Scroll untuk melanjutkan membaca

Sejarah Universitas Hasanuddin: Dari Cabang UI 1947 hingga Kampus Merah Terbesar di Indonesia Timur

Ilustrasi gedung Universitas Hasanuddin.
Ilustrasi editorial yang menggambarkan perjalanan sejarah Universitas Hasanuddin, dari awal berdiri sebagai cabang Universitas Indonesia hingga berkembang menjadi salah satu kampus terbesar di Indonesia Timur. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Ada sebuah ironi yang menarik dalam sejarah Universitas Hasanuddin: kampus yang hari ini menjadi kebanggaan terbesar Sulawesi Selatan, simbol intelektual Indonesia Timur, dan salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di negeri ini — pernah dibekukan karena kekacauan yang melanda Makassar. Bukan karena akademiknya bermasalah. Bukan karena mahasiswanya berulah. Tapi karena situasi politik dan keamanan yang tidak menentu di kota yang menjadi rumahnya sendiri. Dari titik yang tidak menggembirakan itulah, dengan tekad masyarakat Sulawesi Selatan yang tidak mau menyerah, lahir sebuah universitas yang namanya diambil dari pahlawan yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur.

1947: Lahir dari Keputusan Pemerintah Kolonial, di Tengah Kekacauan

Berdirinya UNHAS diawali dengan adanya Fakultas Ekonomi yang merupakan cabang Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jakarta pada 1947. Lebih spesifik lagi, Fakultas Ekonomi didirikan berdasarkan keputusan Letnan Jenderal Gubernur Pemerintah Hindia Belanda Nomor 127 tanggal 23 Juli 1947, dipimpin oleh Drs. L.A. Enthoven sebagai direktur.

Fakta ini menarik secara historis: cikal bakal UNHAS secara teknis lahir dari keputusan pemerintah kolonial Belanda — bukan dari inisiatif kemerdekaan Indonesia. Itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan, tapi perlu diletakkan dalam konteks: pada 1947, Indonesia baru dua tahun merdeka dan sedang dalam proses revolusi yang sangat tidak stabil. Belanda masih berupaya mempertahankan pengaruhnya melalui berbagai instrumen, termasuk membuka fasilitas pendidikan yang bisa membentuk kelas terpelajar yang diharapkan bisa bekerjasama dengan sistem kolonial.

Tapi sejarah tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan oleh yang berkuasa. Karena ketidakpastian yang berlarut-larut dan kekacauan di Makassar dan sekitarnya, fakultas yang dipimpin Drs. L.A. Enthoven ini dibekukan. Institusi yang lahir dari tangan kolonial pun mati sementara karena situasi yang kolonialisme itu sendiri ciptakan.

Kebangkitan 1950: Inisiatif Rakyat yang Tidak Mau Menunggu

Di tengah pembekuan fakultas ekonomi, masyarakat Makassar tidak berdiam diri. Selama universitas ini dibekukan, berdiri Balai Perguruan Tinggi Sawerigading yang kemudian membentuk panitia pejuang universitas negeri pada Maret 1950. Keberhasilan panitia ini adalah mampu membentuk Fakultas Hukum dan Ilmu Warga Cabang Fakultas Hukum UI.

Ini adalah pola yang sama dengan yang kita lihat dalam sejarah banyak perguruan tinggi di Indonesia Timur: ketika negara lambat bergerak, komunitas yang bergerak lebih cepat. Balai Perguruan Tinggi Sawerigading adalah inisiatif mandiri masyarakat Makassar yang menolak menunggu sampai kondisi sempurna untuk mulai membangun infrastruktur pendidikan tinggi.

Langkah berikutnya terjadi pada 3 Maret 1952, ketika didirikan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat di Makassar sebagai cabang Fakultas Hukum UI. Dan Fakultas Ekonomi baru dibuka kembali sebagai cabang Fakultas Ekonomi UI pada 7 Oktober 1953 di bawah pimpinan Prof. Drs. G.H.M. Riekerk.

