Nalarmerdeka.com – Dua buku. Satu penulis. Hampir satu miliar kata telah ditulis tentang keduanya di seluruh internet. Barack Obama merekomendasikan Sapiens. Bill Gates juga. Mark Zuckerberg juga. Daniel Kahneman, pemenang Nobel Ekonomi, menyebut Yuval Noah Harari sebagai penulis yang mampu "menghibur, mengejutkan, memberi cara pandang yang belum terpikirkan sebelumnya."
Dan ketika sebuah buku sudah mendapat endorsement dari tiga nama itu sekaligus, wajar kalau pertanyaan pertama yang muncul di kepala kita adalah: mana dulu yang harus dibaca? Jawabannya tidak sesederhana yang kelihatan — karena Sapiens dan Homo Deus bukan hanya dua buku berbeda, mereka adalah dua cara pandang yang sangat berbeda tentang manusia: satu melihat ke belakang dengan rasa ingin tahu, satu melihat ke depan dengan rasa cemas yang tidak bisa disembunyikan.
Sapiens: Kisah Terpendek Tentang Sejarah Terpanjang
Sapiens: A Brief History of Humankind terbit dalam bahasa Inggris pada 2014 setelah sebelumnya terbit dalam bahasa Ibrani. Ia mengajak pembaca melakukan perjalanan dari 70.000 tahun silam — ketika Homo sapiens mulai menyebar keluar dari Afrika — hingga hari ini. Dalam satu buku, Harari mencakup tiga revolusi besar yang membentuk peradaban manusia: Revolusi Kognitif (sekitar 70.000 tahun lalu), Revolusi Agrikultur (sekitar 12.000 tahun lalu), dan Revolusi Sains (dimulai sekitar 500 tahun lalu).
Tapi Sapiens bukan buku sejarah biasa. Argumen paling provokartif Harari adalah tentang bagaimana Homo sapiens bisa mendominasi bumi bukan karena kita lebih kuat atau lebih cepat dari spesies lain, tapi karena kita adalah satu-satunya makhluk yang bisa bekerja sama dalam jumlah besar berdasarkan fiksi bersama — narasi kolektif yang kita percayai meski tidak bisa diverifikasi secara fisik. Negara adalah fiksi bersama. Uang adalah fiksi bersama. Hak asasi manusia adalah fiksi bersama. Agama adalah fiksi bersama. Perusahaan adalah fiksi bersama.
Ini bukan argumen bahwa semua itu tidak nyata atau tidak penting — justru sebaliknya. Karena kita bisa mempercayai fiksi bersama, kita bisa membangun kota, membiayai perang, dan menciptakan sistem hukum yang melibatkan jutaan orang yang tidak pernah saling kenal. Tidak ada spesies lain yang bisa melakukan itu. Dan itu, menurut Harari, adalah alasan Homo sapiens menguasai dunia sementara Neanderthal yang secara fisik bisa jadi lebih kuat dari kita sudah punah.
Homo Deus: Ketika Harari Berhenti Bercerita dan Mulai Khawatir
Kalau Sapiens membahas masa lalu manusia yang menyerobot dari antara berbagai spesies kehidupan dan menempatkan diri sebagai pemenang di puncak evolusi, maka Homo Deus membahas masa depan "kepunahan" Homo sapiens. Itu adalah kalimat yang sangat mengganggu — dan Harari membuatnya secara sengaja.
Homo Deus — yang berarti "manusia-tuhan" dalam bahasa Latin — terbit dalam bahasa Ibrani pada 2015 dan dalam bahasa Inggris pada 2016. Ia dimulai dengan sebuah premis yang terasa mengejutkan tapi sulit dibantah: sepanjang sejarah, tiga musuh terbesar manusia adalah kelaparan, penyakit, dan perang. Dan kita, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sudah hampir mengalahkan ketiganya. Lebih banyak orang mati karena obesitas daripada kelaparan. Lebih banyak orang mati karena bunuh diri daripada perang. Kita bukan lagi spesies yang berjuang untuk bertahan hidup — kita adalah spesies yang sekarang bertanya: apa selanjutnya?
Jawaban Harari atas pertanyaan itu adalah yang membuat buku ini terasa seperti distopia yang ditulis oleh sejarawan: manusia akan mengejar keabadian, kebahagiaan yang diproduksi secara kimia, dan kekuatan yang menyerupai dewa — melalui bioteknologi, kecerdasan buatan, dan manipulasi genetik. Buku ini menyimpulkan dengan kemungkinan bahwa manusia adalah algoritma, dan sebagai hasilnya Homo sapiens mungkin tidak lagi dominan di alam semesta di mana big data menjadi paradigma.
Perbedaan Mendasar Keduanya: Bukan Hanya Soal Waktu
Kesalahpahaman yang paling umum tentang dua buku ini adalah bahwa Sapiens tentang masa lalu dan Homo Deus tentang masa depan — seolah keduanya adalah dua bagian dari narasi linear yang sama. Sebenarnya perbedaannya lebih mendasar dari itu.
