Scroll untuk melanjutkan membaca

Suka Menunda Pekerjaan? Ini Penjelasan Sains dan Psikologinya

Ilustrasi vektor bergaya editorial menampilkan seorang pemuda yang duduk di meja kerja sambil memegang ponsel dan tampak melamun
Ilustrasi editorial yang merepresentasikan kecenderungan menunda pekerjaan akibat tarik-menarik antara tuntutan tanggung jawab, godaan hiburan instan, serta cara kerja otak dalam mengelola motivasi dan pengambilan keputusan. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Prokrastinasi akademis diperkirakan memengaruhi 80-95 persen mahasiswa, dan sekitar 15-20 persen orang dewasa mengalaminya secara kronis hingga mengganggu berbagai sisi kehidupan. Namun penelitian psikologi terbaru menegaskan satu hal yang mengejutkan: menunda pekerjaan bukan soal malas atau tidak becus mengatur waktu, melainkan cara otak menghindari emosi tidak nyaman.

Latar Belakang: Prokrastinasi Bukan Sekadar Kebiasaan Buruk

Prokrastinasi didefinisikan sebagai kecenderungan menunda memulai atau menyelesaikan tugas yang sudah direncanakan, meski seseorang sadar penundaan itu akan berdampak negatif. Fenomena ini begitu universal sehingga hampir semua orang pernah mengalaminya, mulai dari menunda tugas kuliah hingga menunda kunjungan ke dokter.

Selama bertahun-tahun, prokrastinasi kerap dianggap sekadar persoalan manajemen waktu yang buruk. Namun psikolog Timothy Pychyl dari Carleton University, yang memimpin kelompok riset khusus soal penundaan, menegaskan bahwa keengganan mengerjakan sesuatu sangat bergantung pada situasi atau sifat pekerjaan itu sendiri, bukan semata soal kedisiplinan jadwal.

Fakta dan Data: Studi Sirois dan Pychyl

Titik balik pemahaman ilmiah soal prokrastinasi datang dari studi yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology pada 2013, dipimpin Dr. Fuschia Sirois dari University of Sheffield bersama Dr. Timothy Pychyl. Studi ini mengonfirmasi bahwa menunda pekerjaan adalah bentuk kegagalan meregulasi emosi, bukan sekadar ketidakmampuan mengatur waktu.

Sirois menyebut prokrastinasi sebagai sesuatu yang secara rasional tidak masuk akal, karena seseorang sengaja melakukan hal yang ia tahu akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Ironisnya, rasa lega yang muncul begitu pekerjaan ditunda justru bekerja layaknya imbalan bagi otak, sehingga memperkuat siklus penundaan itu di kemudian hari.

Analisis Kritis: Dopamin, Kecemasan, dan Jebakan Instan

Dari sudut pandang neurosains, mekanisme ini erat kaitannya dengan dopamin, zat kimia otak yang memberi rasa senang. Ketika seseorang beralih dari tugas berat ke aktivitas ringan seperti menonton video pendek, otak melepaskan dopamin secara instan, sementara imbalan dari menyelesaikan tugas besar baru terasa jauh di kemudian hari. Pertarungan antara kepuasan instan dan hasil tertunda inilah yang membuat otak cenderung memilih jalan pintas.

Faktor psikologis lain turut memperberat kecenderungan ini. Kecemasan berlebihan, ketakutan akan kegagalan, dan rendahnya rasa percaya diri membuat seseorang menghindari tugas sebagai mekanisme pelarian dari tekanan emosional. Pada individu dengan gangguan seperti ADHD, kesulitan fungsi eksekutif otak, termasuk memori kerja dan kontrol impuls, turut berkontribusi secara mekanis terhadap kebiasaan menunda.

Dampak dan Implikasi

Penelitian Sirois juga menemukan korelasi signifikan antara prokrastinasi kronis dengan berbagai indikator kesehatan yang lebih buruk, tidak hanya kesehatan mental tapi juga fisik. Orang yang terbiasa menunda cenderung menunda pula kunjungan ke dokter, olahraga rutin, dan berbagai perilaku pencegahan kesehatan lainnya, sehingga konsekuensinya menumpuk dalam jangka panjang.

Perspektif Alternatif: Tidak Semua Penundaan Itu Buruk

Penting dicatat, para peneliti membedakan prokrastinasi kronis dari penundaan yang disengaja dan strategis, yang kadang disebut sebagai active procrastination. Menunda sebuah keputusan besar untuk mengumpulkan lebih banyak informasi, misalnya, berbeda dengan menghindari tugas karena rasa cemas semata. Yang menjadi masalah bukan soal menunda itu sendiri, melainkan pola penundaan yang berulang dan merugikan diri sendiri secara sadar.

Menunda pekerjaan, ternyata, bukan cerminan karakter yang lemah, melainkan sinyal dari emosi yang sedang berusaha dihindari otak kita. Pertanyaannya kini bukan lagi "bagaimana cara menjadi lebih disiplin", melainkan: emosi apa yang sebenarnya sedang kita hindari setiap kali kita membuka aplikasi hiburan alih-alih mengerjakan tugas yang menunggu?

Penulis: Muhammad Jazuli

Referensi & Sumber:

  • Psike.id, "Prokrastinasi: Definisi, Jenis, Penyebab Psikologis dan Penanganan", diakses 16 Juli 2026.
  • Halodoc, "Kenali Prokrastinasi, Penyebab Sering Menunda Pekerjaan", mengutip studi Sirois & Pychyl, Journal of Personality and Social Psychology (2013), diakses 16 Juli 2026.
  • Psikologi UMSIDA, "Psikologi Dibalik Kebiasaan Menunda: Mengapa Kita Sering Prokrastinasi?", diakses 16 Juli 2026.

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Suka Menunda Pekerjaan? Ini Penjelasan Sains dan Psikologinya
  • Suka Menunda Pekerjaan? Ini Penjelasan Sains dan Psikologinya
  • Suka Menunda Pekerjaan? Ini Penjelasan Sains dan Psikologinya
  • Suka Menunda Pekerjaan? Ini Penjelasan Sains dan Psikologinya
  • Suka Menunda Pekerjaan? Ini Penjelasan Sains dan Psikologinya
  • Suka Menunda Pekerjaan? Ini Penjelasan Sains dan Psikologinya
Posting Komentar