Perlahan, satu per satu, blok-blok yang diperlukan untuk sebuah universitas penuh mulai terbentuk.

28 Januari 1956: Satu Gedung Lagi, Semakin Dekat ke Tujuan

Momentum penting lainnya terjadi pada 28 Januari 1956, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Mr. R. Soewandi, meresmikan Fakultas Kedokteran di Makassar. Kehadiran Fakultas Kedokteran bukan hanya soal menambah jumlah program studi. Ia adalah pengakuan bahwa Makassar — dan Indonesia Timur secara keseluruhan — memiliki kebutuhan yang sangat nyata akan tenaga medis yang tidak bisa terus-menerus dipenuhi dari Jawa.

Dengan tiga fakultas sudah berdiri — Hukum (1952), Ekonomi (1953 reopening), dan Kedokteran (1956) — kondisi untuk mendirikan universitas penuh sudah matang. Tinggal satu langkah terakhir yang paling menentukan.

10 September 1956: Hari yang Mengubah Peta Pendidikan Indonesia Timur

Puncak dari perjuangan panjang ini terjadi pada 10 September 1956, ketika Universitas Hasanuddin resmi didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1956. Pada awalnya, Universitas Hasanuddin memiliki empat fakultas, yaitu: Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (dibuka 1952), Fakultas Ekonomi (1947/1953), Fakultas Kedokteran (1956), dan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang berlokasi di Manado.

Perguruan tinggi ini semula merupakan pengembangan dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ketika Bung Hatta masih menjadi wakil presiden. Nama Bung Hatta dalam narasi ini bukan sekadar ornamen historis. Ia adalah pengingat bahwa pendirian universitas di luar Jawa pada era itu membutuhkan dukungan dari tingkat paling puncak pemerintahan — karena tanpa itu, kepentingan daerah terlalu mudah tersisihkan oleh prioritas yang selalu saja lebih mendesak di pusat.

Nama Sultan Hasanuddin: Pilihan yang Penuh Makna

Nama universitas ini diambil dari nama pahlawan nasional asal Makassar yang memiliki julukan Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin.

Sultan Hasanuddin adalah pemimpin Kerajaan Gowa yang memimpin perlawanan paling gigih dan paling lama terhadap Belanda di Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Ia tidak pernah benar-benar menyerah secara batin meski akhirnya dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya yang sangat merugikan. Belanda menjulukinya "De Haantjes van het Osten" — Ayam Jantan dari Timur — karena keberaniannya yang tidak tunduk.

Memilih nama itu untuk universitas adalah pernyataan yang sangat kaya makna: kampus ini lahir dari tanah yang sama dengan semangat perlawanan Sultan Hasanuddin. Ia bukan sekadar institusi pendidikan — ia adalah kebangkitan kembali dari tekad untuk tidak terus-menerus menjadi pinggiran.

Ekspansi yang Cepat: Dari Tiga Menjadi Lebih dari Dua Puluh Fakultas

Tahun-tahun setelah 1956 adalah fase ekspansi yang luar biasa cepat. Pada 8 September 1960, Menteri P dan K RI mengeluarkan SK No. 88130/S perihal peresmian Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang diketuai Ir. J. Pongrekun dengan tiga departemen: Sipil, Mesin, dan Perkapalan. Pada tahun 1963 menyusul terbentuk Departemen Elektronika dan Arsitektur.

Departemen Perkapalan dalam Fakultas Teknik adalah pilihan yang sangat kontekstual untuk Makassar — kota pelabuhan yang punya tradisi maritim panjang, kota dari mana pelaut-pelaut Bugis menjangkau seluruh nusantara dan bahkan pantai Australia. Membangun program studi perkapalan di sini bukan keputusan administratif yang dipilih dari menu standar — ini adalah pengakuan bahwa pendidikan tinggi yang baik harus berakar pada konteks dan kebutuhan lokalnya.

Pada tahun 1963 juga dibentuk Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, dan SK Menteri PTIP tertanggal 17 Agustus 1962 meresmikan Fakultas Pertanian sebagai fakultas yang ke-7 dalam lingkungan Universitas Hasanuddin.

