Nalarmerdeka.com – Ada sesuatu yang perlu dipahami sebelum membaca sejarah Universitas Nusa Cendana: kampus ini tidak lahir dari proyek pusat yang dirancang di Jakarta. Ia lahir dari rasa haus — rasa haus masyarakat Nusa Tenggara Timur yang terlalu lama tidak punya perguruan tinggi negeri milik sendiri, sementara wilayah-wilayah lain di Indonesia sudah punya sejak awal. Kehadiran universitas ini merupakan hasil dari perjuangan panjang masyarakat NTT yang memiliki cita-cita besar untuk menghadirkan pendidikan tinggi negeri di wilayah tersebut. Perjuangan itu bukan perkara mudah. Dan ketika akhirnya berhasil, hasilnya melampaui sekadar gedung dan kurikulum — ia adalah pernyataan bahwa NTT layak punya ruang untuk berpikir, belajar, dan menghasilkan pemimpinnya sendiri.
Dari Mimpi Komunitas ke Panitia Resmi
Universitas Nusa Cendana dibangun atas dasar cita-cita besar masyarakat NTT untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang lebih layak. Oleh karena itu, dibentuklah Panitia Inti Pendirian Universitas Negeri di Kupang, yang diketuai oleh Gubernur NTT yang menjabat, yaitu W. J. Lalamentik. Di sampingnya, dua sekretaris panitia — Kapten El Tari dan Drs. R. Karsono Kramadiredja — melengkapi kepemimpinan komite yang terdiri dari pejabat dan tokoh masyarakat NTT.
Nama El Tari bukan sekadar nama dalam dokumen sejarah. Ia kemudian menjadi Gubernur NTT yang paling legendaris, pemimpin yang namanya hingga hari ini diabadikan sebagai nama bandar udara internasional Kupang — El Tari International Airport. Bahwa ia terlibat sejak awal dalam pendirian universitas ini bukan kebetulan: ia adalah bagian dari generasi yang percaya bahwa masa depan NTT ditentukan oleh seberapa serius daerah ini menginvestasikan diri pada pendidikan.
28 Agustus 1962: Tanggal yang Mengubah Segalanya
Usulan tersebut akhirnya disetujui pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Nomor 111 Tahun 1962 tertanggal 28 Agustus 1962. Berdasarkan keputusan tersebut, ditetapkan berdirinya universitas negeri di Kupang yang mulai beroperasi pada 1 September 1962. Tanggal 1 September itu kemudian ditetapkan sekaligus sebagai Dies Natalis — hari ulang tahun yang dirayakan setiap tahun oleh seluruh civitas akademika Undana.
Peresmian universitas dilakukan pada 17 September 1962 di ruang DPRD Tingkat I NTT di Kupang. Bukan di gedung universitas yang megah — karena belum ada. Tapi di ruang dewan perwakilan rakyat, di hadapan para pejabat dan tokoh masyarakat yang menjadi saksi bahwa impian kolektif itu akhirnya resmi menjadi kenyataan.
Tiga Nama Diusulkan, Satu yang Dipilih Presiden
Panitia Persiapan Pendiri tidak langsung sepakat soal nama. Panitia Persiapan Pendiri mengajukan tiga nama yakni Nusa Cendana, Paraja, dan Liurai. Dari ketiga nama tersebut, ternyata yang disetujui adalah Nusa Cendana sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1963, tanggal 23 April 1963, dan sejak itu nama Universitas Negeri yang baru diresmikan itu adalah Universitas Negeri Nusa Cendana, disingkat Undana.
Mengapa Nusa Cendana? Pohon cendana adalah identitas NTT yang paling dikenal dunia — rempah yang membuat Nusa Tenggara masuk dalam peta perdagangan internasional sejak berabad-abad lampau. Memilih nama itu berarti menegaskan: universitas ini berakar dalam kekayaan dan identitas bumi NTT sendiri, bukan tumbuhan impor dari luar.
