Nalarmerdeka.com - Ada satu kalimat yang ditulis Soe Hok Gie di buku hariannya yang sulit keluar dari kepala siapapun yang pernah membacanya: "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan." Ia tidak menulis itu sebagai kutipan motivasi untuk ditempel di dinding kamar. Ia menulisnya sebagai deskripsi pilihan hidup yang ia jalani setiap hari — di hadapan rezim yang tidak mau dikritik, di tengah teman-teman yang satu per satu memilih diam demi karier dan keamanan, dan di depan cermin yang selalu menanyakan apakah ia masih menjadi orang yang ia ingin menjadi.
Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhir di tanah tertinggi di Pulau Jawa karena diduga kuat menghirup gas beracun, pada usia 27 tahun kurang satu hari. Dua puluh tujuh tahun. Dalam waktu sesingkat itu, ia sudah mengkritik dua presiden, mendirikan organisasi pencinta alam pertama di Indonesia, menulis ratusan artikel dan esai, dan meninggalkan buku harian yang sampai hari ini masih diperdebatkan, dikutip, dan dibaca oleh generasi yang bahkan belum lahir ketika ia meninggal.
Lahir di Kebon Jeruk, Tumbuh di Antara Buku dan Ketidakadilan
Soe Hok Gie lahir pada 17 Desember 1942 di Kebon Jeruk, Jakarta. Gie merupakan anak keempat dari lima bersaudara dengan keluarga keturunan Tionghoa. Ayahnya bernama Soe Lie Piet, dikenal sebagai Salam Sutrawan, dan ibunya bernama Ni Hoei An seorang keturunan Tionghoa. Keluarganya termasuk ke dalam kelas sosial menengah yang tidak tergolong kaya, tetapi juga tidak dikatakan miskin. Umumnya, keturunan Tionghoa di Indonesia berprofesi sebagai pedagang, tetapi ayah Gie berprofesi sebagai wartawan dan penulis.
Detail tentang ayahnya penting: seorang wartawan dan penulis di keluarga Tionghoa Indonesia adalah pilihan yang tidak konvensional — dan itu membentuk rumah yang tidak konvensional. Sejak kecil, ia dikenal sangat rajin membaca buku karena kebiasaan ini dipengaruhi oleh ayahnya yang merupakan seorang penulis.
Gie tumbuh di Jakarta yang sedang dalam masa transisi paling dramatis — dari penjajahan Jepang yang baru berakhir, ke revolusi kemerdekaan, ke era Demokrasi Liberal, ke Demokrasi Terpimpin Soekarno yang semakin otoriter. Setiap babak itu membentuk kesadaran politiknya yang datang lebih awal dari teman-teman sebayanya. Ia melanjutkan pendidikannya ke SMA Kanisius, di sekolah tersebut ia sering membuat sajak-sajak tentang kondisi dan realita yang terjadi di Indonesia.
Sajak tentang kondisi Indonesia, dari seorang remaja SMA. Itu bukan hobi biasa. Itu adalah tanda bahwa seseorang sedang membangun kebiasaan berpikir keras tentang dunia di sekitarnya — kebiasaan yang tidak akan pernah ia tinggalkan.
Masuk UI, Keluar sebagai Intelektual yang Tidak Bisa Dikekang
Soe Hok Gie memilih ke Fakultas Sastra jurusan sejarah, sedangkan Hok Djin masuk ke Fakultas Psikologi. Pilihan jurusan Sejarah bukan kebetulan — itu adalah pilihan seseorang yang ingin memahami mengapa dunia menjadi seperti ini, dengan harapan bisa membayangkan bagaimana ia bisa menjadi berbeda.
Di kampus itulah Gie menjadi pribadi yang kemudian dikenal sejarah. Tapi ada satu detail tentang cara ia beraktivisme yang sangat khas dan sangat relevan untuk dipahami: ketika ia memasuki dunia perkuliahan, Gie, sebagai seorang idealis dan manusia merdeka, tidak mengikuti organisasi kampus manapun. Bahkan, ketika ia turun untuk berdemonstrasi, ia tidak tergabung dengan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Gie malah lebih tertarik untuk mendirikan organisasi Mapala UI, yang merupakan organisasi pencinta alam.
