Scroll untuk melanjutkan membaca

Tips Tidak Boros Saat Diskon Online ala Filsuf Stoik yang Berasal dari Filsafat 2.000 Tahun Lalu

Ilustrasi filsafat Stoik dan belanja online.
Ilustrasi editorial yang menggambarkan relevansi ajaran filsafat Stoik dalam mengendalikan keinginan konsumtif, terutama saat menghadapi godaan diskon dan belanja online. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Setiap tanggal kembar datang — 9.9, 10.10, 11.11, 12.12 — skenario yang sama berulang: kamu membuka aplikasi untuk membeli satu barang yang memang sudah kamu butuhkan, lalu dua jam kemudian keranjang belanjamu sudah berisi tujuh barang yang tidak satupun ada dalam rencanamu. Total belanjaan jauh melampaui anggaran. Dan kamu menekan tombol "bayar" dengan campuran euforia dan penyesalan yang datang hampir bersamaan. Sehari kemudian, ketika paket belum datang tapi dopamin sudah habis, kamu bertanya pada diri sendiri: kenapa aku melakukan ini lagi? Jawabannya tidak akan kamu temukan di artikel tentang "tips menabung" atau "cara atur keuangan".

Jawabannya sudah ada sejak 2.000 tahun yang lalu — ditulis oleh seorang kaisar Romawi, seorang budak, dan seorang negarawan yang tidak pernah melihat smartphone, apalagi flash sale. Tapi mereka menghadapi sesuatu yang jauh lebih menggoda: kekuasaan, kekayaan, dan kemewahan tanpa batas. Dan mereka memilih untuk tidak terjebak.

Kenapa Kita Selalu Kalap — Bukan Soal Lemah Iman

Sebelum masuk ke filsafat, ada satu hal yang perlu diluruskan: kalau kamu sering kalap belanja saat diskon, itu bukan tanda bahwa kamu lemah, tidak disiplin, atau tidak bisa mengatur diri. Itu tanda bahwa kamu manusia normal yang sedang menghadapi sistem yang dirancang oleh tim ahli untuk membuatmu tidak bisa berhenti.

Platform e-commerce menggunakan countdown timer yang menciptakan urgensi palsu, harga coret yang membuat diskon tampak lebih besar dari kenyataannya, notifikasi yang dipersonalisasi berdasarkan histori browsing-mu, sistem poin dan voucher yang menciptakan perasaan "rugi kalau tidak dipakai", dan antarmuka yang dirancang agar proses checkout semudah dan secepat mungkin — sebelum Sistem 2 otakmu yang rasional sempat berpikir.

Banyak orang cenderung lebih fokus pada aspek-aspek yang berada di luar jangkauan atau kendali mereka. Padahal, kunci untuk mencapai kebahagiaan, kekuatan diri, dan kebijaksanaan sebenarnya terletak pada kemampuan kita untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang berada di dalam kendali kita. Itulah inti dari Stoikisme — dan itulah mengapa ia sangat relevan di era Harbolnas.

Tiga Orang yang Tidak Akan Pernah Kalap Belanja

Filosofi Stoikisme pertama kali diajarkan oleh Zeno of Citium, yang menemukan ajarannya setelah mengalami musibah besar ketika kehilangan semua kekayaannya akibat kapalnya tenggelam. Ajaran ini kemudian dilanjutkan oleh Epictetus, seorang budak yang menjalani sebagian besar hidupnya dalam penjara; Seneca, seorang politikus Romawi yang bertahan melalui kebangkrutan dan pengasingan; dan Marcus Aurelius, seorang kaisar Roma yang memimpin banyak peperangan serta menghadapi kematian anak-anaknya selama 19 tahun kepemimpinannya.

Perhatikan kontras yang sangat tajam ini: Zeno kehilangan semua kekayaannya lalu membangun sistem filsafat. Epiktetos adalah budak — ia tidak punya apa-apa dan dari kondisi itu ia menulis tentang kebebasan sejati. Seneca adalah salah satu orang terkaya di Roma — dan ia memilih untuk tidak membiarkan kekayaannya mengendalikan hidupnya. Marcus Aurelius adalah kaisar dengan akses tak terbatas ke kemewahan seluruh kekaisaran terbesar di dunia — dan ia tidur di alas yang sederhana dan makan secara bersahaja.

