Naar de Republiek Indonesia: Republik yang Dibayangkan Sebelum Ada Namanya

 

Ilustrasi dari gagasan Tan Malaka tentang republik Indonesia yang dibayangkan dan diperjuangkan jauh sebelum negara itu berdiri. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Bayangkan menulis cetak biru sebuah negara, padahal negara itu belum punya nama resmi dan belum diakui siapa pun. Itulah yang dilakukan Tan Malaka lewat Naar de Republiek Indonesia, ditulis di pengasingan pada usia 27 tahun. Tiga tahun sebelum Sumpah Pemuda menyatukan istilah "Indonesia" secara politik, ia sudah menuliskan bentuk negara yang akan lahir.

Lahir dari Pengasingan di Kanton

Buku ini ditulis Tan Malaka di Kanton, Tiongkok, pada 1925, saat ia menjabat sebagai perwakilan Komintern untuk Asia Timur setelah diusir dari Hindia Belanda. Edisi pertamanya terbit di Kanton pada April 1925, disusul edisi kedua di Tokyo pada Desember tahun yang sama. Ia sengaja menulisnya dalam bahasa Belanda, bahasa yang paling dikuasai para pelajar Indonesia kala itu, dengan harapan buku ini bisa menjangkau dan menggerakkan kalangan terpelajar. Dalam pengantarnya, Tan Malaka menyebut penulisan buku ini sebagai caranya tetap mengabdi pada rakyat, meski raganya jauh dari tanah air dan harapannya pulang telah ditolak pemerintah kolonial.

Isi yang Jauh Melampaui Zamannya

Secara isi, buku ini memaparkan analisis politik dan memberi arahan strategis bagi perjuangan revolusioner menuju Republik Indonesia. Yang membuatnya istimewa bukan sekadar isinya, melainkan momentum penulisannya. Saat pemikir dan pejuang lain masih berkutat pada gagasan persatuan atau sebatas kemerdekaan, Tan Malaka sudah melangkah lebih jauh, membayangkan bentuk konkret negara yang akan berdiri: sebuah republik. Karena buku inilah, Muhammad Yamin kelak menjulukinya "Bapak Republik Indonesia", disandingkan dengan George Washington yang merancang konsep republik Amerika Serikat jauh sebelum negaranya merdeka.

Buku Kecil yang Jadi Pegangan Tokoh Besar

Meski tampil sederhana dan sempat penuh kesalahan cetak pada edisi awalnya, pengaruh buku ini jauh melampaui ukuran fisiknya. Naar de Republiek Indonesia diketahui menjadi salah satu bacaan politik yang dipegang tokoh-tokoh pergerakan, termasuk Sukarno. Sukarni bahkan disebut bertahun-tahun membaca dan mendalami pemikiran Tan Malaka lewat karya ini. Ironisnya, ketika momen proklamasi 17 Agustus 1945 akhirnya tiba, konseptor gagasan republik ini justru tak dilibatkan langsung dalam prosesnya, sebuah ironi yang terus membayangi kisah hidup Tan Malaka.

Kenapa Buku Ini Masih Layak Dibaca

Naar de Republiek Indonesia bukan sekadar dokumen sejarah yang usang. Buku ini adalah bukti bahwa gagasan besar sering lahir jauh sebelum situasi mengizinkannya terwujud. Bagi siapa pun yang ingin memahami akar pemikiran republik di Indonesia, buku ini jadi rujukan penting, menunjukkan bahwa sosok yang justru sering dilupakan sejarah bangsanya sendiri adalah orang yang pertama kali berani membayangkan bentuk negara ini secara utuh.

Kalau gagasan sebesar konsep republik saja bisa lahir dari pengasingan dan nyaris dilupakan sejarah, berapa banyak pemikiran penting lain yang mungkin belum sempat kita ketahui?

Penulis: Muhammad Jazuli

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Naar de Republiek Indonesia: Republik yang Dibayangkan Sebelum Ada Namanya
  • Naar de Republiek Indonesia: Republik yang Dibayangkan Sebelum Ada Namanya
  • Naar de Republiek Indonesia: Republik yang Dibayangkan Sebelum Ada Namanya
  • Naar de Republiek Indonesia: Republik yang Dibayangkan Sebelum Ada Namanya
  • Naar de Republiek Indonesia: Republik yang Dibayangkan Sebelum Ada Namanya
  • Naar de Republiek Indonesia: Republik yang Dibayangkan Sebelum Ada Namanya
Posting Komentar