Nalarmerdeka.com – Ada sebuah semboyan yang tertulis di dinding hati setiap alumni Ma Chung di seluruh dunia: "Waktu minum air jangan lupa sumbernya, waktu sukses balaslah budi kepada kampung halamannya." Kalimat itu bukan sekadar motto indah yang ditempel di brosur kampus. Ia adalah alasan mengapa Universitas Ma Chung berdiri — karena ribuan alumni yang tersebar dari Jakarta hingga Xiamen, dari Surabaya hingga Vancouver, tidak mau melupakan dari mana mereka berasal.
Dan dari mana mereka berasal adalah sebuah sekolah menengah Tionghoa di Malang yang pernah bersinar, lalu ditutup paksa oleh sejarah yang tidak memihak — dan yang kini hidup kembali dalam bentuk yang jauh melampaui yang bisa dibayangkan para pendirinya.
1946: Lahir dari Keresahan di Tengah Pendudukan
Saat pendudukan Jepang menimbulkan keresahan di Malang, seorang aktivis Tionghoa bernama Oe Ie Pan menggagas pendirian sekolah Ma Chung bersama rekan-rekannya pada 1946. Nama lengkapnya adalah Chung Hua Chung Hsueh — sekolah menengah yang membuka jenjang SMP dan SMA, dengan kegiatan belajar mengajar yang pada masa awalnya dilakukan secara sederhana di sebuah bangunan darurat di kawasan Jalan Pasar Besar.
Kondisinya sangat terbatas. Tapi semangat para guru dan siswa membuat Ma Chung perlahan berkembang menjadi salah satu sekolah paling bergengsi di Malang. Memasuki awal 1950-an, sekolah tersebut dipindahkan ke kawasan Jalan Tanimbar. Di lokasi baru itu, Ma Chung berkembang pesat dan dikenal memiliki standar pendidikan disiplin yang kuat.
Ini adalah gambaran yang penting: Ma Chung tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi terbaik yang bisa diberikan sebuah komunitas kepada generasinya — bahkan di tengah ketidakpastian sejarah.
Dua Dekade Kejayaan yang Berakhir Tragis
Selama dua dekade, Ma Chung adalah institusi yang melahirkan tokoh-tokoh luar biasa. Banyak alumni Ma Chung kemudian berhasil menjadi ilmuwan, akademisi, hingga pengusaha besar yang tersebar di berbagai negara. Spirit Ma Chung bukan hanya soal pendidikan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, solidaritas, dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat.
Tapi sejarah tidak selalu berpihak pada yang layak bertahan. Masa kejayaan sekolah Ma Chung berakhir pada tahun 1966, seiring dinamika politik nasional pasca 1965 yang sangat mempengaruhi kehidupan komunitas Tionghoa di Indonesia, termasuk Malang. Sekolah terpaksa ditutup saat ujian caturwulan tengah berlangsung. Para guru yang tinggal di asrama sekolah pun segera meninggalkan tempat untuk menyelamatkan diri.
Ditutup paksa saat ujian sedang berlangsung. Guru-guru berlarian meninggalkan asrama untuk keselamatan mereka. Itu bukan penutupan yang bermartabat — itu adalah kekerasan sejarah yang merobek sesuatu yang hidup. Gedung yang pernah menjadi tempat ribuan anak belajar kemudian beralih fungsi — sebagian menjadi apa yang kini dikenal sebagai SMAN 5 Kota Malang.
2001: Gagasan yang Lahir di Reuni Xiamen
Selama 35 tahun, Ma Chung hanya hidup dalam ingatan dan dalam dada para alumninya. Lalu datanglah September 2001 — dan sebuah pertemuan di kota Xiamen, China, yang akan mengubah segalanya. Ide awal pendirian Universitas Ma Chung dicetuskan pada saat pelaksanaan Reuni Akbar peringatan hari ulang tahun ke-55 sekolah Ma Chung pada September 2001 di kota Xiamen, China, berlandaskan warisan semangat Ma Chung yang berintikan: rukun, bersatu, mengabdi kepada masyarakat, serta mewujudkan dedikasi kepada dunia pendidikan Indonesia.
Bayangkan momen itu: ratusan alumni yang sudah tersebar di seluruh dunia, berkumpul di Tiongkok, dan memutuskan bersama bahwa mereka tidak mau membiarkan spirit yang pernah membentuk mereka mati begitu saja. Bukan dengan nostalgia pasif, tapi dengan aksi nyata: mendirikan universitas.