Ini adalah sesuatu yang tidak banyak orang pahami tentang Gie: ia tidak pernah mau menjadi bagian dari mesin organisasi manapun. Bukan karena ia tidak peduli — justru sebaliknya. Tapi karena ia terlalu sadar bahwa organisasi sering kali mengubah seseorang dari pemikir menjadi pion. Ia ingin tetap bebas — bebas untuk mengkritik siapapun, termasuk mereka yang katanya berjuang untuk hal yang sama dengannya.
Dua Rezim, Satu Kritik: Bukan soal Siapanya, tapi soal Keadilannya
Soe Hok Gie adalah seorang aktivis dan penulis yang berperan penting dalam sejarah Indonesia, khususnya pada masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Ia dikenal sebagai orang yang paling vokal mengkritik kinerja pemerintahan era Soekarno, yang menerapkan sistem Demokrasi Terpimpin yang dianggap sebagai kemunafikan dan kepicikan. Ia juga menjadi salah satu arsitek aksi long-march dan demonstrasi besar mahasiswa tahun 1966, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional.
Tapi di sinilah bagian dari kisah Gie yang paling sering disederhanakan secara tidak adil: ia tidak hanya mengkritik Soekarno. Ia juga bekerja sama dengan pihak militer dan tokoh-tokoh intelektual lainnya untuk menumbangkan Soekarno dan mendukung Soeharto. Namun, ia tetap kritis dan oposisional terhadap pemerintahan Soeharto, yang kemudian dikenal sebagai Orde Baru.
Gie mendukung pergantian kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto — dan sangat menyesalinya. Ketika Orde Baru menunjukkan wajah aslinya sebagai rezim yang sama otoriter bahkan lebih represifnya, Gie tidak diam. Ia tidak membenarkan dirinya karena "sudah terlanjur mendukung." Ia mengkritik keras rezim yang sebagian ia bantu tegakkan — sebuah kejujuran intelektual yang sangat langka.
Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengkritik tajam rezim Orde Baru. Dan satu dari tulisan-tulisan yang paling berani adalah ketika ia menulis artikel "Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Pulau Bali" yang diterbitkan oleh Mahasiswa Indonesia Jawa Barat — sebuah artikel yang berani menyebut pembantaian massal pasca-G30S sebagai apa yang sebenarnya terjadi, ketika hampir semua orang memilih bungkam atau berpura-pura tidak tahu.
Catatan Seorang Demonstran: Buku Harian yang Menjadi Warisan
Warisan terbesar Gie bukan pidato, bukan orasi di jalanan. Warisannya adalah tulisan — khususnya buku hariannya yang kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Buku itu adalah dokumen yang luar biasa jujur: seorang pemuda yang menulis tentang kegelisahannya terhadap negara, tentang rasa sepinya, tentang pertanyaan-pertanyaan tentang cinta dan persahabatan, tentang gunung-gunung yang ia daki sebagai pelarian dari hiruk-pikuk kota dan politik.
Dalam salah satu catatannya tertanggal Minggu, 24 Februari 1963, Gie menuliskan: "Sebagai manusia saya kira senang pada Bung Karno, tetapi sebagai pemimpin tidak."
Kalimat itu mencerminkan cara berpikir Gie yang sangat dewasa untuk usianya: memisahkan rasa hormat pada seseorang sebagai manusia dari evaluasi terhadap perannya sebagai pemimpin. Itu bukan kebencian — itu adalah standar yang tinggi yang ia terapkan secara konsisten kepada semua pemimpin, termasuk yang ia kagumi.
Gunung sebagai Ruang Berpikir
Ada dimensi Gie yang sering dilupakan di antara semua diskusi tentang aktivisme dan politiknya: ia adalah pendaki yang sangat serius. Soe Hok Gie diketahui merupakan salah satu tokoh pendiri Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya.