Empat Fakultas Pertama dan Tantangan yang Langsung Muncul
Universitas Nusa Cendana didirikan dengan 4 (empat) Fakultas. Fakultas-fakultas tersebut meliputi Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK, 1962), diikuti oleh Fakultas Peternakan (1964). Selain itu, Cabang IKIP Malang di Kupang kemudian diintegrasikan ke dalam Undana, membentuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP, 1964).
Tapi membangun di atas cita-cita tidak selalu semudah menandatangani SK. Karena beberapa alasan teknis antara lain karena kendala dosen dan laboratorium, maka Fakultas Peternakan dan Fakultas Pertanian belum dapat berfungsi, sementara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan selain dibuka di Kupang dengan jurusan Ilmu Hukum, Ekonomi, dan Ilmu Hayat, juga terdapat cabang di Ende.
Ini adalah gambaran yang sangat jujur tentang bagaimana membangun kampus di daerah yang kekurangan infrastruktur terasa berbeda dari sekadar mendirikan gedung di atas kertas. Dosen tidak tersedia cukup. Laboratorium belum ada. Tapi kampus tetap berjalan — karena kebutuhan itu nyata dan tidak bisa menunggu kondisi ideal yang mungkin tidak akan pernah datang dengan sendirinya.
1982-1983: Ekspansi yang Menunjukkan Kedewasaan
Dua dekade pertama Undana adalah tentang bertahan dan membangun fondasi. Memasuki era 1980-an, fondasi itu sudah cukup kuat untuk berkembang. Pada 1982, perluasan Universitas Nusa Cendana menghasilkan pendirian Fakultas Hukum (FH), dan pada tahun berikutnya, 1983, Fakultas Pertanian diresmikan.
Penambahan Fakultas Hukum punya makna yang lebih dalam dari sekadar membuka program baru. Di daerah yang selama masa kolonial tidak pernah punya tradisi pendidikan hukum untuk warganya sendiri, mendidik sarjana hukum lokal adalah langkah untuk memastikan bahwa NTT punya penjaga hak-hak hukumnya sendiri — tidak selamanya bergantung pada orang dari luar.
Dari BLU hingga Universitas Berwawasan Global
Pada tahun 2017, Undana mengalami perubahan besar dengan berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU), berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 166/MKM.05/2017. Status ini memberikan universitas otonomi lebih besar dalam pengelolaan keuangan dan membuka jalan menuju fase kedua roadmap Universitas Nusa Cendana 2010–2025, yaitu peningkatan otonomi dan mutu pendidikan tinggi.
Hingga saat ini, Undana memiliki sembilan fakultas dan satu program pascasarjana, dengan total 67 program studi yang mencakup tiga program doktor, 12 program magister, tiga program profesi, 48 program sarjana, dan satu program diploma. (Undana) Undana telah menghasilkan lebih dari 45 ribu alumni yang menyebar di berbagai kawasan di Indonesia, terutama di NTT sendiri, dan mengisi lowongan birokrasi, bahkan mendominasi berbagai eselon di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota di NTT.
Angka itu bukan sekadar statistik kelulusan. Ia adalah ukuran dari seberapa jauh mimpi 1962 telah terwujud: bahwa NTT punya kampus sendiri yang menghasilkan pemimpinnya sendiri — bukan menunggu kiriman dari luar.
Kalau Undana lahir dari cita-cita kolektif masyarakat yang menolak terus-menerus kekurangan akses pendidikan tinggi, pertanyaan yang relevan hari ini adalah: sudahkah kita — sebagai bangsa — serius memastikan bahwa kampus-kampus di Indonesia Timur punya sumber daya, dosen, dan infrastruktur yang setara dengan yang ada di Jawa? Karena cita-cita itu belum selesai hanya dengan nama dan SK pendirian.
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Pojok Satu, "Sejarah Universitas Nusa Cendana, Kampus Negeri di Kupang yang Lahir dari Cita-cita Besar Masyarakat NTT" (Maret 2026)
- Undana.ac.id, "Sejarah Undana"
- PPID Undana, "Sejarah Universitas" (ppid.undana.ac.id)
- Wikipedia, "Nusa Cendana University"
- Ruang Guru, "Universitas Nusa Cendana: Info Pendaftaran, Biaya, & Akreditasi"