Ketiganya menghadapi godaan yang jauh lebih besar dari flash sale Tokopedia. Dan ketiganya menemukan cara untuk tidak terjebak — bukan dengan menekan keinginan secara brutal, tapi dengan memahami secara mendalam apa yang sebenarnya mereka inginkan dan dari mana keinginan itu berasal.

Prinsip Pertama: Dikotomi Kendali Epiktetos

Epiktetos mengajarkan satu prinsip yang terdengar sederhana tapi implikasinya sangat dalam: ada hal-hal yang dalam kendali kita (eph' hēmin) dan ada hal-hal yang tidak dalam kendali kita (ouk eph' hēmin). Tugasmu adalah fokus pada yang pertama dan melepas yang kedua.

Epictetus menekankan perbedaan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan yang tidak, mendorong kita untuk fokus pada tindakan kita sendiri.

Sekarang terapkan ini ke skenario Harbolnas. Yang tidak dalam kendalimu: harga yang platform tentukan, barang apa yang masuk flash sale, notifikasi yang terus berdatangan, produk yang teman-temanmu beli dan posting di medsos. Kamu tidak bisa mengontrol semua itu. Yang dalam kendalimu: apakah kamu membuka aplikasi, apakah kamu menambahkan barang ke keranjang, apakah kamu menekan tombol bayar, dan yang paling penting — apakah kamu sudah mendefinisikan sebelumnya apa yang benar-benar kamu butuhkan.

Kalau kamu masuk ke platform diskon tanpa mendefinisikan terlebih dahulu apa yang kamu cari, kamu sedang menyerahkan kendali kepada platform. Algoritma akan memutuskan apa yang "kamu butuhkan" — dan algoritma tidak dirancang untuk membuat hidupmu lebih baik, ia dirancang untuk memaksimalkan nilai transaksimu.

Epictetus pernah berkata: "Kekayaan tidak terdiri dari memiliki banyak harta, tetapi memiliki sedikit keinginan." Kalimat itu bukan ajakan untuk hidup miskin. Ia adalah redefinisi tentang apa artinya "kaya" — dan dalam konteks Harbolnas, ia adalah pertanyaan yang sangat tepat: apakah kamu belanja untuk memenuhi kebutuhan nyata, atau untuk memenuhi keinginan yang diciptakan oleh platform?

Prinsip Kedua: Negative Visualization Seneca

Seneca mengajarkan sebuah teknik meditasi yang namanya terdengar aneh tapi hasilnya sangat kuat: negative visualization, atau dalam bahasa Latin praemeditatio malorum — membayangkan hal-hal buruk sebelum mereka terjadi.

Negative visualization adalah metode meditasi dengan membayangkan skenario terburuk. Teknik ini dipopulerkan melalui tulisan Seneca dan dianggap sebagai salah satu latihan spiritual Stoik yang paling umum. Tidak seperti visualisasi positif yang mendorong respons psikologis positif, negative visualization melatih praktisinya terhadap hasil negatif dari skenario kehidupan nyata untuk menciptakan ketahanan psikologis dan rasa syukur terhadap apa yang sudah dimiliki.

Bagaimana menerapkan ini saat Harbolnas? Sebelum membuka aplikasi, duduk sejenak dan bayangkan: bagaimana hidupmu dalam tiga bulan ke depan kalau kamu tidak membeli barang yang sedang kamu lirik itu? Apakah hidupmu benar-benar akan lebih buruk? Apakah ada kekosongan nyata yang tidak terisi? Atau sebenarnya hidup berjalan biasa saja — dan kebutuhan yang kamu rasakan itu akan menghilang dalam beberapa hari?

Seneca juga pernah bereksperimen dengan cara yang lebih radikal: ia sengaja menjalani beberapa hari hidup seperti orang miskin — makan makanan sederhana, tidur di tempat yang tidak nyaman, memakai pakaian yang sederhana — bukan sebagai hukuman, tapi sebagai latihan untuk menemukan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada kemewahan yang selama ini ia nikmati. Hasilnya mengejutkan: ia menemukan bahwa ia baik-baik saja. Dan penemuan itu membebaskannya dari ketakutan kehilangan yang sering mendorong orang untuk terus membeli.

Kamu tidak perlu hidup seperti orang miskin selama seminggu. Tapi kamu bisa bertanya pada dirimu: kalau barang ini tidak ada dalam hidupku, apakah aku benar-benar akan menderita? Kalau jawabannya tidak, itu adalah informasi yang sangat berharga.