Bagi Gie, gunung bukan sekadar olahraga atau petualangan. Gunung adalah tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan sosial, tanpa masker, tanpa keharusan untuk menjadi apapun selain seseorang yang berjalan dan berpikir. Ada ironi yang sangat dalam dalam kenyataan bahwa tempat yang ia cintai sebagai ruang kebebasan itulah yang akhirnya merenggutnya.
Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhir di tanah tertinggi di Pulau Jawa karena diduga kuat menghirup gas beracun, pada usia 27 tahun kurang satu hari. Peristiwa kematiannya ini begitu menghebohkan banyak elemen masyarakat Indonesia pada masa itu, dari mulai para akademisi, wartawan, kaum aktivis mahasiswa, dan banyak pihak lainnya. Sampai-sampai ada sebagian masyarakat yang menduga Gie sebetulnya dibunuh oleh pihak pemerintah Orde Baru pada masa itu, karena dinilai terlalu keras mengkritik pemerintah.
Mengapa Gie Masih Relevan Hari Ini
Pemahaman Gie tentang sejarah, politik, ekonomi itu diuji di masa remaja ketika Indonesia berada dalam masa paling kritis, paling gelap, dan paling mencekam sepanjang sejarah republik ini didirikan. Pada saat itulah dia memenuhi panggilannya sebagai seorang intelektual muda dengan menulis kritik keras terhadap pemerintah dan membangun bibit-bibit kesadaran demokrasi.
Relevansi Gie bukan terletak pada spesifik isu-isu yang ia perjuangkan — PKI, Demokrasi Terpimpin, dan Orde Baru adalah konteks historis yang sudah berlalu. Relevansinya terletak pada cara ia berpikir dan standar yang ia terapkan pada dirinya sendiri dan pada kekuasaan.
Ia mengkritik tanpa menjadi bagian dari mesin yang dikritiknya. Ia mendukung pergantian kekuasaan lalu mengkritik hasil dari dukungannya sendiri ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Ia menulis dari tempat yang paling jujur yang ia punya — buku hariannya sendiri — bukan untuk audiens, tapi untuk kebutuhan untuk berkata jujur pada dirinya sendiri. Dan ia mempertahankan independensinya dari semua organisasi dan kepentingan kelompok, bahkan ketika itu berarti berjalan sendirian.
Dalam era ketika banyak suara kritis kemudian ternyata punya agenda tersembunyi, ketika banyak aktivisme digital berakhir sebagai karier influencer, dan ketika "berbicara kebenaran kepada kekuasaan" sering kali hanya berlaku selama tidak ada konsekuensi nyata — Gie adalah pengingat tentang seperti apa standar yang sebenarnya.
Gie meninggal sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 di lereng Semeru. Tidak ada yang tahu persis bagaimana perasaannya di momen terakhir itu. Tapi ia meninggalkan cukup banyak tulisan untuk memberitahu kita apa yang ia yakini sepanjang hidupnya yang singkat: bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari keamanan pribadi, bahwa kejujuran adalah pilihan yang tidak pernah menjadi mudah, dan bahwa generasi yang diam di hadapan ketidakadilan adalah generasi yang mengkhianati tanggung jawabnya kepada masa depan. Pertanyaannya untuk kita hari ini: apakah kita masih mau mendengar itu?
Penulis: Muhammad Jazuli
Referensi:
- Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran (1983, LP3ES)
- Zenius, "Soe Hok Gie: Pemuda Indonesia yang Merdeka" (Februari 2022)
- LPM Industria, "Soe Hok Gie: Sosok Aktivis dan Idealisme Mahasiswa Indonesia" (Agustus 2025)
- Biografiku.com, "Biografi Soe Hok Gie, Kisah Perjalanan Sang Aktivis Pemberontak" (Februari 2026)
- Historical Meaning, "Menyelami Kehidupan Soe Hok Gie, Intelektual Muda Indonesia" (Februari 2024)
- Merdeka.com, "Sejarah 17 Desember: Kelahiran Soe Hok Gie" (Desember 2023)
- John Maxwell, Soe Hok Gie: A Biography (2001, Ohio University Press)
