Rp700 Ribu per Kg Kupas Bawang, Blunder atau Sekadar Salah Ucap?

 

Ilustrasi Prabowo dan buruh pengupas bawang dengan kutipan soal upah Rp700 ribu per kilogram.
Ilustrasi ini menggambarkan pernyataan Prabowo soal upah buruh harian pengupas bawang sebesar Rp700 ribu per kilogram, yang kemudian menjadi sorotan publik. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Satu angka bisa membuat jutaan warganet mendadak jadi ahli matematika. Dalam pidato kenegaraan di Gedung Nusantara, Presiden Prabowo Subianto menyebut seorang buruh harian di Bogor digaji Rp700 ribu setiap mengupas satu kilogram bawang. Kalau benar, penghasilannya bisa mengalahkan gaji direktur. Publik pun ramai-ramai menghitung ulang, dan hasilnya bikin geleng-geleng kepala.

Momentum Pidato dan Sosok yang Diperkenalkan

Pernyataan ini muncul saat Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat, 14 Agustus 2026, menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Dalam pidato itu, Prabowo memperkenalkan delapan tamu istimewa yang mewakili penerima manfaat program pemerintah, mulai dari siswa Sekolah Rakyat hingga penerima Makan Bergizi Gratis. Salah satunya Susanah, warga Kabupaten Bogor, penerima Program Keluarga Harapan dan Program Sembako. Prabowo menyebutnya bekerja sebagai buruh harian yang mengupas bawang dengan upah sekitar Rp700 ribu per kilogram, dan menyebut bantuan sosial itu membantu menjaga pendidikan anak-anaknya.

Angka yang Bikin Publik Terperangah

Begitu potongan videonya menyebar, warganet langsung menghitung konsekuensi logis dari angka tersebut. Jika seorang buruh sanggup mengupas sepuluh kilogram bawang sehari, penghasilannya bisa mencapai tujuh juta rupiah per hari, atau sekitar 210 juta rupiah sebulan. Angka fantastis ini jauh melampaui gaji banyak profesi bergelar sarjana, termasuk guru dan tenaga kesehatan. Penceramah Hilmi Firdausi, yang akrab disapa Gus Hilmi, ikut menyoroti lewat unggahannya, menyatakan kekhawatiran para guru dan nakes beralih profesi menjadi pengupas bawang jika upah sebesar itu benar adanya.

Membandingkan dengan Harga Bawang di Pasar

Kejanggalan makin terasa ketika angka itu dibandingkan dengan harga jual bawang di pasar. Harga bawang merah di tingkat konsumen umumnya berkisar puluhan ribu rupiah per kilogram, jauh dari angka 700 ribu untuk sekadar mengupasnya. Sejumlah warganet menghitung ongkos kupas versus harga jual komoditasnya, dan mempertanyakan di mana letak keuntungan pemilik bawang jika benar ongkos kupasnya melampaui harga jual barangnya sendiri. Ada pula yang menyoroti kebutuhan bahan baku bawang goreng, yang membutuhkan sekitar 3,5 hingga 4 kilogram bawang mentah untuk menghasilkan satu kilogram bawang goreng, membuat perhitungan upah itu makin sulit dinalar secara ekonomi.

Kemungkinan Salah Ucap atau Salah Kutip Angka

Menariknya, sejumlah pemberitaan media justru mengutip angka yang berbeda. Salah satu laporan menyebut upah Susanah sebagai buruh pengupas bawang sekitar Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu. Selisih tiga digit ini menimbulkan dugaan bahwa yang terjadi adalah slip lidah saat pidato, sebuah angka kecil yang terucap dengan tambahan kata "ribu" yang tak seharusnya ada. Angka Rp700 hingga Rp1.500 per kilogram sebenarnya jauh lebih realistis dan mendekati upah lazim buruh harian pengupas bawang di lapangan. Namun karena pidato kenegaraan disiarkan luas dan naskahnya sudah tercatat resmi menyebut "700 ribu rupiah per kilogram", kesalahan sekecil apa pun langsung terekam dan sulit ditarik kembali begitu viral.

Kenapa Detail Kecil Bisa Jadi Sorotan Besar

Pidato kenegaraan seharusnya menjadi ruang menyampaikan capaian dan kondisi riil masyarakat dengan data yang akurat. Ketika angka yang disampaikan tidak masuk akal secara matematis, kredibilitas keseluruhan pesan ikut dipertanyakan, meski niat awalnya menyoroti keberhasilan program bantuan sosial bagi warga seperti Susanah. Warganet pun meminta agar tim penyusun naskah pidato lebih teliti memverifikasi data lapangan sebelum disampaikan ke publik, mengingat forum pidato kenegaraan disaksikan jutaan pasang mata dan telinga.

Antara Kritik dan Substansi yang Terlupakan

Di tengah ramainya perbincangan soal angka janggal ini, substansi asli pidato, yakni kisah Susanah sebagai penerima manfaat Program Keluarga Harapan yang berjuang menjaga pendidikan anak-anaknya lewat pekerjaan harian, justru nyaris tenggelam. Warganet lebih sibuk membahas kalkulasi gaji fantastis ketimbang esensi program bantuan sosial yang sebenarnya ingin ditonjolkan. Fenomena ini menunjukkan betapa satu angka yang keliru bisa menggeser fokus perhatian publik dari pesan utama yang ingin disampaikan.

Kalau satu angka salah ucap saja bisa menggeser fokus publik dari cerita seorang ibu yang berjuang menghidupi keluarganya, seberapa hati-hati seharusnya kita membaca sebuah pidato sebelum ikut menghakiminya?

Penulis: Muhammad Jazuli

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Rp700 Ribu per Kg Kupas Bawang, Blunder atau Sekadar Salah Ucap?
  • Rp700 Ribu per Kg Kupas Bawang, Blunder atau Sekadar Salah Ucap?
  • Rp700 Ribu per Kg Kupas Bawang, Blunder atau Sekadar Salah Ucap?
  • Rp700 Ribu per Kg Kupas Bawang, Blunder atau Sekadar Salah Ucap?
  • Rp700 Ribu per Kg Kupas Bawang, Blunder atau Sekadar Salah Ucap?
  • Rp700 Ribu per Kg Kupas Bawang, Blunder atau Sekadar Salah Ucap?
Posting Komentar