Nalarmerdeka.com – Setiap kali ada ilmuwan yang mengumumkan penemuan besar — tentang evolusi, tentang usia semesta, tentang asal-usul kehidupan — ada yang langsung bereaksi: "itu bertentangan dengan agama." Dan setiap kali ada tokoh agama yang bicara tentang hal-hal yang seharusnya menjadi domain sains, ada yang bereaksi sebaliknya: "agama tidak boleh ikut campur." Dua kubu yang saling menolak, masing-masing yakin sedang membela kebenaran. Padahal pertentangan itu sebagian besar adalah konstruksi — dibangun di atas kesalahpahaman tentang apa itu sains, dan kesalahpahaman yang sama tentang apa itu agama.
Mitos Perang yang Tidak Pernah Benar-benar Terjadi
Narasi tentang "perang sains versus agama" sangat populer, tapi sejarahnya jauh lebih rumit dari yang biasanya diceritakan. Kisah Galileo yang "dihukum karena sains" sering dijadikan simbol utama konflik itu. Tapi yang sesungguhnya terjadi adalah jauh lebih politis: Galileo bermasalah bukan hanya karena teorinya, tapi karena cara ia menyampaikannya — dengan mempermalukan Paus secara pribadi dalam sebuah tulisan satir. Ilmu pengetahuannya bukan satu-satunya perkara.
Justru sepanjang Abad Pertengahan, institusi keagamaan Eropa — meski bukan tanpa masalah — adalah salah satu pelindung utama tradisi keilmuan. Universitas-universitas pertama di Eropa lahir dari lembaga gereja. Dan di dunia Islam, pada masa keemasan antara abad ke-8 hingga ke-13, para ulama adalah juga para ilmuwan. Ibn Sina menulis ensiklopedia kedokteran yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Al-Khawarizmi meletakkan fondasi aljabar. Al-Biruni melakukan pengukuran keliling bumi dengan akurasi yang mengagumkan. Mereka tidak merasa harus memilih antara iman dan ilmu.
Yang Sebenarnya Berbenturan: Interpretasi, Bukan Esensi
Konflik yang tampak antara sains dan agama hampir selalu sebenarnya adalah konflik antara sains dan interpretasi tertentu atas teks agama — interpretasi yang sering kali lahir dari konteks sosial-politik tertentu, bukan dari esensi ajaran itu sendiri.
Teori evolusi Darwin bukan musuh agama. Ia adalah musuh dari pemahaman literal tentang kisah penciptaan yang tidak pernah dimaksudkan sebagai laporan jurnalistik tentang peristiwa biologis. Para teolog yang serius — dari berbagai tradisi, termasuk Islam — sudah lama berdebat tentang bagaimana teks-teks suci harus dibaca: sebagai narasi harfiah, sebagai alegori, sebagai pernyataan teologis yang tidak bertujuan menjelaskan mekanisme alam. Dan perdebatan itu, kalau dilakukan dengan jujur, tidak memerlukan sains sebagai musuh.
Yang membuat benturan itu terasa nyata adalah ketika pemegang otoritas agama mengklaim teks suci sebagai sumber pengetahuan empiris tentang alam — sesuatu yang bukan tujuan primer teks itu — lalu berhadapan dengan saintis yang menolak semua klaim tentang yang transenden karena tidak bisa diuji di laboratorium. Dua pihak yang berbicara tentang hal yang berbeda, tapi sama-sama merasa sedang berargumen tentang hal yang sama.
Di Indonesia, Konflik Ini Punya Bentuknya Sendiri
Di konteks Indonesia, benturan sains-agama bukan sekadar debat akademis — ia punya dampak sosial yang konkret. Ketika pandemi COVID-19 melanda, beredar berbagai narasi yang menolak vaksin dengan alasan keagamaan — bahwa vaksin haram, bahwa pandemi adalah azab yang hanya bisa disembuhkan dengan ibadah, bahwa sains Barat tidak bisa dipercaya. Narasi-narasi itu menelan korban.
Tapi kita juga perlu jujur tentang sisi lain: saintis dan akademisi yang menolak berdialog dengan komunitas keagamaan, yang menyampaikan temuan ilmiah dengan nada yang merendahkan kepercayaan orang, yang memperlakukan religiusitas sebagai tanda keterbelakangan intelektual — mereka juga berkontribusi pada pembesaran jurang itu. Komunikasi sains yang arogan bukan hanya tidak efektif, ia aktif merusak kepercayaan.
Siapa yang Diuntungkan dari Konflik Ini
Ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang mendapat keuntungan dari terus dipeliharanya narasi "sains vs agama"?
Di satu sisi, ada kelompok dalam komunitas keagamaan yang menggunakan narasi ancaman dari sains untuk mengonsolidasikan loyalitas jemaah. Ketakutan akan "sekularisme yang merusak iman" adalah cara efektif untuk mempertahankan otoritas — selama orang takut bahwa belajar ilmu pengetahuan akan merusak iman mereka, mereka akan tetap bergantung pada penjaga-penjaga tafsir yang ada.
Di sisi lain, ada juga kalangan yang menggunakan narasi tentang "irasionalitas agama" untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan etika dan makna yang sains memang tidak bisa dan tidak seharusnya menjawab sendirian. Sains bisa menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja. Ia tidak dirancang untuk menjawab mengapa kita harus peduli, apa yang bernilai, dan siapa yang bertanggung jawab atas konsekuensi dari pengetahuan itu.
Tradisi Islam dan Pelajaran yang Sudah Ada Sejak Lama
Dalam tradisi Islam, ada konsep yang relevan dan sering terlupakan: tafakkur — merenung dan memperhatikan alam sebagai jalan untuk memahami kebesaran Tuhan. Al-Qur'an sendiri berkali-kali menyerukan manusia untuk mengamati alam, memikirkan penciptaan langit dan bumi, memperhatikan siklus kehidupan. Itu bukan seruan untuk anti-sains — itu adalah undangan untuk bersains.
Tradisi pesantren di Indonesia punya warisan keilmuan yang kaya — kajian filsafat, logika, astronomi, dan kedokteran selalu menjadi bagian dari kurikulum pesantren klasik. Pemisahan keras antara ilmu agama dan ilmu umum adalah produk modernitas yang relatif baru, bukan warisan tradisi yang panjang.
Kalau sains dan agama sudah hidup berdampingan dan saling memperkaya selama berabad-abad sebelum narasi "perang" itu dipopulerkan, pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah kita sedang mempertahankan konflik ini karena tidak ada jalan lain — atau karena ada pihak-pihak yang sangat berkepentingan agar kita terus terjebak di dalamnya?
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Ziauddin Sardar, Explorations in Islamic Science (1989)
- Ian Barbour, Religion and Science (1997, HarperOne)
- Nidhal Guessoum, Islam's Quantum Question (2011, I.B. Tauris)
- Kemenag RI, berbagai dokumen tentang integrasi ilmu dalam pendidikan Islam