Sapiens pada dasarnya adalah buku tentang bagaimana manusia sampai di sini: mekanisme yang membuat kita mendominasi, dengan segala kecemerlangan dan kekejamannya. Harari tidak menghakimi — ia menganalisis. Kita mengagumi Revolusi Sains tapi juga harus mengakui bahwa ia datang bersamaan dengan kolonialisme. Kita bangga dengan kemampuan kerja sama manusia tapi harus mengakui bahwa kemampuan itu dipakai juga untuk membangun kamp konsentrasi.
Homo Deus adalah buku yang lebih gelap dalam cara yang lebih halus. Harari menyampaikan perkembangan yang lumayan kelam, cenderung distopian, dengan spekulasi terlalu jauh. Ia mempertanyakan apakah humanisme — keyakinan bahwa manusia punya nilai intrinsik dan kehendak bebas — akan bertahan ketika ilmu pengetahuan semakin membuktikan bahwa "kehendak bebas" itu mungkin hanya ilusi, dan ketika algoritma bisa mengetahui keinginan kita lebih baik dari diri kita sendiri.
Dataisme: Agama Masa Depan Menurut Harari
Salah satu konsep paling menggelisahkan dalam Homo Deus adalah dataisme — ide bahwa di masa depan, nilai tertinggi bukan lagi kesadaran manusia atau bahkan kebahagiaan, melainkan aliran data. Pertarungan masa depan adalah penguasaan data. Itulah sebabnya dataisme menjadi agama masa depan — agamanya Homo Deus.
Implikasinya terasa tidak nyaman: jika algoritma bisa menganalisis data biometrik, perilaku pembelian, pola tidur, dan pilihan media kita dengan akurasi yang melampaui kemampuan introspeksi kita sendiri, siapa yang lebih tahu tentang kita — kita sendiri atau sistem data besar yang mengamati kita? Dan jika jawabannya adalah sistem data, apa artinya "kebebasan memilih" yang selama ini kita banggakan?
Apakah Harari Bisa Dipercaya Sepenuhnya?
Jujur perlu dikatakan: kedua buku ini bukan karya akademis dalam arti sempit. Harari adalah sejarawan yang menulis untuk audiens umum, dan dalam prosesnya ia melakukan generalisasi yang luar biasa lebar. Sapiens memaparkan sejarah spesies kita dan Homo Deus mengkhawatirkan bahwa kita sedang bergerak buta menuju masa depan dengan moralitas yang berubah. Tapi cara ia menyederhanakan argumen-argumen kompleks membuat sebagian sejarawan dan filsuf tidak nyaman.
Yang lebih penting dari percaya atau tidak percaya sepenuhnya pada Harari adalah menggunakannya sebagai titik masuk untuk pertanyaan yang lebih dalam. Buku-bukunya bekerja paling baik bukan sebagai ensiklopedia yang dipercaya bulat-bulat, tapi sebagai provokasi intelektual yang mendorong kita untuk bertanya sendiri: apakah narasi tentang kemajuan yang kita percayai memang benar? Apa yang akan kita korbankan dalam mengejar kehidupan yang lebih panjang, lebih bahagia, dan lebih berkuasa?
Mana yang Harus Dibaca Duluan?
Baca Sapiens dulu. Selalu. Homo Deus dibangun di atas argumen dan konsep yang dikembangkan di Sapiens — tentang fiksi bersama, tentang revolusi kognitif, tentang hubungan manusia dengan agama dan sains. Membaca Homo Deus tanpa fondasi Sapiens adalah seperti membaca bab terakhir sebuah novel: kamu mungkin mengerti kata-katanya, tapi kehilangan konteks yang membuatnya bermakna.
Dan setelah keduanya selesai, buku ketiga dalam trilogi ini — 21 Lessons for the 21st Century (2018) — menawarkan sesuatu yang berbeda lagi: pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang harus kita lakukan sekarang, di masa transisi antara dunia yang Harari gambarkan di Sapiens dan masa depan yang ia khawatirkan di Homo Deus.
Kalau Sapiens mengajarkan bahwa kita sampai di sini karena kemampuan untuk bercerita bersama, dan Homo Deus memperingatkan bahwa cerita-cerita itu akan segera digantikan oleh algoritma yang tidak membutuhkan narasi — pertanyaan yang paling penting bukan buku mana yang lebih bagus, tapi: cerita seperti apa yang ingin kita pertahankan, dan apakah kita masih punya cukup kekuasaan atas data kita sendiri untuk memilihnya?
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Yuval Noah Harari, Sapiens: A Brief History of Humankind (2014, Harvill Secker)
- Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2016, Harvill Secker)
- ResearchGate, "Resensi Buku Homo Deus: Implikasi Logis dan Konsekuensi Tindaknya" (2020)
- Freedom Institute, "Homo Deus, Sinar Terang yang Muram"
- Wikipedia, "Homo Deus: A Brief History of Tomorrow"
- Naml.us, "A Constructive Critique of Sapiens and Homo Deus"