Pindah ke Tamalanrea: Dari Baraya ke Kampus yang Lebih Layak

Kampus Unhas semula dibangun di Baraya. Awal tahun 1980-an, ketika Rektor dijabat Prof. Dr. Ahmad Amiruddin, Kampus Unhas dipindahkan ke Tamalanrea, karena Kampus Barayya pada saat itu sering menjadi langganan banjir ketika musim hujan tiba.

Perpindahan ke Tamalanrea bukan sekadar memindahkan gedung. Ia adalah transformasi fisik yang memungkinkan ekspansi yang lebih sistematis. Kampus Tamalanrea yang dibangun di atas lahan yang lebih luas memungkinkan pembangunan fasilitas yang tidak bisa muat di Baraya — laboratorium yang lebih lengkap, asrama mahasiswa, pusat kegiatan mahasiswa, dan ruang hijau yang menjadi salah satu kebanggaan UNHAS hingga hari ini.

UNHAS Hari Ini: Kampus Merah yang Terus Bergerak

Universitas Hasanuddin hari ini adalah salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia dengan lebih dari 30.000 mahasiswa, belasan fakultas, dan program studi dari D4 hingga S3. Ia sudah berstatus PTN-BH yang memberinya otonomi lebih besar dalam pengelolaan dan pengembangan.

Julukan "Kampus Merah" bukan hanya soal warna bangunan. Bagi generasi demi generasi mahasiswa dari seluruh Indonesia Timur yang berkuliah di sini, UNHAS adalah tempat di mana identitas keilmuan dan identitas kedaerahan bertemu — di mana anak Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, dan puluhan suku lainnya duduk dalam satu ruang kuliah dan belajar bersama. Itu adalah pencapaian yang jauh melampaui angka akreditasi atau ranking universitas manapun.

Dari pembekuan di 1947 karena kekacauan yang melanda kotanya, hingga menjadi universitas terbesar di Indonesia Timur hampir delapan dekade kemudian — perjalanan UNHAS adalah cerita tentang komunitas yang tidak menyerah meski kondisinya tidak sempurna. Pertanyaan yang relevan hari ini: apakah semangat itu masih cukup terasa di dalam koridor-koridor dan ruang-ruang kuliah Kampus Merah yang kini sudah jauh lebih mewah dari yang pernah dibayangkan para pendirinya?

Penulis: Muhammad Jazuli

Referensi:

  • Unhas.ac.id, "Sejarah Universitas Hasanuddin" (unhas.ac.id/sejarah)
  • KabarMakassar.com, "Sejarah Berdirinya Universitas Hasanuddin Makassar" (November 2024)
  • Merdekami.com, "Sejarah Berdirinya Universitas Hasanuddin: Kebangkitan Pendidikan di Timur Indonesia" (Januari 2025)
  • Brain Academy Blog, "Profil dan Informasi Lengkap Universitas Hasanuddin" (Januari 2026)
  • STEKOM Ensiklopedia, "Universitas Hasanuddin"
  • Masuk-PTN.com, "Universitas Hasanuddin"

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Sejarah Universitas Hasanuddin: Dari Cabang UI 1947 hingga Kampus Merah Terbesar di Indonesia Timur
  • Sejarah Universitas Hasanuddin: Dari Cabang UI 1947 hingga Kampus Merah Terbesar di Indonesia Timur
  • Sejarah Universitas Hasanuddin: Dari Cabang UI 1947 hingga Kampus Merah Terbesar di Indonesia Timur
  • Sejarah Universitas Hasanuddin: Dari Cabang UI 1947 hingga Kampus Merah Terbesar di Indonesia Timur
  • Sejarah Universitas Hasanuddin: Dari Cabang UI 1947 hingga Kampus Merah Terbesar di Indonesia Timur
  • Sejarah Universitas Hasanuddin: Dari Cabang UI 1947 hingga Kampus Merah Terbesar di Indonesia Timur
Posting Komentar