![]() |
Ilustrasi dari refleksi tentang kemerdekaan yang dirayakan bersama, tetapi belum tentu dirasakan secara setara oleh semua orang. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Bendera yang sama berkibar dari Sabang sampai Merauke hari ini. Lomba panjat pinang, lagu kebangsaan, dan seragam merah putih jadi pemandangan seragam di seluruh negeri. Tapi di balik keseragaman itu, kita perlu jujur bertanya: apakah kemerdekaan yang dirayakan hari ini benar-benar dirasakan sama oleh semua orang?
Merdeka di Atas Kertas, Belum Tentu di Kehidupan Nyata
Secara hukum, kita memang merdeka sejak 17 Agustus 1945. Tidak ada lagi penjajah asing yang menduduki tanah air, dan kita bebas menentukan nasib sendiri sebagai bangsa. Tapi kemerdekaan bukan cuma soal bebas dari penjajahan fisik. Ada dimensi lain yang sering luput dari perayaan seremonial: kemerdekaan dari kemiskinan, dari ketimpangan akses pendidikan, dari kesulitan mendapatkan pekerjaan layak. Bagi sebagian orang, dimensi-dimensi ini masih jauh dari kata selesai.
Kemerdekaan yang Berbeda di Setiap Kelas Sosial
Coba bandingkan cara seorang anak di kota besar merayakan 17 Agustus dengan anak di daerah 3T, tertinggal, terluar, dan terdepan. Yang satu mungkin mengikuti lomba di sekolah dengan fasilitas lengkap, sementara yang lain harus menyeberangi sungai untuk sampai ke sekolah, jika sekolahnya masih berdiri. Buruh harian yang penghasilannya tidak menentu setiap hari juga merayakan kemerdekaan dengan cara berbeda dari pegawai bergaji tetap. Bendera yang dikibarkan mungkin sama, tapi realitas hidup di baliknya jauh dari seragam.
Kritik Bukan Berarti Tidak Cinta Tanah Air
Ada anggapan keliru bahwa mempertanyakan makna kemerdekaan sama dengan tidak menghargai jasa pahlawan atau tidak nasionalis. Padahal justru sebaliknya. Kritik yang jujur terhadap kondisi bangsa adalah bentuk kepedulian, bukan pengkhianatan. Pendiri bangsa berjuang bukan supaya generasi berikutnya diam dan puas dengan seremoni tahunan, melainkan supaya cita-cita kemerdekaan yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan keadilan sosial, benar-benar terwujud bagi semua warga negara tanpa terkecuali.
Merdeka Seharusnya Jadi Kerja Bersama, Bukan Sekadar Perayaan
Kemerdekaan bukan proyek yang selesai begitu proklamasi dibacakan pada 1945. Ia adalah proses berkelanjutan yang butuh kerja nyata setiap tahun, bukan cuma upacara dan lomba tujuh belasan. Ketika sebagian warga masih berjuang untuk kebutuhan dasar, sementara sebagian lain menikmati kemudahan penuh, artinya pekerjaan rumah bangsa ini belum tuntas. Merayakan kemerdekaan seharusnya juga jadi momentum mengingat siapa saja yang belum sepenuhnya merasakannya, bukan sekadar seremoni yang berlalu begitu saja setiap 17 Agustus.
Kalau kemerdekaan yang kita rayakan hari ini ternyata belum dirasakan sama oleh semua orang, pantaskah kita berhenti di perayaan saja tanpa mempertanyakan apa yang masih perlu diperjuangkan?
Penulis: Muhammad Jazuli
