81 Tahun Indonesia Merdeka: Negeri Merdeka, Rakyat Belum Sepenuhnya Berdaulat

Muhammad Syuhada', Presiden Mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang
Muhammad Syuhada', Presiden Mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang.

Nalarmerdeka.com – Setiap 17 Agustus, kita disuguhi upacara, kibaran bendera, dan riuhnya perlombaan. Kata "Merdeka!" diteriakkan lantang di mana-mana. Tapi di balik gegap gempita itu, ada satu pertanyaan yang seharusnya berani kita ajukan: benarkah rakyat Indonesia sudah benar-benar merdeka?

Merdeka Secara Sejarah, Tapi Belum Tentu Secara Nyata

Secara historis, kemerdekaan Indonesia memang tak terbantahkan. Proklamasi 17 Agustus 1945 jadi tonggak lahirnya bangsa yang berdaulat. Tapi kemerdekaan semestinya tidak berhenti hanya pada bebasnya sebuah negara dari penjajah asing. Kemerdekaan sejati berarti terbebas dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, pengangguran, kesenjangan, penindasan, dan segala kebijakan yang justru menjauhkan rakyat dari kehidupan layak. Setelah 81 tahun berlalu, kita perlu jujur bertanya, apa yang sebenarnya sudah dirasakan rakyat dari kemerdekaan itu.

Angka yang Menyimpan Wajah Manusia

Di Kabupaten Malang saja, masih ada puluhan ribu anak yang tidak bersekolah. Angka pengangguran pun masih jadi persoalan serius. Data-data ini bukan sekadar deretan angka dalam laporan statistik. Di baliknya ada manusia nyata, anak yang kehilangan kesempatan belajar, orang tua yang tak mampu membiayai pendidikan anaknya, pemuda yang berulang kali ditolak saat melamar kerja, dan keluarga yang tiap hari harus memikirkan cara memenuhi kebutuhan makan esok hari. Pantaskah kondisi semacam ini disebut sebagai kemerdekaan?

Ironi di Garis Depan Pendidikan

Lebih memilukan lagi, mereka yang berdiri di garis depan dunia pendidikan justru kerap jauh dari kata sejahtera. Guru dituntut mendidik, mencerdaskan, membentuk karakter, sekaligus mempersiapkan generasi penerus bangsa. Namun tak sedikit guru honorer yang masih berjuang dengan penghasilan yang jauh dari sepadan dengan tanggung jawabnya. Kita sering mengulang jargon "mencerdaskan kehidupan bangsa", tapi bagaimana bangsa ini bisa benar-benar cerdas jika para pendidiknya sendiri belum menjalani kehidupan yang layak?

Mempertanyakan Arah Kebijakan Negara

Ketika rakyat terus dihadapkan pada persoalan harga kebutuhan pokok, biaya hidup, lapangan kerja, dan kesejahteraan, negara semestinya berani menjelaskan secara terbuka apa yang benar-benar jadi prioritasnya, dan siapa yang paling diuntungkan dari setiap kebijakan yang dibuat. Program pemerintah boleh saja punya niat baik. Tapi setiap program layak diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah manfaatnya benar-benar sampai ke rakyat, atau justru jadi proyek besar yang menghabiskan anggaran tanpa menyentuh akar persoalan. Jangan sampai atas nama pembangunan, rakyat justru makin sulit bernapas. Jangan sampai atas nama kesejahteraan, rakyat justru makin terbebani.

Kemerdekaan Bukan Sekadar Ganti Penguasa

Kemerdekaan tidak boleh berhenti jadi slogan yang diulang setiap 17 Agustus, sementara dalam kehidupan nyata rakyat masih terbelenggu kemiskinan, ketidakadilan, pengangguran, mahalnya kebutuhan hidup, dan akses pendidikan yang timpang. Kemerdekaan bukan sekadar mengganti penjajah dengan penguasa baru. Kemerdekaan adalah ketika rakyat punya kesempatan setara untuk hidup layak, memperoleh pendidikan, mendapat pekerjaan, menyampaikan pendapat, dan turut menikmati hasil kekayaan negaranya sendiri.

Pertanyaan yang Harus Terus Kita Ajukan

Di usia 81 tahun Republik Indonesia, kita tidak cukup hanya bertanya sudah berapa lama bangsa ini merdeka. Kita perlu bertanya lebih dalam, merdeka dari apa, merdeka untuk siapa, dan kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh siapa. Jangan jadikan kemeriahan 17 Agustus sebagai tabir yang menutupi kenyataan bahwa masih banyak rakyat hidup dalam kesulitan. Jangan paksa rakyat tersenyum hanya karena bendera merah putih berkibar, sementara perut mereka lapar, anak-anak mereka putus sekolah, dan masa depan mereka masih tanpa kepastian.

Memperingati Berarti Berani Mengoreksi

Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan. Tapi perjuangan memerdekakan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan kesenjangan masih jauh dari selesai. Maka memperingati kemerdekaan bukan berarti sekadar merayakannya. Memperingati kemerdekaan berarti berani mengoreksi negara, berani mengkritik penguasa, berani menyuarakan penderitaan rakyat, dan berani menuntut agar kemerdekaan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan benar-benar hadir dalam kehidupan setiap warga negara. Sebab ukuran kemerdekaan sebuah bangsa bukanlah seberapa megah upacaranya, seberapa banyak benderanya, atau seberapa keras pejabat meneriakkan kata merdeka. Ukurannya adalah seberapa jauh rakyatnya benar-benar terbebas dari rasa takut, kelaparan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Jika semua persoalan itu masih jadi kenyataan bagi sebagian besar rakyat, beranikah kita mengakui bahwa 81 tahun Indonesia merdeka, perjuangan menghadirkan kemerdekaan yang sesungguhnya bagi rakyat masih belum selesai?

Penulis: Muhammad Syuhada', Presiden BEM Universitas Al-Qolam

Redaktur: Muhammad Jazuli 

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • 81 Tahun Indonesia Merdeka: Negeri Merdeka, Rakyat Belum Sepenuhnya Berdaulat
  • 81 Tahun Indonesia Merdeka: Negeri Merdeka, Rakyat Belum Sepenuhnya Berdaulat
  • 81 Tahun Indonesia Merdeka: Negeri Merdeka, Rakyat Belum Sepenuhnya Berdaulat
  • 81 Tahun Indonesia Merdeka: Negeri Merdeka, Rakyat Belum Sepenuhnya Berdaulat
  • 81 Tahun Indonesia Merdeka: Negeri Merdeka, Rakyat Belum Sepenuhnya Berdaulat
  • 81 Tahun Indonesia Merdeka: Negeri Merdeka, Rakyat Belum Sepenuhnya Berdaulat
Posting Komentar