melibatkan ribuan petani dan juga beberapa elit lokal yang menentang pemerintah kolonial Belanda. Gerakan ini secara terbuka menentang kebijakan tanam paksa, mengorganisir protes, dan bahkan serangan terhadap kantor administratif Belanda.

Tapi kekuatan militer yang tidak seimbang tidak bisa diatasi hanya dengan keberanian dan jumlah. Pemerintah kolonial Belanda merespons dengan keras, mengirim pasukan untuk menumpas pemberontakan dan menangkap para pemimpin pemberontakan. Pemberontakan petani Banten pada akhirnya berakhir dengan kekalahan bagi para petani.

Mengapa Sejarah Ini Penting Dibaca Hari Ini

Sartono Kartodirdjo, sejarawan Indonesia yang menulis buku klasik Pemberontakan Petani Banten 1888, menggunakan pendekatan yang meniadakan prasangka historiografi kolonial yang Belandasentris — memungkinkan rekonstruksi pola-pola sejarah yang Indonesiasentris. Buku itu menjadi karya perintis dalam sejarah sosial Indonesia yang menempatkan rakyat jelata, bukan elite dan penguasa, sebagai subjek sejarah yang layak dipelajari.

Yang membuat peristiwa ini lebih dari sekadar catatan masa lalu adalah polanya: ketika sistem ekonomi yang tidak adil, hilangnya mata pencaharian, beban pajak yang menekan, dan penghinaan terhadap identitas budaya-agama bersatu dalam satu waktu dan satu tempat — ledakannya hanya soal kapan. Pola itu bukan eksklusif milik 1888.

Kalau petani Banten 1888 mengajarkan sesuatu tentang batas kesabaran rakyat, mungkin yang paling relevan hari ini adalah ini: ketidakadilan yang bertumpuk tidak selamanya menghasilkan kepatuhan — ia menumpuk dalam diam sampai ada momen di mana diam tidak lagi terasa seperti pilihan. Pertanyaannya: seberapa baik kita belajar membaca momen itu sebelum ia meledak?

Penulis: Muhammad Jazuli

Referensi:

  • Kompas.com, "Latar Belakang Pemberontakan Petani Banten 1888" (Maret 2024)
  • Kompas.com, "Geger Cilegon 1888: Latar Belakang dan Jalannya Perang" (Juni 2021)
  • Kantor Berita Buruh, "Resensi: Pemberontakan Petani Banten 1888"
  • Museum Nusantara, "Pemberontakan Petani Banten 1888: Awal Mula & Dampak" (2024)
  • Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888 (1966, Komunitas Bambu)

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Apa Penyebab Pemberontakan Petani Banten 1888 dan Bagaimana Akhirnya?
  • Apa Penyebab Pemberontakan Petani Banten 1888 dan Bagaimana Akhirnya?
  • Apa Penyebab Pemberontakan Petani Banten 1888 dan Bagaimana Akhirnya?
  • Apa Penyebab Pemberontakan Petani Banten 1888 dan Bagaimana Akhirnya?
  • Apa Penyebab Pemberontakan Petani Banten 1888 dan Bagaimana Akhirnya?
  • Apa Penyebab Pemberontakan Petani Banten 1888 dan Bagaimana Akhirnya?
Posting Komentar