Scroll untuk melanjutkan membaca

Kapan dan Bagaimana Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Berdiri?

 

Ilustrasi gedung Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.
Ilustrasi editorial yang merepresentasikan bangunan Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang sebagai simbol perjalanan sejarah, perkembangan pendidikan tinggi, dan lahirnya sebuah institusi akademik. / Ilustrasi: Muhammad Jazuli

Nalarmerdeka.com – Ada sesuatu yang berbeda dari slogan yang dibawa Universitas Tribhuwana Tunggadewi dibandingkan banyak kampus lain: "Pendidikan Tinggi untuk Semua." Bukan "kampus terbaik", bukan "menghasilkan lulusan unggulan", bukan pula "kampus riset kelas dunia." Tapi "untuk semua" — sebuah pernyataan demokratis tentang untuk siapa pendidikan tinggi ini dimaksudkan. Dan ketika kita membaca sejarah bagaimana UNITRI tumbuh — dari pertemuan para pendiri di 1987, melewati dua sekolah tinggi yang berjuang mendapat akreditasi, menempati kampus sewaan bertahun-tahun sebelum akhirnya punya bangunan sendiri — slogan itu bukan sekadar kalimat pemasaran. Ia adalah cerminan dari filosofi yang mendasari seluruh perjalanannya.

1987: Mimpi yang Dimulai Sebelum Ada Gedungnya

Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) didirikan oleh Yayasan Pendidikan Bhakti Nusantara Malang, melalui dua tahap. Pendirian tahap pertama pada tanggal 14 Desember 1987, sedangkan pendirian tahap kedua dilakukan pada tahun 2001. Pada tahun 1988 UNITRI mulai melakukan kegiatan persiapan pelaksanaan pendidikan di Jalan Besar Ijen 90-92 Malang.

Desember 1987. Indonesia masih di era Orde Baru dengan kendala birokrasi yang tidak ringan untuk mendirikan institusi pendidikan baru. Tapi sekelompok orang yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Bhakti Nusantara Malang sudah memutuskan bahwa Malang — kota yang sudah punya beberapa kampus besar — masih butuh satu lagi: kampus yang berpijak pada komitmen untuk membuka akses pendidikan tinggi seluas mungkin.

Alamat pertamanya adalah Jalan Besar Ijen 90-92 Malang — salah satu jalan paling ikonik di Kota Malang, yang dikenal dengan deretan pohon besar dan suasana kolonial yang masih terasa. Di sana, selama 1988–1989, kegiatan bukan menerima mahasiswa tapi mempersiapkan seluruh infrastruktur yang diperlukan. Selama kurun waktu 1988–1989, kegiatan UNITRI mempersiapkan perangkat keras dan perangkat lunak pendidikan tinggi tanpa menerima mahasiswa baru sambil menunggu ijin operasional dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dua tahun mempersiapkan tanpa menerima satu pun mahasiswa. Itu adalah komitmen yang tidak mudah — mempertahankan semangat ketika belum ada yang bisa ditunjukkan sebagai bukti kemajuan.

1990: STIPER Tribhuwana dan Mahasiswa Pertama

Pintu pertama akhirnya terbuka. Berdasarkan SK Mendikbud No.056/0/1990 tanggal 05 Januari 1990, sebagai tahap awal menuju operasional UNITRI, Yayasan Pendidikan Bhakti Nusantara memperoleh ijin dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyelenggarakan Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Tribhuwana dengan Status Terdaftar untuk program studi Agribisnis, Arsitektur Pertamanan, Teknologi Industri Pertanian, dan Produksi Ternak.

Empat program studi sekaligus — dan semuanya di bidang pertanian dan lingkungan. Pilihan ini bukan kebetulan. Di era 1990-an, Indonesia sedang bergulat dengan pertanyaan tentang ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, dan pertanian yang berkelanjutan. STIPER Tribhuwana hadir sebagai respons terhadap kebutuhan yang sangat nyata itu.

Tidak lama kemudian, sisi ekonomi juga mendapat perhatian. Yayasan juga mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tribhuwana untuk melengkapi STIPER. Dua sekolah tinggi yang saling melengkapi — pertanian dan ekonomi — mencerminkan visi bahwa pendidikan tinggi yang komprehensif tidak bisa hanya berfokus pada satu aspek saja.

1997: Akhirnya Punya Rumah Sendiri

Selama bertahun-tahun, STIPER dan STIE Tribhuwana beroperasi di berbagai lokasi sewa. Itu adalah kondisi yang umum bagi institusi pendidikan baru yang belum punya modal untuk membangun gedung sendiri — tapi juga kondisi yang tidak ideal untuk memberikan pengalaman kampus yang konsisten bagi mahasiswanya.

Berkat upaya keras Yayasan Pendidikan Bhakti Nusantara, sejak Bulan Agustus 1997 STIPER dan STIE Tribhuwana menempati kampus milik sendiri di Jalan Telaga Warna Blok C, Tlogomas Malang, yang diresmikan penggunaannya pada tanggal 13 September 1997 oleh Gubernur Jawa Timur, H.M Basofi Sudirman.

13 September 1997. Gubernur Jawa Timur hadir meresmikan kampus baru di Tlogomas — sebuah pengakuan dari pemerintah daerah terhadap peran yang sudah dimainkan institusi ini selama tujuh tahun sejak STIPER berdiri. Tlogomas, kawasan di barat daya Kota Malang yang kemudian terus berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan kota, menjadi rumah permanen yang memungkinkan UNITRI membangun identitas fisiknya.

Lokasi Jalan Telaga Warna itu masih menjadi alamat UNITRI hingga hari ini — sebuah konsistensi geografis yang mencerminkan stabilitas institusional yang terus dibangun selama hampir tiga dekade.