Prinsip Ketiga: Memento Mori Marcus Aurelius

Marcus Aurelius, dalam Meditations yang ia tulis sebagai catatan harian pribadi yang tidak pernah dimaksudkan untuk diterbitkan, berulang kali mengingatkan dirinya sendiri tentang memento mori — ingatlah bahwa kamu akan mati. Bukan sebagai pesimisme, tapi sebagai alat untuk memperjelas prioritas.

Ketika kamu mengingat bahwa hidupmu terbatas, pertanyaan tentang apa yang benar-benar penting menjadi jauh lebih tajam. Marcus Aurelius menulis Meditations, di mana ia merefleksikan ajaran stoikisme dalam konteks kepemimpinan dan tanggung jawab pribadi.

Terapkan ini ke konteks belanja: dalam skala seluruh hidupmu, seberapa penting barang yang sedang kamu pertimbangkan itu? Apakah sepuluh tahun dari sekarang kamu akan mengenang momen ini sebagai sesuatu yang berarti — atau kamu bahkan tidak akan ingat pernah membelinya? Dan lebih jauh: apakah uang yang akan kamu habiskan ini lebih baik digunakan untuk sesuatu yang benar-benar akan membentuk hidupmu ke depan?

Marcus Aurelius tidak menggunakan memento mori untuk menjadi nihilis yang tidak mau melakukan apa pun karena toh semuanya tidak ada artinya. Ia menggunakannya untuk memastikan bahwa energi, waktu, dan sumber dayanya dihabiskan untuk hal yang benar-benar bermakna — bukan untuk hal yang tampak mendesak dalam sesaat tapi tidak meninggalkan bekas yang nyata.

Prinsip Keempat: Membedakan Kebutuhan dan Keinginan yang Diciptakan

Stoikisme mengajarkan kita untuk mengubah apa yang bisa kita ubah — dimensi internal — dan menerima keadaan yang tidak bisa kita ubah — dimensi eksternal. (Ugm)

Salah satu aplikasi paling praktis dari Stoikisme adalah latihan membedakan antara kebutuhan yang nyata (necessitas) dan keinginan yang diciptakan (cupiditas). Para Stoik sangat sadar bahwa tidak semua keinginan adalah keinginan yang kita pilih sendiri — banyak di antaranya ditanamkan oleh lingkungan sosial, oleh iklan, oleh tekanan untuk tampil sesuai standar tertentu.

Di era e-commerce, keinginan yang diciptakan bekerja dengan cara yang sangat canggih. Platform mempelajari pola browsingmu, mengetahui apa yang kamu lihat tapi tidak kamu beli, lalu mengirimi notifikasi pada momen ketika kamu paling rentan — malam hari, waktu istirahat, saat sedang bosan. Mereka menciptakan keinginan yang tidak kamu miliki sebelumnya, lalu menjual kepada kamu sebuah solusi untuk keinginan yang baru saja mereka ciptakan.

Latihan Stoik untuk ini: sebelum membeli, tunda setidaknya 24–48 jam. Tutup aplikasinya. Pergi tidur. Lakukan hal lain. Kalau setelah 48 jam kamu masih memikirkan barang itu dan merasa benar-benar membutuhkannya, mungkin itu memang kebutuhan yang nyata. Kalau dalam 48 jam kamu sudah lupa — dan ini yang paling sering terjadi — maka yang baru saja kamu hindari adalah keinginan yang diciptakan platform, bukan kebutuhan yang datang dari dalam dirimu.

Amor Fati: Menerima Apa yang Sudah Kita Miliki

Ada satu konsep Stoik yang jarang disebutkan dalam konteks keuangan tapi sangat relevan: amor fati — cintai takdirmu, terima apa adanya hidupmu saat ini. Bukan dalam arti pasrah dan tidak mau berkembang, tapi dalam arti tidak membiarkan ketidakpuasan terhadap kondisi sekarang menjadi mesin yang terus-menerus mendorongmu untuk membeli lebih banyak sebagai cara mengisi kekosongan.

Stoikisme membantu kita untuk dapat mengontrol emosi negatif dan segala hal yang berada pada kendali kita serta mensyukuri apa yang kita miliki saat ini.

Banyak pembelian impulsif pada dasarnya adalah pelarian dari sesuatu yang tidak nyaman: kebosanan, kecemasan, perasaan tidak cukup, perbandingan dengan orang lain yang tampak lebih sukses di medsos. Platform diskon sangat efektif dalam mengkapitalisasi perasaan-perasaan ini — mereka menawarkan kepuasan instan yang terasa seperti solusi untuk kekosongan yang sesungguhnya tidak bisa diisi dengan barang.