2004–2007: Dari Impian ke Batu Pertama ke Kampus Nyata
Dengan dipegang teguhnya semboyan "Waktu minum air jangan lupa sumbernya, waktu sukses balaslah budi kepada kampung halamannya", serta komitmen alumni Ma Chung di seluruh dunia, maka pada 1 Mei 2004 didirikanlah PT. Ma Chung sebagai langkah awal berdirinya Universitas Ma Chung, dipelopori oleh Soegeng Hendarto, Mochtar Riady, Teguh Kinarto, Hendro Sunjoto, Koentjoro Loekito, Effendy Sudargo, Agus Chandra, Hadi Widjojo, Nuryati Tanuwidjaya, Nehemja, Alex Lesmana Samudra, Evelyn Adam, Hadi Surjono, Nagawidjaja Winoto, dan Soebroto Wirotomo — nama-nama yang sudah terkenal sebagai pebisnis berskala internasional.
Puncaknya, pada 17 Juli 2005 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan kampus Universitas Ma Chung bertepatan dengan Reuni Akbar 60 Tahun SMA Ma Chung. Universitas Ma Chung kemudian resmi beroperasi pada 7 Juli 2007 di bawah naungan Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera.
Tiga tahun dari batu pertama ke universitas yang beroperasi — kecepatan yang mencerminkan keseriusan para pendirinya. Ini bukan proyek sambilan para pebisnis sukses yang ingin nama mereka tercantum di plakat. Ini adalah proyek balas budi yang dieksekusi dengan profesionalisme penuh.
Kampus di Puncak Tidar: Lokasi yang Bukan Kebetulan
Universitas Ma Chung berdiri di Jl. Villa Puncak Tidar N-01, Kota Malang — di ketinggian yang secara harfiah menempatkannya di atas kota yang pernah menjadi rumah pertama komunitas Ma Chung. Dari kampus ini, pada hari-hari cerah, pemandangan Kota Malang terbuka luas. Ada sesuatu yang puitis dalam itu: institusi yang lahir dari rasa terima kasih kepada sebuah kota, kini berdiri di posisi yang memungkinkan ia memandang kota itu dengan keseluruhan pandangannya.
Pada 7 Juli 2014, Universitas Ma Chung mendapat investasi dari Taiwan di bidang teknologi informasi melalui pengembangan Malang Digital Core (MDC). Selain itu, Universitas Ma Chung telah menjalin kerja sama dengan 135 institusi dalam negeri dan 15 institusi luar negeri.
Warisan yang Hidup Bukan di Gedung, tapi di Nilai
Prof. Murpin menilai keberadaan Universitas Ma Chung menjadi bukti bahwa warisan semangat sekolah lama tersebut masih hidup. "Gedung sekolah lamanya mungkin sudah berganti fungsi, tetapi spirit Ma Chung tetap hidup dalam diri alumninya. Semangat itu yang terus diwariskan kepada generasi muda."
Universitas Ma Chung hari ini memiliki 35 ruang kuliah, 9 laboratorium, dan program studi dari D3 hingga pascasarjana, dengan 12 nilai inti yang diharapkan dihidupi setiap mahasiswanya: kreatif, dinamis, meritokratik, profesional, bertanggung jawab, sinergi, rendah hati, citizenship, original, terpercaya, dan gigih.
Dua belas nilai — tapi yang paling dalam, yang paling mencerminkan DNA Ma Chung dari 1946 hingga hari ini, mungkin hanya satu: bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa jauh kamu kembali untuk membangun tempat yang pernah membangunmu.
Kalau sebuah komunitas bisa mendirikan sekolah di tengah pendudukan, mempertahankannya selama dua dekade, kehilangannya secara tragis, lalu membangunnya kembali menjadi universitas 40 tahun kemudian — itu bukan sekadar kisah tentang pendidikan. Itu adalah kisah tentang ingatan kolektif yang menolak mati, dan komitmen bahwa warisan terbaik bukan yang disimpan di museum, tapi yang dihidupi kembali.
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Machung.ac.id, "Sejarah Universitas Ma Chung" (machung.ac.id/tentang-sejarah)
- BacaMalang.com, "Sejarah Universitas Ma Chung: Dari Sekolah Menengah, Gedung SMAN 5 hingga Kampus Tidar" (Juli 2025)
- Machung.ac.id, "Jejak Ma Chung, Sekolah Tionghoa Legendaris yang Pernah Bersinar di Kota Malang" (Mei 2026)
- STEKOM.ac.id, Ensiklopedia "Universitas Ma Chung"
