Nalarmerdeka.com – Suatu hari di kelas satu SMA, seorang teman mengejeknya. Katanya, membaca novel itu pembodohan. Kalimat itu menyakitkan, tapi justru jadi pemantik. Dari sana, Muhammad Jazuli, pendiri Nalar Merdeka, mulai mencari bacaan yang "lebih berat" dan bertemu dunia filsafat. Ejekan yang harusnya menjatuhkan, malah membuka jalan.
Dari Novel ke Filsafat
Sejak kecil, kita mengenalnya sebagai penyuka buku. Tapi sebelum kelas satu SMA, bacaannya hanya sebatas novel. Ejekan teman itu mendorongnya membaca lebih jauh. Ia bertemu Tan Malaka lewat Madilog, yang mengajak masyarakat Indonesia berpikir bebas dari mitos. Ia juga menyerap gagasan Jean Paul Sartre: eksistensi mendahului esensi. Manusia tidak punya makna bawaan, kecuali ia mulai bertindak. Prinsip itu yang ia pegang: orang tidak akan tahu ia menyukai filsafat, kecuali ia terus-menerus belajar dan membuktikannya.
Kini, di usia 22 tahun, Jazuli tercatat sebagai mahasiswa semester akhir Komunikasi Penyiaran Islam di Universitas Al-Qolam Malang. Jejak pendidikannya panjang: MI Hidayatus Shibyan, MTs Raudlatul Ulum Putra Malang, hingga MAS Al-Amin Fauzi di Madura. Ia juga sempat aktif di PMII Komisariat Al-Qolam, mengikuti Pelatihan Basis Zona Jawa Timur selama 10 hari pada 2023, dan Kalambahu bersama YLBHI LBH Pos Malang.
Dari Liputan Kasus ke Kesadaran Media
Antara September hingga Desember 2025, Jazuli magang di Tugu Malang ID. Ia meliput beragam peristiwa, dari kasus pembunuhan hingga Pesona Gondanglegi dan diskusi ilmiah. Di titik itulah ketertarikannya pada dunia media digital tumbuh serius. Ia melihat anak muda Indonesia terlalu sering diam sebagai konsumen informasi. Menurutnya, generasi muda harus berani menjadi kontributor, bukan sekadar penerima pasif dari apa yang mereka baca.
Nalar dan Merdeka: Filosofi di Balik Nama
Nama Nalar Merdeka lahir dari perenungan, bukan sekadar pilihan kata. "Nalar" merepresentasikan jiwa filosofisnya, sebab bagi seorang filsuf, akal budi selalu menempati posisi utama dalam memandang realitas. Sementara "Merdeka" mencerminkan kesadarannya sebagai mahasiswa sekaligus warga negara yang menjunjung semangat nasionalisme. Perpaduan kedua kata tersebut kemudian melebur menjadi satu identitas utuh—identitas media yang ia bangun dengan penuh kesadaran akan makna di baliknya.
Kegelisahannya sederhana: menurutnya, Gen Z malas membaca. Nalar Merdeka hadir sebagai jalan pintas yang bertanggung jawab, menyajikan uraian singkat tentang tokoh, buku, dan sejarah tanpa mengorbankan kedalaman. Bedanya dengan media lain, Nalar Merdeka konsisten mengangkat konten evergreen seputar pemikiran dan tokoh, sekaligus membedah isu terkini lewat analisis mendalam.
Visi yang Tak Berhenti di Layar
Jazuli melihat bahwa tantangan terbesar Gen Z bukan pada akses informasi, melainkan pada kebiasaan menelan informasi secara mentah. Nalar Merdeka hadir sebagai ruang kurasi pemikiran—menyajikan bahasan tokoh, buku, dan sejarah yang ringkas tanpa kehilangan kedalaman substansi. Berbeda dengan media arus utama yang mengejar tren sesaat, Nalar Merdeka konsisten mengangkat konten evergreen yang mengajak pembaca tetap relevan dengan diskursus intelektual yang lebih luas.
Mari Bernalar Bersama
Kita tidak butuh generasi yang hanya diam menonton arus informasi lewat begitu saja. Kita butuh generasi yang berani menyusun gagasannya sendiri. Jika kamu punya tulisan, kirimkan ke Nalar Merdeka. Ikuti perjalanan kami di Instagram @nalarmerdekacom dan TikTok nalarmerdeka.com.
Mari menjadi pemuda bebas dan merdeka, yang terus bernalar.
Terhubung dengan Muhammad Jazuli: Instagram @muhammd.jazuli, TikTok @jazulisunflower, LinkedIn Muhammad Jazuli.
Apakah kamu masih puas jadi penonton, atau berani mulai menulis gagasanmu sendiri?