2 Agustus 2001: Transformasi Menjadi Universitas

Babak paling penting dalam sejarah UNITRI terjadi di awal milenium baru. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 113/D/O/2001 tanggal 2 Agustus 2001, STIPER Tribhuwana dan STIE Tribhuwana dikembangkan menjadi Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) dengan 13 Program Studi, terdiri dari 12 program studi Sarjana (S-1) dan 1 program Diploma III.

Dari dua sekolah tinggi menjadi satu universitas dengan 13 program studi — lompatan yang sangat signifikan. Program studi yang dibuka mencakup: Agribisnis, Arsitektur Pertamanan, Teknologi Industri Pertanian, Budidaya Pertanian, Produksi Ternak, Nutrisi dan Makanan Ternak dari sisi pertanian; Manajemen, Akuntansi, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Administrasi Niaga dari sisi ekonomi dan administrasi; serta Teknik Sipil, Teknik Kimia, dan program Diploma III Akuntansi.

Keragaman program studi itu mencerminkan ambisi yang lebih besar: bukan hanya kampus pertanian, bukan hanya kampus ekonomi, tapi sebuah universitas yang bisa menjawab kebutuhan pendidikan yang lebih luas dari masyarakat sekitarnya.

Nama Tribhuwana Tunggadewi: Pilihan yang Sarat Makna

Nama universitas ini tidak dipilih secara sembarangan. Tribhuwana Tunggadewi adalah nama Ratu Majapahit yang memerintah pada abad ke-14 — salah satu pemimpin perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Ia adalah ibu dari Hayam Wuruk, raja yang di bawah kepemimpinannya Majapahit mencapai puncak kejayaannya, dan ia memerintah bersama Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa.

Memilih nama seorang ratu perempuan dari peradaban besar Nusantara untuk sebuah universitas adalah pernyataan tentang nilai-nilai yang ingin diemban: warisan kejayaan Nusantara, kepemimpinan yang tidak harus laki-laki, dan koneksi dengan akar sejarah yang dalam. Di kota Malang yang sangat dekat dengan warisan Kerajaan Singasari dan Majapahit, nama itu juga adalah penghormatan terhadap identitas lokal yang sangat kuat.

2011: Konsolidasi Kelembagaan yang Memperkuat Pondasi

Satu dekade setelah menjadi universitas, UNITRI melakukan konsolidasi kelembagaan yang penting. Pada tanggal 30 November 2011 berdasarkan SK dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, nomor: AHU-8032.AH.01.04 tahun 2011, yayasan yang menaungi Universitas Tribhuwana Tunggadewi memperoleh Pengesahan Akta Pendirian dengan nama Yayasan Bina Patria Nusantara Malang, sesuai Akta Nomor 32 tanggal 20 Juli 2011.

Pergantian nama yayasan dari Yayasan Pendidikan Bhakti Nusantara menjadi Yayasan Bina Patria Nusantara adalah bagian dari penyesuaian terhadap tuntutan perundang-undangan yang berlaku. Pengelolaan oleh YBPN tersebut merupakan bentuk alih kelola dari Badan Pembina Pendidikan Bakti Nusantara (BPPBN) yang mengelola UNITRI sejak tahun 2001 sampai dengan 2011. Alih kelola tersebut dilakukan seiring dengan tuntutan perundang-undangan yang berlaku.

Konsolidasi kelembagaan semacam ini — meski tampak administratif dan membosankan — adalah tanda kedewasaan institusional yang sesungguhnya. Universitas yang mampu bertransisi melalui perubahan regulasi dan kepemimpinan yayasan tanpa kehilangan momentum adalah universitas yang sudah membangun sistem yang cukup kuat untuk tidak bergantung pada satu atau dua figur saja.

UNITRI Hari Ini: Melanjutkan Janji "Pendidikan untuk Semua"

Hari ini, UNITRI berdiri di Jalan Telaga Warna Tlogomas, Lowokwaru, Kota Malang — alamat yang sama sejak 1997 — dengan akreditasi B dari BAN-PT. Dari 13 program studi awal, UNITRI telah berkembang dengan menambahkan berbagai program studi baru yang mengikuti kebutuhan zaman, termasuk program studi ilmu komunikasi yang mahasiswanya dikenal aktif di berbagai kegiatan kreatif.

Salah satu karakteristik UNITRI yang paling menonjol dan yang paling mencerminkan slogan "Pendidikan Tinggi untuk Semua" adalah komposisi mahasiswanya yang sangat beragam — banyak mahasiswa dari luar Jawa, dari berbagai pelosok Indonesia, yang menemukan di UNITRI sebuah kampus yang terjangkau dan terbuka. Itu bukan kebetulan — itu adalah hasil dari filosofi yang sudah ditanamkan sejak yayasan pertama kali berdiri pada 1987.

Dari persiapan tanpa mahasiswa di Jalan Besar Ijen 1988, melewati gedung sewaan bertahun-tahun, hingga kampus di Tlogomas yang diresmikan gubernur dan terus berkembang hingga sekarang — perjalanan UNITRI adalah bukti bahwa institusi yang dibangun di atas komitmen yang jelas, bukan sekadar ambisi yang besar, punya fondasi yang lebih kuat untuk bertahan. Pertanyaannya hari ini: apakah slogan "Pendidikan Tinggi untuk Semua" masih benar-benar terasa dalam setiap keputusan yang diambil institusi ini?

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Kapan dan Bagaimana Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Berdiri?
  • Kapan dan Bagaimana Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Berdiri?
  • Kapan dan Bagaimana Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Berdiri?
  • Kapan dan Bagaimana Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Berdiri?
  • Kapan dan Bagaimana Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Berdiri?
  • Kapan dan Bagaimana Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang Berdiri?
Posting Komentar