Amor fati mengajarkan: sebelum membeli sesuatu untuk "memperbaiki" hidupmu, tanya dulu apakah ada yang memang perlu diperbaiki — atau apakah hidupmu sekarang sebenarnya sudah cukup, dan kamu hanya belum bisa melihatnya karena terlalu sibuk membandingkan dengan orang lain atau terlalu sering terpapar iklan yang terus-menerus mengatakan "kamu kurang ini, kamu kurang itu."

Empat Pertanyaan Stoik Sebelum Menekan "Bayar"

Bukan sebagai aturan kaku yang mengharamkan belanja — tapi sebagai filter yang membantu kamu membeli dengan lebih sadar:

Satu — Apakah ini dalam kendali yang benar? Kamu membelinya karena kamu memang membutuhkannya, atau karena platform berhasil menciptakan urgensi yang terasa nyata tapi sebenarnya tidak ada?

Dua — Apakah hidupku dalam 3 bulan ke depan benar-benar lebih baik dengan barang ini? Bukan lebih baik dalam 3 detik setelah menekan bayar, tapi dalam 3 bulan ketika euforia sudah hilang dan barang sudah ada di rumah.

Tiga — Kalau barang ini tidak ada, apakah aku benar-benar menderita? Ini adalah negative visualization versi cepat. Bayangkan hidupmu tanpa barang ini. Apakah ada yang rusak?

Empat — Apakah uang ini lebih baik digunakan untuk sesuatu yang benar-benar mengubah hidupku? Bukan harus ditabung semua — tapi apakah ada penggunaan lain yang lebih selaras dengan nilai-nilai yang benar-benar penting bagimu?

Para filsuf Stoik tidak anti-kekayaan dan tidak anti-kenyamanan. Seneca sendiri adalah salah satu orang terkaya di Roma. Marcus Aurelius hidup di istana. Tapi keduanya tidak membiarkan kekayaan dan kenyamanan itu mengendalikan mereka — mereka yang mengendalikan sikapnya terhadap kekayaan dan kenyamanan. Itulah perbedaannya. Dan perbedaan itu terdengar filosofis tapi aplikasinya sangat konkret: bukan soal berapa banyak yang kamu beli, tapi soal apakah kamu yang memilih untuk membeli — atau platform yang memilihkan untukmu.

Zeno pernah berkata: "Manusia menaklukan dunia dengan menaklukkan dirinya sendiri." Di era di mana dunia ada di genggaman dan godaan hadir 24 jam, mungkin itulah satu-satunya penaklukan yang benar-benar penting.

Penulis: Muhammad Jazuli

Referensi:

  • Marcus Aurelius, Meditations (terjemahan Gregory Hays, 2002, Modern Library)
  • Seneca, Letters from a Stoic / Epistulae Morales ad Lucilium
  • Epictetus, Encheiridion
  • Henry Manampiring, Filosofi Teras (2019, Kompas Media)
  • The Conversation, "Apa itu Stoikisme? Mengenal aliran filsafat pengendali diri dan pencegah depresi" (Januari 2025)
  • Kanal Psikologi UGM, "Resep Hidup Tenang ala Filosofi Stoikisme"
  • Telkom University, "Stoikisme: Memahami Filsafat untuk Hidup yang Lebih Baik" (Maret 2025)
  • Wikipedia, "Negative Visualization"
  • Merdeka.com, "37 Kata-Kata Filosofi Stoikisme untuk Kehidupan Sehari-hari"

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Tips Tidak Boros Saat Diskon Online ala Filsuf Stoik yang Berasal dari Filsafat 2.000 Tahun Lalu
  • Tips Tidak Boros Saat Diskon Online ala Filsuf Stoik yang Berasal dari Filsafat 2.000 Tahun Lalu
  • Tips Tidak Boros Saat Diskon Online ala Filsuf Stoik yang Berasal dari Filsafat 2.000 Tahun Lalu
  • Tips Tidak Boros Saat Diskon Online ala Filsuf Stoik yang Berasal dari Filsafat 2.000 Tahun Lalu
  • Tips Tidak Boros Saat Diskon Online ala Filsuf Stoik yang Berasal dari Filsafat 2.000 Tahun Lalu
  • Tips Tidak Boros Saat Diskon Online ala Filsuf Stoik yang Berasal dari Filsafat 2.000 Tahun Lalu
Posting Komentar