Nalarmerdeka.com – Penulisnya adalah adik kandung sastrawan Pramoedya Ananta Toer, doktor ekonomi politik lulusan Institut Plekhanov di Uni Soviet, yang justru menghabiskan belasan tahun dalam penjara tanpa pengadilan setelah pulang ke Indonesia. Dari sisa ingatan seorang mantan tahanan politik itulah lahir buku tipis berjudul Republik Jalan Ketiga, sebuah gagasan yang menolak baik kapitalisme maupun sosialisme sebagai jalan tunggal bagi sebuah bangsa.
Latar Belakang: Siapa Soesilo Toer?
Soesilo Toer menempuh pendidikan di Universitas Patrice Lumumba dan meraih gelar doktor ekonomi politik dari Institut Plekhanov, Moskow, pada era 1960-an, tepat ketika hubungan Indonesia dan Uni Soviet berada di puncak kedekatannya. Namun pergantian rezim politik di Indonesia pascaperistiwa 1965 membuat riwayat pendidikannya di negeri komunis itu menjadi beban, bukan prestasi.
Ia dipenjara tanpa pengadilan, kehilangan akses ke naskah disertasi doktoralnya, dan setelah bebas sempat berjualan di warung kecil di Jakarta dan Bekasi sebelum akhirnya pulang ke kampung halamannya di Blora dan mengelola Perpustakaan Pataba sambil berkebun dan beternak. Buku Republik Jalan Ketiga lahir dari upayanya menuliskan kembali gagasan disertasi itu, murni berdasarkan ingatan, karena naskah aslinya tak lagi bisa diakses.
Fakta dan Isi Buku
Buku ini membentangkan sejarah pergulatan dua ideologi ekonomi besar abad ke-20. Soesilo menelusuri bagaimana kapitalisme, yang menurutnya berakar dari perbudakan, feodalisme, lalu imperialisme, menempatkan pemilik modal dan buruh dalam relasi yang eksploitatif. Sebagai reaksi, Karl Marx menawarkan gagasan masyarakat tanpa kelas, yang oleh Soesilo dinilai terlalu utopis hingga direvisi dan diterapkan secara lebih konkret oleh Vladimir Lenin melalui Revolusi Oktober 1917.
Namun Soesilo juga mencatat kegagalan proyek sosialis Soviet, yang menurutnya berujung pada keruntuhan akibat kebijakan keterbukaan era Mikhail Gorbachev, hingga lima belas negara anggota Uni Soviet melepaskan diri satu demi satu. Dari kritik atas dua kegagalan besar inilah ia menawarkan konsep jalan ketiga.
Analisis Kritis: Jalan Ketiga yang Kontekstual, Bukan Resep Tunggal
Bagian paling menarik dari buku ini adalah penegasan Soesilo bahwa jalan ketiga bukanlah formula yang bisa dipaksakan secara seragam ke semua negara. Bentuknya, menurutnya, harus disesuaikan dengan kondisi, kultur, keyakinan, dan geografis masing-masing bangsa, bisa berupa perpaduan unsur kapitalisme dan sosialisme, atau bahkan sistem yang sama sekali baru.
Yang juga ditekankan adalah syarat kepemimpinan: sebuah republik jalan ketiga membutuhkan pemimpin dengan intelektualitas dan integritas tinggi, yang rela melepaskan ego pribadi untuk menumpuk kekayaan. Menariknya, gagasan semacam ini ia rumuskan jauh sebelum sosiolog Inggris Anthony Giddens mempopulerkan istilah "jalan ketiga" (third way) di kancah internasional pada akhir 1990-an, meski keduanya berangkat dari konteks dan kedalaman akademik yang berbeda.
Dampak dan Implikasi
Bagi pembaca masa kini, buku ini berfungsi ganda: sebagai dokumen pemikiran ekonomi alternatif sekaligus catatan personal seorang intelektual yang "dimatikan" kariernya oleh gejolak politik 1965. Ditulis dalam kurun waktu lima tahun terakhir hidupnya sebagai bagian dari belasan buku lain yang ia hasilkan, karya ini terasa seperti katarsis, upaya seorang yang pernah disia-siakan negaranya untuk tetap membagikan pengetahuan yang ia miliki.
Perspektif Alternatif: Keterbatasan sebagai Karya Ingatan
Perlu dicatat, karena buku ini disusun ulang dari ingatan tanpa naskah asli disertasi, banyak detail akademik yang hilang atau kurang tergarap rapi dibanding karya kritik kapitalisme lain yang lebih sistematis. Pembaca yang mencari argumentasi ekonomi yang ketat secara metodologis mungkin perlu melengkapinya dengan literatur akademik lain. Namun justru di situlah nilai buku ini terletak: sebagai testimoni personal, bukan traktat ilmiah steril.
Republik Jalan Ketiga bukan sekadar kritik dua ideologi besar, melainkan pengingat bahwa gagasan besar bisa lahir dari pinggiran sejarah yang paling sunyi sekalipun. Pertanyaannya bagi Indonesia hari ini: apakah kita masih mencari jalan ekonomi yang benar-benar sesuai akar budaya sendiri, atau justru terus bolak-balik mengimpor ideologi dari luar tanpa pernah merumuskan jalan ketiga versi kita sendiri?
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi & Sumber
- Rahmat Petuguran, "Republik Jalan Ketiga, Mencari Alternatif Selain Kapitalisme dan Sosialisme", PortalSemarang.com, diakses 16 Juli 2026.
- Tokopedia, "Buku Republik Jalan Ketiga karya Soesilo Toer", Pataba - Shop, diakses 16 Juli 2026
- Soesilo Toer, Republik Jalan Ketiga (Blora: Perpustakaan Pataba), disarikan dari disertasi doktoral penulis di Institut Plekhanov, Moskow.
