![]() |
| Ilustrasi tentang gejolak sosial dan politik yang membara dari ruang publik hingga pusat kekuasaan. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Angka itu setara luas hampir dua kali Kota Jakarta, ludes terbakar dalam hitungan minggu. Lebih dari 107 ribu hektare hutan dan lahan di Indonesia terbakar hingga awal Agustus 2026, membentang dari Sumatra sampai Papua. Di saat bersamaan, gunung-gunung wisata favorit ikut dilalap api, dan di ibu kota, kebakaran gedung merenggut nyawa seorang petugas pemadam. Kita seolah kembali mengulang pola yang sama setiap musim kemarau tiba.
Data yang Membentang dari Sumatra hingga Papua
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, mengonfirmasi total luas karhutla nasional telah menembus 107 ribu hektare per 10 Agustus 2026. Sementara itu, catatan BNPB untuk enam provinsi prioritas saja sudah mencapai hampir 48.900 hektare hingga 9 Agustus. Pemerintah merespons dengan mengerahkan sekitar 43 helikopter untuk operasi udara, ditambah 10 hingga 15 pesawat fixed-wing yang siaga sesuai kebutuhan, dan kekuatan satuan tugas darat dalam jumlah besar. Operasi modifikasi cuaca jadi andalan utama, dengan harapan awan hujan yang diperkirakan muncul menjelang 17 Agustus bisa membantu meredam api secara alami.
Titik-Titik Kebakaran yang Tersebar Tanpa Henti
Sepanjang awal hingga pertengahan Agustus, laporan karhutla datang silih berganti dari berbagai daerah. Di Bangka Belitung, lahan seluas tiga hektare terbakar di Desa Air Kelik, Belitung Timur, pada 2 Agustus. Di Jawa Tengah, Kabupaten Banyumas mencatat dua hektare lahan hangus pada 7 Agustus, dipicu aktivitas pembakaran lahan yang menjalar cepat. Provinsi ini bahkan sudah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla sejak 1 Juni, berlaku hingga akhir Desember 2026. Menyusul kemudian kebakaran di Klaten, Magetan, Jombang, hingga Seram Bagian Timur pada periode 8 sampai 10 Agustus. Sebagian besar dipicu penyebab yang hampir selalu sama: pembakaran serasah, sisa sampah, atau lahan yang tidak diawasi dengan baik.
Gunung-Gunung Favorit Ikut Terbakar
Yang membuat gelombang kebakaran kali ini terasa lebih dekat dengan publik adalah dampaknya pada destinasi wisata populer. Kebakaran di kawasan Gunung Bromo sudah berlangsung sejak 3 Agustus, menghanguskan sekitar 800 hektare lahan yang meliputi wilayah Lumajang dan Probolinggo, diduga akibat ulah manusia di jalur pendakian tradisional. Di Gunung Gede, Jawa Barat, api muncul sejak 6 Agustus di Alun-alun Suryakencana, melahap sekitar satu hektare, sebelum meluas ke kawasan Kawah Wadon hingga total 5,8 hektare. Pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terpaksa menutup seluruh jalur pendakian sejak 7 Agustus, dan perpanjangan penutupan berlaku hingga 18 Agustus. Gunung Andong turut masuk daftar kawasan yang terdampak kebakaran serupa sepanjang bulan ini.
Kebakaran Kota yang Merenggut Nyawa
Di tengah krisis karhutla, Jakarta menghadapi rentetan kebakaran gedungnya sendiri. Setidaknya tiga insiden besar tercatat pada awal Agustus: bangunan lima lantai di kawasan Pasar Baru pada 4 Agustus, ruko di Jalan Cikini Raya pada 5 Agustus yang melibatkan 14 unit mobil pemadam dan 70 personel, serta kebakaran tempat pembuangan sampah liar di Kramat Jati. Insiden di Kramat Jati menjadi yang paling memilukan, karena merenggut nyawa seorang petugas pemadam kebakaran yang gugur saat menjalankan tugas. Kebakaran kota dan kebakaran lahan memang punya penyebab berbeda, tapi keduanya menegaskan hal yang sama: sistem mitigasi kita masih sering kalah cepat dibanding laju api.
Pola Berulang yang Sulit Diputus
Jika ditelusuri, penyebab sebagian besar kejadian karhutla tahun ini nyaris seragam: pembakaran lahan yang lepas kendali, sampah yang dibakar sembarangan, atau puntung rokok di area kering saat musim kemarau. Pola ini bukan hal baru. Setiap tahun, ketika musim kemarau tiba, cerita serupa berulang, vegetasi kering, angin kencang, dan kelalaian manusia menjadi kombinasi yang nyaris pasti memicu kebakaran besar. Yang berbeda hanyalah skala dan lokasinya. Ketergantungan pada operasi udara dan modifikasi cuaca menunjukkan bahwa penanganan kita masih bersifat reaktif, dilakukan setelah api membesar, bukan pencegahan sejak titik api pertama muncul.
Kenapa Kesadaran Selalu Datang Belakangan
Status siaga darurat, seperti yang ditetapkan Jawa Tengah sejak Juni, sebenarnya sudah jadi bentuk antisipasi. Tapi status semacam ini sering kali hanya berhenti sebagai dokumen administratif, tanpa diikuti pengawasan ketat di lapangan terhadap aktivitas pembakaran lahan oleh warga. Ribuan hektare yang terbakar setiap tahun seharusnya cukup jadi alasan untuk mengubah pendekatan, dari sekadar memadamkan api yang sudah membesar, menjadi mencegah titik api itu muncul sejak awal. Investasi pada edukasi warga soal bahaya membakar lahan dan sampah sembarangan, ditambah pengawasan lapangan yang konsisten sepanjang musim kemarau, jauh lebih murah dibanding biaya mengerahkan puluhan helikopter setiap tahun.
Kalau pola kebakaran ini terus berulang setiap musim kemarau dengan penyebab yang nyaris sama, sampai kapan kita akan terus memadamkan api tanpa benar-benar mencegah nyalanya?
Penulis: Muhammad Jazuli
