Nalarmerdeka.com – Bayangkan sungai terpanjang di Indonesia, yang selama ini jadi urat nadi jutaan orang Kalimantan, kini dasarnya bisa kita injak. Di Sanggau, warga berbondong-bondong datang hanya untuk melihat pasir Sungai Kapuas yang biasanya tertutup air. Di Kapuas Hulu, ribuan ikan mati mengering di lumpur yang retak. Sementara itu, di langit yang sama, titik panas terus bertambah — BNPB mencatat lebih dari seribu titik dalam beberapa pekan terakhir. Dua krisis ini terjadi berbarengan, dan kita perlu bertanya: kebetulan, atau akibat dari satu akar yang sama?
Air dan Api Muncul dari Sebab yang Sama
Kita sering memisahkan berita kekeringan dan berita karhutla seolah dua topik berbeda. Padahal keduanya lahir dari kondisi yang identik: musim kemarau panjang yang diperparah El Niño, ditambah kondisi lahan yang sudah kehilangan daya tahannya. BMKG sendiri menyebut kondisi iklim kering tahun ini membuat lahan jadi jauh lebih mudah tersulut. Tapi kemarau bukan hal baru bagi Kalimantan. Yang berubah adalah daya tahan ekosistemnya — dan itu bukan urusan langit semata.
Lahan gambut yang dulunya menyimpan air seperti spons raksasa, kini banyak yang sudah dibuka untuk perkebunan. Begitu gambut kehilangan tutupan alaminya, ia berhenti jadi penyimpan air dan berubah jadi bahan bakar. Saat kemarau datang, gambut kering inilah yang jadi titik nyala paling mudah. Ini menjelaskan kenapa Kalimantan Barat, bersama Kalimantan Tengah, konsisten jadi provinsi dengan titik panas tertinggi setiap musim kering tiba.
Sungai yang Kehilangan Cadangannya
Sungai Kapuas tidak tiba-tiba kering dalam semalam. Penyusutannya adalah akumulasi dari berkurangnya tangkapan air di hulu — kawasan hutan dan gambut yang seharusnya menahan air hujan lalu melepaskannya perlahan sepanjang tahun. Ketika kawasan tangkapan ini menyusut akibat deforestasi dan alih fungsi lahan, sungai kehilangan cadangan alaminya. Hasilnya terlihat jelas hari ini: debit Kapuas anjlok drastis, bahkan memicu intrusi air laut di Pontianak sampai air PDAM berubah payau.
Di Kubu Raya, dampaknya makin nyata. PDAM Tirta Raya kesulitan mengambil air baku karena sungai mendangkal, sementara cadangan air hujan warga sudah kering total. Artinya, dua sumber air utama — sungai dan hujan — sama-sama menipis di waktu bersamaan. Warga yang selama ini punya alternatif kini terjebak tanpa pilihan.
Respons Darurat yang Terkunci oleh Krisis Itu Sendiri
Pemerintah sudah bergerak dengan Operasi Modifikasi Cuaca, menyemai awan untuk memancing hujan buatan di titik-titik krisis. Tapi ada ironi di sini: OMC hanya efektif kalau ada awan potensial untuk disemai. Semakin ekstrem kemarau, semakin kecil peluang teknis untuk menjalankan operasi ini. Pemerintah sendiri mengakui, jendela peluang OMC berikutnya baru terbuka menjelang akhir Agustus — sementara krisis sudah berjalan sejak awal bulan.
Pola ini berulang tiap tahun. Kita baru bergerak masif ketika titik api sudah meledak jadi ratusan dalam sehari, ketika asap sudah mengganggu penerbangan dan sekolah diliburkan. Padahal peringatan dini dari BMKG soal potensi karhutla sudah keluar jauh sebelum kondisi memburuk. Kesenjangan antara peringatan dan tindakan inilah yang perlu kita bedah lebih dalam — bukan cuma menyalahkan cuaca.
Dampak yang Tidak Berhenti di Batas Provinsi
Asap dari Kalimantan Barat sudah tercium sampai Sarawak, Malaysia, dan mulai jadi sorotan media di sana. Ini mengingatkan kita bahwa karhutla bukan cuma persoalan lokal — ia jadi isu diplomatik yang berulang setiap tahun antara Indonesia dan negara tetangga. Sementara itu, kualitas udara di beberapa kota Kalimantan sempat menyentuh level berbahaya, memicu lonjakan kasus ISPA di masyarakat.
Kita sedang melihat rantai dampak yang saling menyambung: lahan gambut yang rusak memicu kekeringan sekaligus karhutla, karhutla memicu krisis kesehatan dan diplomatik, dan krisis air memaksa masyarakat bergantung pada sumber yang kualitasnya makin menurun. Satu akar masalah, banyak cabang krisis.
Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Hadapi
Kalau kita mau jujur, yang sedang diuji bukan hanya ketahanan sungai atau hutan Kalimantan, tapi ketahanan sistem tata kelola lahan kita sendiri. Kemarau akan selalu datang — itu siklus alam yang tak bisa kita hentikan. Tapi seberapa parah dampaknya, itu banyak ditentukan oleh keputusan manusia bertahun-tahun sebelumnya: izin konsesi, alih fungsi gambut, dan kesiapan mitigasi yang sering kalah cepat dibanding kerusakan yang terjadi.
Sungai Kapuas yang mengering bukan sekadar pemandangan viral untuk konten media sosial. Ia adalah indikator, bukti material, dari akumulasi keputusan yang selama ini jarang kita pertanyakan secara serius.
Setiap tahun kita menonton siklus yang sama: kemarau datang, titik api naik, sungai menyusut, lalu semua mereda begitu hujan turun — sampai musim kering berikutnya tiba. Pertanyaannya, apakah kita akan terus memperlakukan ini sebagai bencana musiman yang harus ditunggu dan ditangani setelah terjadi? Atau sudah saatnya kita menuntut evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lahan yang jadi akar dari dua krisis ini sekaligus?
Penulis: Muhammad Jazuli
