![]() |
| Ilustrasi dari gerakan masyarakat Indonesia yang merefleksikan perjalanan perlawanan dari belenggu kolonial menuju ruang-ruang perjuangan di jalanan reformasi. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli |
Nalarmerdeka.com – Setiap kali kita melihat massa turun ke jalan hari ini, sebenarnya kita sedang menyaksikan pengulangan pola yang sudah berlangsung lebih dari satu abad. Gerakan masyarakat Indonesia bukan fenomena baru yang lahir dari media sosial. Ia punya akar panjang, dimulai jauh sebelum negara ini merdeka, dan terus berevolusi mengikuti zaman. Memahami sejarahnya membantu kita melihat bahwa suara rakyat yang bergerak bersama selalu jadi kekuatan yang menentukan arah bangsa ini.
Benih Pergerakan di Zaman Kolonial
Gerakan masyarakat modern Indonesia biasa ditandai lahirnya Boedi Oetomo pada 1908, organisasi yang awalnya berfokus pada pendidikan dan kebudayaan Jawa. Meski cakupannya masih terbatas, organisasi ini membuka jalan bagi munculnya kesadaran kolektif bahwa rakyat pribumi bisa berorganisasi secara modern, bukan cuma bergerak sporadis seperti perlawanan-perlawanan fisik sebelumnya.
Setelah itu, gerakan mulai meluas dan mengambil bentuk yang lebih tajam. Sarekat Islam lahir sebagai gerakan dagang sekaligus keagamaan yang berkembang jadi kekuatan massa terbesar saat itu. Indische Partij yang digagas Tiga Serangkai secara terang-terangan menuntut kemerdekaan, jauh lebih radikal dibanding organisasi sebelumnya. Pola ini menunjukkan sesuatu yang penting: gerakan rakyat Indonesia sejak awal selalu bergerak dari kesadaran lokal menuju tuntutan yang makin luas dan berani.
Sumpah Pemuda dan Konsolidasi Gerakan Nasional
Titik balik penting terjadi pada 1928, ketika berbagai organisasi pemuda kedaerahan sepakat melebur kesadaran mereka lewat Sumpah Pemuda. Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah bukti bahwa gerakan yang tadinya terpecah berdasarkan etnis dan kedaerahan, berhasil dikonsolidasikan jadi satu identitas kolektif: bangsa Indonesia.
Konsolidasi ini yang kemudian jadi modal sosial penting menjelang proklamasi kemerdekaan. Gerakan bawah tanah pemuda pada masa pendudukan Jepang, termasuk peristiwa Rengasdengklok, menunjukkan bahwa tekanan dari kelompok muda dan masyarakat sipil bisa mempercepat keputusan politik besar — bahkan mendesak para pemimpin senior untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.
Gerakan Mahasiswa sebagai Kekuatan Penentu 1966 dan 1998
Setelah kemerdekaan, gerakan masyarakat tidak berhenti. Ia justru menemukan aktor baru: mahasiswa. Pada 1966, aksi mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia mendesak pembubaran PKI dan perbaikan ekonomi, mendorong lahirnya Orde Baru menggantikan Orde Lama.
Ironisnya, tiga dekade kemudian, kekuatan yang sama — gerakan mahasiswa — justru jadi motor utama yang meruntuhkan rezim yang lahir dari gerakan 1966 itu sendiri. Krisis moneter 1997 memicu gelombang protes mahasiswa di berbagai kota, memuncak pada pendudukan gedung DPR/MPR Mei 1998. Tragedi Trisakti, di mana empat mahasiswa gugur ditembak aparat, jadi titik pemantik amarah publik yang tak lagi bisa dibendung. Presiden Soeharto akhirnya mundur pada 21 Mei 1998, mengakhiri 32 tahun kekuasaan Orde Baru.
Pola berulang ini penting untuk kita catat. Gerakan masyarakat Indonesia punya kapasitas membangun sekaligus meruntuhkan kekuasaan, tergantung sejauh mana kekuasaan itu masih dianggap merepresentasikan kepentingan rakyat.
Era Reformasi: Gerakan yang Makin Beragam
Pasca-1998, bentuk gerakan masyarakat berubah drastis. Ia tidak lagi didominasi tunggal oleh mahasiswa, tapi meluas ke berbagai kelompok kepentingan: buruh yang menuntut kenaikan upah dan revisi undang-undang ketenagakerjaan, kelompok lingkungan yang menolak proyek tambang dan deforestasi, hingga masyarakat adat yang memperjuangkan hak atas tanah leluhur mereka.
Kebebasan berorganisasi pasca-Reformasi juga melahirkan gelombang organisasi masyarakat sipil baru — dari lembaga swadaya masyarakat, aliansi mahasiswa lintas kampus, hingga gerakan berbasis isu spesifik seperti antikorupsi dan hak digital. Gerakan #ReformasiDikorupsi pada 2019, misalnya, menyatukan mahasiswa dan elemen sipil menolak revisi UU KPK yang dianggap melemahkan pemberantasan korupsi.
Gerakan di Era Digital
Perkembangan teknologi mengubah cara gerakan masyarakat terbentuk dan menyebar. Kalau dulu konsolidasi butuh pertemuan fisik dan penyebaran pamflet, kini tagar di media sosial bisa menghimpun dukungan lintas kota dalam hitungan jam. Gerakan-gerakan kontemporer sering lahir dari viralitas digital sebelum akhirnya mengkristal jadi aksi nyata di jalanan.
Namun perubahan bentuk ini tidak mengubah esensinya. Sama seperti Boedi Oetomo yang lahir dari kesadaran kolektif terbatas lalu meluas, gerakan digital hari ini juga sering bermula dari satu kasus spesifik yang kemudian membesar menjadi tuntutan struktural yang lebih luas. Media berubah, tapi logika pergerakannya tetap sama: keresahan bersama yang menemukan momentum untuk terorganisir.
Benang Merah Satu Abad Pergerakan
Kalau kita tarik garis dari 1908 sampai hari ini, ada satu pola yang konsisten. Gerakan masyarakat Indonesia selalu lahir ketika ada kesenjangan antara harapan rakyat dan kenyataan yang dihadirkan kekuasaan. Bentuknya berubah — dari organisasi kedaerahan, gerakan mahasiswa, sampai gerakan berbasis tagar — tapi motivasinya tetap sama: mendesak agar suara rakyat didengar oleh mereka yang memegang kekuasaan.
Sejarah juga mengajarkan kita bahwa gerakan yang berhasil selalu punya satu kesamaan: kemampuan mengonsolidasikan kepentingan yang tadinya terpisah-pisah menjadi satu tuntutan bersama. Sumpah Pemuda melakukannya lintas etnis. Reformasi 1998 melakukannya lintas kampus dan kelas sosial. Pertanyaannya untuk gerakan-gerakan hari ini: sudahkah mereka menemukan konsolidasi yang sama kuatnya?
Lebih dari satu abad sejak Boedi Oetomo berdiri, gerakan masyarakat Indonesia terus berubah bentuk tapi tidak pernah benar-benar padam. Setiap generasi punya cara sendiri untuk menyuarakan keresahannya — dari organisasi formal, aksi jalanan, sampai gerakan digital. Kalau sejarah mengajarkan bahwa kekuasaan yang tak lagi merepresentasikan rakyat akan selalu berhadapan dengan gerakan yang menuntut perubahan, pertanyaannya sekarang: pelajaran apa dari satu abad ini yang paling relevan untuk gerakan masyarakat kita hari ini?
Penulis: Muhammad Jazuli
